Orang Tua Wajib Tahu Tanda Daycare Tak Aman dan Berisiko bagi Anak
Willem Jonata April 30, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah kebutuhan orang tua bekerja, daycare sering menjadi solusi utama dalam pengasuhan anak.

Namun, tidak semua daycare memberikan lingkungan yang aman dan sehat.

Tanpa disadari, pilihan yang kurang tepat justru bisa meningkatkan risiko gangguan tumbuh kembang hingga kekerasan pada anak.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dianggap sepele.

Baca juga: Keluarga Ungkap Perilaku Aneh Balita Korban Kekerasan Daycare Little Aresha: Pakai Baju Nangis

Ia bahkan menyebut kasus kekerasan pada anak sebagai fenomena gunung es.

“Fenomena ini adalah seperti fenomena gunung es yang terlihat kasusnya sedikit, tapi anak yang berisiko terjadi kekerasan pada anak cukup banyak,” ungkapnya pada media briefing virtual, Kamis (30/4/2026). 

Salah satu tanda daycare bermasalah adalah lingkungan yang tidak aman. Mulai dari ruang sempit, fasilitas tidak memadai, hingga tidak adanya sistem pengawasan yang jelas. Ketiadaan pembagian ruang juga menjadi indikator buruk.

Daycare yang tidak memisahkan anak sehat dan sakit berpotensi membuat anak mudah tertular penyakit berulang.

Kondisi ini berdampak pada kesehatan dan perkembangan anak secara keseluruhan.

Masalah lain yang sering terjadi adalah pengasuh yang tidak memiliki kompetensi. Padahal, pengasuh memiliki peran besar dalam membentuk perilaku dan perkembangan anak.

Jika pengasuh tidak memahami psikologi anak atau bersikap otoriter, dampaknya bisa sangat serius.

Anak bisa menjadi takut, tertutup, bahkan mengalami gangguan emosional. Dalam beberapa kasus, anak bahkan menunjukkan perubahan perilaku drastis setelah berada di daycare.

Minim Transparansi, Orang Tua Harus Waspada

Kurangnya transparansi juga menjadi tanda daycare tidak sehat. Jika orang tua tidak diperbolehkan melihat aktivitas anak atau interaksi pengasuh, ini patut dicurigai.

Daycare yang baik justru terbuka dan memberikan akses kepada orang tua untuk memantau.

Selain itu, tidak adanya legalitas juga menjadi masalah serius. Hal ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan potensi pelanggaran standar pengasuhan.

Masalah terbesar dari daycare yang buruk adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar anak. Padahal, pengasuhan harus bersifat menyeluruh, tidak hanya menjaga fisik.

“Filosofinya adalah tetap komprehensif, bukan hanya satu aspek anak dijaga, selesai, tidak, tetap harus dipenuhi apa yang bisa dipenuhi oleh layanan itu terkait dengan bagian-bagian dari kebutuhan dasar dari anak,” jelasnya.

Kebutuhan tersebut meliputi aspek fisik, emosional, sosial, hingga kognitif. Jika salah satu tidak terpenuhi, anak berisiko mengalami gangguan perkembangan.

Risiko terbesar dari daycare yang tidak aman adalah terjadinya kekerasan pada anak.

Dampaknya tidak hanya terlihat secara langsung, tetapi juga jangka panjang. Mulai dari gangguan perilaku, kesulitan sosial, hingga masalah kesehatan mental.

Dalam kasus berat, kekerasan bahkan bisa berujung fatal. Hal ini menunjukkan bahwa memilih daycare bukan keputusan sederhana.

Peran Orang Tua Tetap Kunci

Meski daycare menjadi solusi, tanggung jawab utama tetap ada pada orang tua. Orang tua harus aktif memantau dan memastikan kualitas pengasuhan yang diberikan.

“Orang tua di dalam proses mengasuhkan anaknya tetap harus bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dibutuhkan anak,” tegasnya.

Kesadaran ini penting agar anak tidak hanya “dititipkan”, tetapi benar-benar diasuh dengan baik.

Di era modern, kebutuhan daycare memang tidak terhindarkan. Namun, keselamatan dan kesejahteraan anak harus tetap menjadi prioritas utama.

Mengenali tanda-tanda daycare yang tidak aman menjadi langkah awal untuk melindungi anak dari risiko yang tidak diinginkan.

Karena pada akhirnya, kualitas pengasuhan hari ini akan menentukan kualitas generasi di masa depan.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.