TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Rokok dan tembakau tercatat masuk ke dalam tiga kelompok komoditas makanan dengan pengeluaran terbesar di Kabupaten Banyumas.
Fakta ini merujuk pada data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025 lalu.
Tingkat belanja masyarakat untuk membeli rokok dan tembakau bahkan secara mengejutkan melampaui pengeluaran untuk kebutuhan protein penting seperti telur, daging, dan ikan.
Baca juga: Kuntit Kurir Ekspedisi, Tim Gabungan Amankan 5.600 Batang Rokok Ilegal di Toko Petanahan Kebumen
Survei yang dilakukan oleh BPS Kabupaten Banyumas tersebut menyoroti rata-rata pengeluaran per kapita warga dalam waktu sebulan.
Peringkat pertama pengeluaran tertinggi diduduki oleh makanan dan minuman jadi sebesar Rp212.706 per kapita, disusul komoditas padi-padian di urutan kedua dengan pengeluaran Rp80.088 per kapita. Sementara itu, rokok dan tembakau kokoh bertengger di peringkat ketiga dengan angka pengeluaran mencapai Rp67.597 per kapita.
Sebagai perbandingan miris, komoditas telur dan susu yang padat gizi justru hanya masuk di peringkat keenam dengan rata-rata pengeluaran tiap bulan berkisar Rp36.914 per kapita.
Data mencengangkan tersebut dapat dilihat langsung dari publikasi resmi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas Volume 4 Tahun 2025 dan Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyumas Volume 8 Tahun 2025.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Banyumas, Sito Hatmoko, menjelaskan bahwa rokok memiliki pengaruh besar pada kesehatan, baik terhadap penyakit menular maupun yang tidak menular.
Meskipun rokok sering kali tidak menjadi penyebab kematian langsung, efeknya merusak perlahan. Ia mencontohkan, masyarakat yang sudah mempunyai riwayat penyakit paru-paru maka akan sangat rentan menjadi lebih parah jika kembali terpapar asap rokok.
"Penyakit lainnya seperti TB, itu menular dan asap rokok bisa menularkannya. Biasanya penyakit TB menyerang orang yang daya tahan tubuhnya kurang baik," kata Sito kepada Tribunbanyumas.com.
Saat ditanya apakah kebiasaan merokok memengaruhi angka tengkes atau stunting, Sito membenarkan korelasi tersebut. Ia mengatakan, stunting dipengaruhi oleh banyak faktor pemicu, dan salah satu di antaranya adalah tingkat keterpaparan asap rokok.
Terhadap risiko stunting, pengaruh rokok terbagi menjadi penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab tidak langsung, misalnya, terlihat jelas dari perilaku masyarakat yang lebih memilih membeli rokok dibandingkan menggunakan uang tersebut untuk membelikan telur bagi anaknya.
"Konsumsi rokok ini menurut BPS masih menduduki peringkat lima besar mengalahkan telur. Padahal telur ini merupakan nutrisi atau makanan untuk mencegah stunting," jelasnya menyayangkan kondisi di lapangan.
Sito kemudian membeberkan, untuk penyebab langsungnya, asap rokok berbahaya karena mengandung karbon monoksida yang bisa terikat dengan kuat di dalam hemoglobin darah. Padahal, dalam fase krusial perkembangan anak, faktor yang sangat memengaruhi pertumbuhan optimal adalah keterikatan antara hemoglobin dan oksigen.
"Jadi kalau ada dua yang menempel antara oksigen dan karbon monoksida, maka yang menempel lebih kuat adalah karbon monoksida," paparnya.
Oleh karena itu, menurut Sito, jika ada balita yang hidup berbaur dengan keluarga perokok, maka risiko terjadinya stunting akan jauh lebih besar dibandingkan balita dari keluarga nonperokok. Pengecualian dampak buruk ini hanya berlaku jika aktivitas merokok dilakukan sepenuhnya di luar rumah.
Kemudian, setelah merokok di luar, orang tua harus masuk ke kamar mandi terlebih dahulu, mengganti baju, barulah diizinkan memegang anak mereka.
"Karena secara teori, nikotin ini masih menempel di baju selama lebih dari 3 jam," ungkapnya memungkasi peringatan tersebut. (fba)