SURYA.CO.ID - Terungkap ciri-ciri pelaku pembacokan yang menewaskan Hasan (37) di Jalan Wonokusumo Jaya Baru Gang 2, Pegirian, Semampir, Surabaya, pada Rabu (29/4/2026) pagi.
Kakak kandung Hasan, Hotimah (43) mengatakan, berdasarkan cerita saksi, pelaku yang menghabisi nyawa sang adik diperkirakan empat orang.
Tapi, ada juga yang menyebut cuma dua orang.
Salah satu pelaku berpostur tubuh besar dan satu pelaku lainnya berpostur kurus.
"Katanya orang ada 2. Saya enggak tahu, kan saya ada di sini. Satunya, lemu (gendut). Satunya kurus. Iya ada yang bilang, 4 orang. Tapi aslinya 2 orang boncengan," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di kediamannya RT 15 pada Kamis (30/4/202).
Baca juga: Gelagat Kuli Bangunan Sebelum Tewas Dibacok di Surabaya, Menyapa Malah Diserang, Ucap: Salahku Opo?
Hotimah mengaku pasrah dengan nasib nahas yang dialami oleh sang adik bungsu dari lima bersaudara itu.
Hanya saja ia berharap pihak Polisi bisa segera menangkap para pelaku dan memberi hukuman setimpal.
"Ya pasrah pak, bingung. Sudah takdir adikku. Nasib dia," pungkasnya.
Saksi warga Siswanto (62) menyebut pelaku empat orang.
Setelah beraksi, mereka kabur ke arah timur menyusuri gang sepanjang rel perlintasan kereta api yang membelah permukiman tersebut.
"Pelakunya lari ke arah sana (timur), naik motor. Jumlahnya 4 orang. Iya 2 motor 4 orang," pungkasnya.
Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya AKP Muhammad Prasetyo mengatakan, pihaknya sejak hari kejadian pada Rabu kemarin sudah memeriksa para saksi.
Mulai dari saksi pihak keluarga korban, saksi di lokasi kejadian, dan menghimpun alat bukti rekaman CCTV atau petunjuk lainnya.
Bahkan, personelnya masih melakukan olah TKP hingga Kamis (30/4/2024) siang, guna memburu pelaku dalam kasus penganiayaan dan pembacokan terhadap korban.
"Masih berproses ya. Para saksi sejak kemarin sudah kami periksa. Tim kami masih bekerja sampai saat ini, minta doanya semoga lekas terungkap," ujarnya saat ditemui awak media seusai Konferensi Pers bersama Ditreskrimsus Polda Jatim, di depan Gedung Mahameru Mapolda Jatim, pada Kamis (30/4/2026).
Kasi Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Iptu Suroto mengatakan, korban mengalami luka sobek akibat sabetan senjata tajam pada bagian paha sebelah kanan.
Brang bukti yang diamankan Polisinya, satu termos berisi kopi, dua unit sarung penutup celurit, dan topi.
"Kami masih melakukan penyelidikan. Mohon waktu, semoga lekas terungkap," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com
Menurut Hotimah (43), adiknya itu sempat menatap wajah si pelaku sebelum tragedi itu terjadi.
Diceritakan, pada Rabu (29/4/202) pukul 07.30 WIB, Hasan sedang berjalan kaki sendiri untuk berangkat ke tempat kerjanya.
Dikatakan, selama hampir tiga bulan terakhir, Hasan bekerja sebagai kuli bangunan membantu proses pembangunan rumah miliknya, di Jalan Sidotopo Sekolahan Gang VIII.
• Kronologi Kuli Bangunan Tewas Dibacok di Wonokusumo Jaya Baru Surabaya: Korban Luka Parah
"Biasanya sama temannya. Tapi tadi sendirian," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di kediamannya pada Rabu (2/4/2026).
Hasan berjalan dari Jalan Wonokusumo Jaya Baru Gang 2 menuju ke rel kereta api yang membelah permukiman Kelurahan Pengirian tersebut.
Saat hendak menyeberang rel KA, Hasan sempat melihat ada seorang pria misterius duduk di pinggiran Jalan Sidotopo Sekolahan Gang XII yang berbatasan langsung dengan perlintasan rel.
Posisi Hasan berjalan terbilang dekat dengan posisi pria misterius tersebut.
Kemudian, Hasan sempat menyampaikan ucapan permisi berjalan di dekat pria misterius.
Tak disangka, pria misterius beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu mengeluarkan sebilah celurit dari balik pakaian, dan menyabetkan ke tubuh Hasan.
"Pelaku awalnya duduk duduk di rel. Korban; amit mas. Langsung dibacok," katanya.
Pada momen tersebut, Hotimah mengungkapkan, Hasan sempat berteriak karena merasa kaget dengan aksi penyerangan yang serba mendadak tersebut.
Bahkan, Hasan sempat menanyakan alasan si pria misterius tersebut melukai dirinya.
Lalu, Hasan berlari kembali masuk ke dalam gang yang baru saja dilaluinya, dan terkapar akibat luka parah pada perut.
"Salahku opo mas, kata Hasan. Langsung udah gak ada (tewas)," katanya.
"Enggak ngerti pisan. Iku si amit jarene, saat liwat. Amit Mas, ngene. Langsung ngene. Lah po Mas kok sampeyan nggepok aku, kata warga," tambah Hotimah.
Kabar tewasnya Hasan membuat Hotimah syok.
Hotimah semula mengira adiknya itu, baru saja terlibat kecelakaan tersambar KA yang melintas.
Namun, setelah mendengar kesaksian beberapa warga dan para tetangganya yang menyebut nyawa sang adik ditumbangkan oleh pria misterius yang belum diketahui alasannya.
Tangis Hotimah pun pecah, saat meratapi tubuh sang adik terkapar bersimbah darah ditutupi kain sarung warna cokelat.
"Nah, ada tetangga teriak; mbak Hasan mbak.
Kenopo Hasan, ketabrak sepur ta, kata saya.
Enggak, pokoknya ikut saya, kata tetangga.
Di sana, korban sudah gak ada, ada darahnya. Kaget aku pak, wong aku enggak eroh opo-opo. Enggak ngerti masalah e opo," pungkasnya.
Dikatakan Hotimah, Hasan adalah bungsu dari lima bersaudara. Sedangkan dia urutan ketiga.
Sehari-hari Hasan membantu dia sebagai kuli rumahnya.
"Dia baru tinggal di sini, baru sejak hari raya. Saya suruh bantu saya rewang (kuli bangunan) bangun rumah saya. Sebelum ke sini, korban sempat tinggal di madura dulu. Kemudian ke sini," ujarnya saat ditemui di teras rumah kontrakannya, pada Rabu siang.
Hotimah menyebut adiknya itu pernah bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia selama tujuh tahun.
Pertama, Hasan bekerja selama lima tahun. Kemudian, kembali pulang ke Sampang.
Lalu, kedua, sang adik kembali bekerja sebagai TKI di Malaysia selama dua tahun.
Nah, setelah kembali dua tahun lalu, sang adik pernah bekerja mengikuti sepupunya, sebagai pegawai pengepul besi, di Kabupaten Sidoarjo.
Kemudian, sempat menetap sebentar di rumah Omben Sampang Jatim, lalu kini tinggal dan bekerja bersama dirinya.
"Iya pernah, 2 tahun lalu itu. Tapi dulunya pernah 5 tahun pernah merantau ke Malaysia juga," katanya.
Hotimah tak menampik jika adiknya pernah berkeluarga. Namun, hubungannya kandas dengan sang istri. Mereka sudah berpisah sejak dua tahun lalu.
"Enggak punya anak. Menikah selesai 2 tahun. Sudah pisah (setelah 5 tahun menjalin hubungan pernikahan dengan istri sah)," ungkapnya.
Mengenai sosok sang adik, Hotimah mengakui adiknya memang dikenal pendiam namun humoris tatkala ngobrol dengan kerabat.
Selama tinggal di Surabaya bersama dirinya, sang adik kerapkali menghabiskan waktunya untuk nongkrong bersama para tetangga dan bermain sosmed; TikTok di teras rumah.
"Pendiam dia. Guyon sama saya biasanya. Orangnya baik," katanya.
Selain itu, sang adik juga dikenal rajin beribadah. Setiap baru selesai menunaikan salat fardu, adiknya selalu menyempatkan diri membaca al-qur'an di rumah kontrakan.
Seingat Hotimah, sang adik kerap membaca al-qur'an seusai Salat Subuh dan Salat Maghrib, di dalam kamar rumah kontrakan.
"Biasa ngaji ngaji habis salat. Tadi subuh dia habis ngaji juga. Pokoknya setiap habis salat subuh magrib mengaji dia. Amin, amin khusnul khotimah," ungkapnya.
Sehingga, saat ditanyai perihal permasalahan yang melingkupi sang adik hingga akhirnya menjadi sasaran penganiayaan oleh orang tak dikenal.
Hotimah mengaku tidak terlalu mengetahuinya. Karena selama ini, sang adik tidak pernah bercerita apa pun kepadanya perihal permasalahan yang sedang dialami belakangan ini.
Bahkan, selama ini, sang adik juga tidak pernah terlibat cekcok dengan seseorang hingga diteror beberapa hari sebelumnya.
"Enggak punya musuh. Enggak (soal permasalahan)," pungkasnya.
Beberapa tetangga yang berdekatan rumah kontrakannya mengakui bahwa sosok HN dikenal sebagai pribadi yang baik dan rajin mengaji di dalam kamar kontrakan seusai salat fardu.
"Baik orangnya mas, enggak aneh-aneh. Dia selalu baca al-qur'an. Kami enggak punya fotonya korban," ujar beberapa orang tetangga kamar kosan yang enggak menyebutkan nama saat ditemui TribunJatim.com