TRIBUNWOW.COM - "Iki banmu tak tambal wae yo, tak akali, maneman yen ganti anyar soko bayaranmu kerjo (ini banmu saya tambal ya, sayang kalau diganti baru dari uang kerjamu)," bunyi percakapan dengan Mbah Suparto dengan satu di antara pelanggannya.
Begitu penggalan percakapan yang terjadi pada siang hari menjelang Salat Dhuhur, Senin (6/4/2026).
Dari mulai matahari terbit hingga jelang matahari tenggelam, tubuh renta Mbah Suparto masih dengan gigih mencari nafkah sebagai tukang tambal ban.
Jari jemarinya masih terampil menambal dan membenahi beberapa keluhan warga yang datang ke bengkel sederhana di teras rumahnya.
Dengan telaten dan sabar, Mbah Parto membenahi keluhan-keluhan dari pengguna jasanya mulai dari nambal ban hingga membenarkan keluhan motor yang masih mampu dilakukannya.
Meski tubuh rentanya juga sudah dalam kondisi sakit setelah didiagnosa mengidap Tuberkulosis (TBC).
Tepat 12 tahun lalu, Mbah Parto memiliki cerita kelam di tengah usahanya untuk menunaikan ibadah haji.
Di tengah proses menabungnya melalui seseorang yang bekerja di salah satu bank swasta di Solo, uang sebesar Rp700 ribu.
"Ada karyawan yang bohongi saya Rp700 ribu, tapi saya gak bahas, saya mau ambil bisa tapi enggak. Berat saat itu di tahun 2014 uang sebesar Rp700 ribu, tapi saya nggak mau jangan-jangan," ucap Mbah Parto kepada TribunWow.com.
Alih-alih membalas dan menuntut pelaku, Mbah Parto memilih untuk ikhlas dan memaafkannya.
Padahal saat itu, Mbah Parto mendapatkan dukungan dari seorang pengacara yang mengusulkan jika perkara itu dilaporkan ke kepolisian.
Selain bisa mendapatkan kembali uangnya, Mbah Parto juga bakal menerima uang denda sebesar Rp7 juta.
Namun, hal itu tak diindahkan Mbah Parto dan memilih untuk tak memperkarakannya.
Mbah Parto beranggapan positif jika orang yang membohonginya itu juga tengah dihimpit permasalahan ekonomi sehingga nekat melakukan hal itu.
"Saya ditipu enggak papa saya ikhlas. Saya dihubungi orang bank, kok yang satu belum dibayarkan, ada berkas ada bukti di bank? Saat itu, sama Mbak Yani (yang minta tagihan) adanya Rp700 Ribu tidak apa-apa dibawa dulu dari tagihan yang sebenarnya Rp1 Juta. Itu Mbak Yani setiap bulan ke sini, ini belum tanggal 1 kok sudah ambil," ucapnya.
"Setelah itu, hampir 3 bulan, mestinya saya sudah lunas, kan Rp12 juta, sudah dijanji, nanti sampai berangkat bapak tidak usah repot bayar kan per bulan sudah nyelengin Rp1 juta. Saya gak akan mencari gak akan minta. Saya sebenarnya dikasih tahu sama pengacara, nanti saya bisa bantu tuntut bisa dapat Rp7juta. Tapi saya bilang buat apa, biar dipakai hidup orang yang bohongi saya, karena kan orang bohon itu karena kekurangan," lanjut Mbah Parto.
Prinsip pria yang kini berusia 74 tahun itu, uang tidak untuk dicari karena hal itu sudah digariskan oleh Allah.
Tak cuma ditipu oleh oknum pegawai bank, dalam kesehariannya, Mbah Parto juga sering dibohongi oleh beberapa warga nakal yang sengaja tak membayar jasanya dengan berbagai macam motif.
Anehnya, beberapa kali melalui bengkel Mbah Parto, alih-alih membayar, orang tersebut justru seolah-olah tak ingat jika dirinya memiliki hutang.
"Aslinya itu, uang tidak mencari yang beri itu Allah, kadang kerja dibohongi biasa, nanti ya mbah bayarnya, tapi sampai saat ini gak dibayar. Padahal orangnya sering lewat sini, tambal gak bayar, ganti ban baru orang gak bayar. Besi 1 ton itu berat ya mbak, tapi lunasin utang itu lebih berat ya," ungkapnya seraya terheran-heran.
Satu hal yang hingga kini masih diingat Mbah Parto yakni penolakan terhadap dirinya yang saat itu ingin ikut serta arisan haji yang diselenggarakan oleh rekannya.
Ditolaknya Mbah Parto karena dinilai tak mampu untuk mencukupi iuran dari usahanya sebagai tukang tambal ban.
Sementara pemegang arisan dan mayoritas anggota lainnya bekerja sebagai pegawai negeri.
Dengan sabar, Mbah Parto memilih legowo menanggapi penolakan itu.
Mbah Parto memilih tanggapi penolakan itu sebagai pelecut diri membuktikan kepada rekannya jika ia bisa naik haji dengan menggunakan metode lainnya.
"Itu mulai ada arisan saya ditolak, karena pendapatan saya kurang. Yang megang itu kan pegawai negeri, nyatanya ada yang gak bayar sampai sekarang. Sudah naik haji tapi tidak dilunasi sampai saat ini," ungkapnya.
Setelah mengalami penolakan itu, Mbah Parto memilih untuk mengumpulkan uang dengan menabungnya di Baitul Maal wat Tamwil (BMT).
Selama lima tahun, Mbah Parto memilih untuk menabung dengan menyisihkan pendapatannya dari nambal ban dan jual sepeda.
"Dari Rp 5ribu jadi Rp 30ribu jadi Rp300 ribu, saya dua hari sekali nabung di BMT, kadang-kadang 2 hari Rp150 ribu kadang Rp100 ribu, padahal saat itu biaya nambal Rp5 ribu motor, sepeda cuman Rp2 ribu," ungkapnya.
Cara nabung itu terinspirasi dari didikan kedua orang tuanya sewaktu masih kecil.
"Saya ingat waktu saya kecil, bapak ibu saya itu waktu kerja ibaratnya harian lepas seadanya kerjaan ditandangi. Ibuk saya dulu setiap masak satu jimpit diwadahi atau disimpan ke patok, kebetulan bapak gak punya duit gak punya beras, ibu tenang saja, ambil patok tadi dipakai makan cukup satu hari."
"Setiap hari seperti itu, sama kayak sekarang ini, per hari Rp5 ribu begitu seterusnya tapi dikalinya itu. Jangan dianggap cuma Rp5000, Ada yang tambah angin Rp2000 itu saya celengin sendiri, Rp1000 juga saya simpan selain itu juga berjualan sepeda," jelasnya.
Ketika berada di Mekkah, Mbah Parto bercerita jika dirinya pernah terpisah dari rombongan selama 2 jam.
"Selama di Mekkah dan Madinah lancar, saya pernah pisah dengan rombongan 2 jam hilang, akhirnya ketemu sama teman-teman dari Jawa Timur, teman-teman dari Jawa Timur hafal saya, akhirnya ditolong," katanya.
Meski serba kekurangan tak lantas buat Mbah Parto lupa akan membantu sesama.
Mbah Parto turut menyediakan uang receh yang dipasang seperti "jimpitan" atau wadah untuk iuran keamanan di desa tepat di gerbang rumahnya.
Dalam wadah itu, uang receh mulai dari Rp500 hingga 2000 disediakan oleh pria kelahiran tahun 1948 tersebut.
"Ini juga saya sediakan buat orang ngamen di gerbang, saya isi tempat itu uang receh, nanti kalau ada yang ngamen biar mereka ambil sendiri sejujurnya. Sehari yang ngamen bisa 3 orang," bebernya.
Tak cuma sedekah dengan pengemis dan pengamen, Mbah Parto juga sering membantu sesama baik secara tenaga maupun materi.
"Itu tadi tenaga, kalau bayar kasihan, dia kan juga cari uang, kalau berkurang buat bayar saya Rp10ribu kan berkurang jadi Rp50 ribu, saya sudah bilang ke bosnya tapi belum ditanggapi. Ada anak nangis ditabrak orang, motornya rusak, tangannya sakit, motornya saya benerin rujinya, saya minta buat gak bayar, jangan nangis jangan merasa punya hutang, tapi beberapa hari kemudian ke sini bawa roti sama apa kasih ke saya," jelas Mbah Parto sembari menuntaskan pekerjaannya menambal ban.
Lebih lanjut, meski serba kekurangan, Mbah Parto dengan ikhlas membantu tetangganya yang kesulitan untuk ganti ban baru dengan memintanya untuk membayar secara cicilan per hari sebesar Rp.10.000 selama 1 bulan.
"Ada UMKM mau ganti ban motor, cicil saja tiap hari Rp10000 pakai ban baru saya, totalnya Rp300 ribu, paling satu bulan sudah lunas. Kalau ke sini minta ban bekas, padahal nurunin barang bawaanmu banyak banget, nah kalau dicicil gak kerasa, malah ada sisa," jelas Mbah Parto.
Mbah Parto berpesan untuk orang yang masih ragu naik haji karena permasalahan ekonomi untuk tetap fokus sama Allah bukan harta maupun materi.
Diniatkan lebih dulu untuk mencari, hasil nantinya akan mengikuti tergantung bagaimana usaha yang sudah dilakukan.
"Jangan fokus sama uang, sama harta, fokus sama Allah, orang hidup nomor satu memang uang atau materi, saya bicara bukan sombong, uang ini saya sekarang dapat sore kadang-kadang habis, sering kehilangan saya kantongi. Kita mencari nafkah itu bukan cari uang dulu tapi bismillah kita niatnya cari, dapat syukur tidak ya tidak apa-apa, diusahakan banget malah kadang tidak dapat, kalau pas santai malah dapat," pungkasnya.
Beberapa waktu lalu, proses distribusi living cost atau uang saku untuk jemaah haji Indonesia dilakukan di berbagai embarkasi di seluruh Indonesia.
Satu di antara pelaksanaanya berlangsung di Embarkasi Solo.
Proses pendistribusian ini sebagai bagian dari rangkaian pelayanan kepada jemaah haji sebelum keberangkatan menuju ke Tanah Suci.
Pada kesempatan itu, Jemaah Calon Haji Kloter 6 asal Brebes tiba di Asrama Haji Donohudan untuk melakukan proses persiapan keberangkatan.
Setelah itu, jemaah haji langsung melaksanakan rangkaian layanan terpadu termasuk mendapatkan uang saku atau living cost dari BPKH.
Setiap jemaah haji mendapatkan uang saku sebesar 750 Riyal Arab Saudi (SAR).
Uang saku ini diperuntukkan sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci.
Baik digunakan untuk kebutuhan harian tambahan maupun untuk pemenuhan kewajiban pembayaran DAM (denda haji).
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Sulistyowati membeberkan, bahwa pengelolaaan keuangan haji dilakukan secara amanah dan profesional.
"BPKH diamanahkan untuk mengelola keuangan haji, dan dana haji terus tumbuh. Pada tahun 2025, BPKH memperoleh nilai manfaat sekitar Rp12 triliun dengan dana kelolaan total Rp180 T . Nilai manfaat tersebut didistribusikan kepada jemaah tunggu maupun jemaah yang berangkat. Selain itu, jemaah juga mendapatkan uang saku atau living cost sebesar 750 Riyal Arab Saudi yang dapat digunakan sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci," dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH, Kamis (30/4/2026).
Dalam penjelasannya, uang saku itu busa digunakan jemaah selama berada di Arab Saudi seperti halnya untuk membayar DAM.
"Sangat membantu kami, terutama untuk membayar DAM dan sebagai pegangan selama berada di Arab Saudi," pungkasnya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)