Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Kondisi fakta di lapangan pusat belanja di kawasan wisata Pantai Pangandaran, Jawa Barat, yang kini masih terbengkalai.
Ada empat titik pusat belanja wisata yang tersebar di wilayah Pantai Timur dan Pantai Barat, yakni Nanjung Sari, Nanjung Endah, Nanjung Elok, dan Nanjung Asri. Bangunan ini terdiri dari kios-kios sekitar berukuran 3 x 2 meter.
Awalnya, pusat belanja ini direncanakan sebagai lokasi relokasi bagi para pedagang yang sebelumnya berjualan menggunakan tenda biru di bibir Pantai Pangandaran sejak 1986. Namun, hingga kini pusat belanja itu tidak bertahan lama.
Bangunan dua lantai yang dulunya diresmikan dengan harapan yang besar, kini terlihat kumuh dan banyak material bangunan yang rusak.
Baca juga: Tata Kabel Udara di Pangandaran Agar Tak Semrawut, PLN Akan Tanam Kabel Bawah Tanah Sepanjang 3,2 KM
Beberapa rolling door dan dinding kios di bagian lantai dua terlihat banyak yang roboh, besi berkarat, rusak, hingga atap berjatuhan.
Selain itu, banyak botol bekas dan berbagai jenis sampah yang numpuk di setiap pojok kios hingga mengeluarkan aroma bau tak sedap.
Kios-kios di bagian lantai dua, hampir tidak ada penghuni yang berjualan. Hanya, beberapa orang yang memanfaatkan lokasi kumuh itu.
Sejumlah pedagang hanya memanfaatkan beberapa kios di bagian bawah yang kebetulan menghadap ke arah pantai.
Informasi yang dihimpun, kawasan relokasi ini diresmikan pada tahun 2017 silam, di era Gubernur Ahmad Heryawan dan Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata. Meski awalnya berdiri gagah, kejayaannya hanya bertahan beberapa tahun.
Karena dinilai tidak prospektif, banyak pedagang secara berangsur meninggalkan kios mereka dan kembali berjualan di area depan pantai secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Sebelumnya tercatat ada sekitar 1.364 pedagang yang direlokasi dari kawasan wisata Pantai Pangandaran. Namun kini, hanya sedikit pedagang yang masih bertahan.
"Saya masih bertahan di sini karena tidak punya kios lagi. Kebetulan kios milik saya di bagian bawah depan," ujar Titin Suhartini (58) seorang pedagang asesoris kepada Tribun Jabar di depan kiosnya di Nanjungsari pantai barat Pangandaran, Kamis (30/4/2026) siang.
Sementara mantan pedagang pakaian di lantai dua Nanjungsari, Satimin (42) mengaku memilih meninggalkan kios karena sepi pengunjung yang membeli.
"Gimana mau ada pembeli, lorong ruko hanya berukuran satu meter. Suasananya juga gelap dan sempit," katanya.
Menurutnya, bangunan bagus saja tidak cukup jika tidak bisa menarik para wisatawan untuk masuk ke dalam kios-kios tersebut.
"Karena, dari dulu juga wisatawan lebih nyaman berbelanja di kios yang menghadap langsung ke jalan atau pantai," ucap Satimin. (*)