TRIBUNWOW.COM - Panggilan untuk pergi ke tanah suci bukan untuk orang kaya semata.
Empat bukti nyata tanah suci ada untuk orang-orang yang mau mengusahakan serta mengupayakan terlihat dari kisah inspiratif empat pejuang nafkah di Solo, Jawa Tengah.
Bukan dari kalangan berdasi dan duduk manis di kantor, keempatnya merupakan pekerja lapangan yang kerap dipandang sebelah mata terkait kemampuan finansialnya.
Alih-alih untuk haji, kemampuan finansial keempat sosok inspiratif ini dinilai banyak orang untuk keluarga saja tak cukup.
Namun, semua stigma itu terbantahkan seketika.
Keempatnya jadi bukti nyata dan cambukan, jika haji bukan untuk orang kaya saja.
Ketiga, ada tukang batu asal Sukoharjo, Hantoro.
Perjuangan Hantoro untuk datang ke tanah suci Makkah dimulai pada tahun 2012.
Saat itu, ia mendatangi salah satu bank syariah di Kota Solo untuk membuka rekening haji.
Selepas menyelesaikan pembuatan rekening haji, Hantoro pun lantas menanyakan tentang program talangan haji kepada petugas bank.
"Saya buka rekening pada bulan Maret tahun 2012 , lalu saya bertanya kepada petugas haji, di salah satu bank syariah di Solo. Saya tanya terkait program talangan haji."
"Waktu itu saya hanya membawa uang Rp2 juta, lalu petugasnya berkata kalau ingin ikut program talangan haji saldo rekeningnya harus ada Rp5 juta."
"Kurangan itu lalu saya kejar dari Rp 2 juta sampai akhirnya terkumpul Rp5 juta, dan akhirnya bulan Mei 2012 bisa terkumpul sebanyak Rp5 juta dan bisa langsung ikut program talangan haji," ungkap pria berusia 47 tahun itu.
Lebih lanjut, Hantoro menceritakan bagaimana perjuangan peluhnya sampai akhirnya bisa pergi ke tanah suci bulan Juni 2024 lalu.
Dengan meneteskan air mata, Hantoro membeberkan kisahnya yang sampai harus terseok-seok selama 3 tahun demi merealisasikan cita-citanya pergi ke baitullah.
Dalam 3 tahun itu, Hantoro hanya bisa menyisihkan rata-rata uang pendapatan di angka Rp250 ribu.
Pendapatannya yang hanya sebesar Rp960 ribu satu bulan sudah terpotong Rp 625 ribu untuk setoran rutin ke program talangan haji.
"Wah itu kalau prosesnya, bisa dikatakan hidup saya harus terseok-seok seperti itu, ya semua juga tau kan, kalau tukang batu itu gajinya berapa, waktu itu kan gajinya kalau tidak salah kalau seminggu full masuk terus 6 hari dikali 4 yang satu bulan Rp960 ribu, itu kalau full."
"Sedangkan pada kenyataannya, tukang batu kan sering istirahat jadi cuma 5 atau 4 hari kerja itu pun kepotong untuk ikut talangan haji Rp 625 ribu jadi bersihnya bisa tinggal Rp250-an ribu," ucap Hantoro sembari tak kuasa menahan air matanya.
Dengan uang kisaran Rp250 ribu itulah Hantoro coba penuhi kebutuhan istri dan keempat anaknya selama 3 tahun.
Belum ditambah pengeluaran tak terduga semisal ada hajatan tetangga atau kebutuhan lainnya.
Meski begitu, Hantoro mengaku tak pernah merasa putus asa.
Ia meyakini, bantuan Allah untuknya pasti ada sehingga tekadnya untuk haji tak pernah padam meski harus hidup mepet dan terseok-seok.
"Uang Rp250 ribu itu untuk hidup sebulan istri dan anak, itu benar-benar terseok-seok dalam artian seperti itu, tapi ya saya yakin ini janjinya Allah itu tidak berbohong, kalau kita melihat Allah pasti Allah akan membantu saya seperti itu janji Allah dan itu saya jadikan pedoman saya, jadi ya saya bismillah saja."
"Kalau ada uang sisa ya saya menabung kalau tidak ada ya tidak bisa menabung, dan kalau ada tetangga punya hajat ya tidak bisa menabung, kan harus jagong dan sebagainya itu ya jadi mau tidak mau ya harus pandai mengolah uang yang nominalnya Rp250 ribu untuk kehidupan sehari-hari itu selama 3 tahun," ungkapnya.
Dengan sisa hasil pendapatannya, Hantoro pun sampai tak mampu untuk membelikan baju baru anaknya pada momen lebaran selama dua tahun.
Hanya untuk membelikan mie ayam keluarganya saja, Hantoro sampai tak bisa untuk merealisasikannya.
"Saya ikut program talangan haji 3 tahun,saat itu ditanya petugas hajinya mau yang 3, 2 atau 1 tahun, nah saya memilih yang 3 tahun itu, benar-benar perjuangannya untuk naik haji itu tidak semudah itu, masalahnya saya harus sampai selama 2 tahun itu anak saya sampai tidak saya belikan baju lebaran, ya masalahnya mau ngga mau ya harus begitu, sampai beli mie ayam saja sampai Ya Allah, anakku ingin mie ayam saja saya ya hanya bisa nanti-nanti, tapi ya kembali lagi itu adalah perjuangan supaya bisa haji," ungkapnya seraya menghela nafas saat mengingat perjuangannya dahulu.
Di sisi lain, Hantoro menjelaskan manfaat dari program talangan haji yang ia ikuti.
"Untuk mudahnya saya artikan, talangan haji itu untuk menyegel angka tahun jadi kalau saya Mei tahun 2012 itu saya kan langsung dapat tahun 2024, jadi hanya sekedar ambil tahun keberangkatannya saja belum dengan pelunasannya," jelas Hantoro.
Mengingat, di tahun 2024, Ongkos Naik Haji (ONH) atau biaya haji mencapai angka Rp 58 juta.
"Masih terus dan itu kan belum ONH, ONH kemarin 2024 kalau tidak salah Rp58 juta, jadi sisa antara Rp25 juta sampai 58 juta itu kita mengangsur sendiri, jadi talangan Rp25 juta itu cuma supaya kita menyegel tahun haji saja," ungkapnya.
Untuk mensiasati kekurangan itu, Hantoro memutuskan untuk menabung uang sisanya di rumah.
Sebagian lainnya ia tabungkan di bank.
Namun, program nabung yang ia canangkan itu acap kali tak bisa dilakukan karena adanya kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditunda lagi.
"Seperti yang saya sampaikan tadi kalau ada uang sisa ya saya tabung, kadang saya tabung dirumah, saya masukkan ke bank, kadang kalau ketabrak kebutuhan ya saya mau tidak mau ya saya tidak menabung," bebernya.
Selain itu, Hantoro juga turut berpesan kepada jemaah yang memiliki latar belakang ekonomi sepertinya untuk tak putus asa jika memiliki keinginan untuk bisa naik haji.
Hantoro mengungkapkan, haji itu bukan hanya bisa dilakukan oleh orang kaya semata.
Menurutnya, semua bisa haji asalkan memiliki niat dan usaha dalam mewujudkannya.
"Ketika pengajian diterangkan bahwa pahala haji kan besar-besar semua, kan itu semua orang bisa melaksanakan asalkan punya niat dan punya usaha, jadi dalam pikiran saya ya haji tidak hanya untuk orang kaya. Nah itu saya tanam didalam hati saya, orang kaya itu belum tentu mau naik haji belum tentu dia itu bersungguh-sungguh berusaha untuk naik haji, makanya saya ya sudah bismillah saja, ini urusannya gusti Allah nah ternyata ya ada jalan dan dipanggil," pungkasnya.
Kedua, ada tukang bakso bakar bernama Lukman Busra.
Tak banyak yang menyangka seorang tukang bakso bakar bisa menunaikan ibadah haji yang diketahui menelan biaya cukup besar.
Berkat tekad dan perjuangan Lukman, pesimistis banyak orang itu terbantahkan.
Semua bermula dari mimpi Lukman sejak kecil yang sangat menginginkan bisa pergi ke tanah suci.
Di mana, sejak kecil, Lukman kerap melafalkan doa haji yang membuat tekadnya semakin bulat untuk bisa merealisasikan keinginannya itu.
Dikit demi sedikit, laba dari hasilnya berjualan bakso bakar ditabungkan.
Nominalnya memang tak seberapa, namun, berkat ketekunannya menabung itu lah Lukman bisa merealisasikan keinginan masa kecilnya pada Juni 2024 lalu.
"Untuk ibadah haji, alhamdulilah saya berkesempatan untuk beribadah ke tanah suci berkat bantuan dari Allah."
"Jalannya sampai bisa ibadah haji itu ya dari cita-cita semasa kecil, saat itu di TPA saya sudah diajari doa haji, jadi doanya itu 'Allahumma ballighna Makkata wal Madiinata wal 'Arafata wa Ruzqnal hajjal mabruuro wardha 'anna wahgfirlanaa warhamnaa Anta Maulaana fanshurnaa 'Alal qoumil Kaafiriina, nah doa itu saya panjatkan terus sampai sekarang ini."
"Dan akhirnya, alhamdulilah kini benar-benar terlaksana, meski hanya dengan berjualan bakso bakar, Allah menolong saya, setiap habis berjualan, saya upayakan bisa menyisihkan Rp 50-100 ribu," ungkapnya lagi kepada TribunWow.com, Senin (21/4/2026).
Lukman juga menceritakan awal mula dirinya mendaftarkan haji di tahun 2013 lalu.
"Setelah bakso bakar booming, namanya rezeki mungkin ini jalan saya untuk haji, saya langsung mendaftar untuk kursi haji, setelah mendaftar, tinggal menunggu, nah menunggu itu juga sembari mengumpulkan uang untuk haji, karena kan haji itu panggilan khusus dari Allah, kalau kita tidak berusaha ya tidak mungkin, dan juga haji itu kan membutuhkan biaya yang tidak sedikit," lanjutnya.
Keberhasilannya menunaikan ibadah haji di usia yang terbilang muda membuat Lukman sampai saat ini masih merasa tak menyangka.
"Saya bersyukur bisa berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji karena tidak semua umat islam bisa melaksanakan ibadah haji."
"Di tahun 2024 ini jumlah jamaah haji terbilang jadi yang terbanyak sepanjang masa. Jadi, saat menunaikan ibadah haji, saya bertemu dengan banyak jamaah yang pastinya menguras fisiknya karena saling berdesakan," ucap Lukman.
Di sisi lain, Lukman merasa terkesan dengan fasilitas haji yang sudah disiapkan pemerintah Indonesia.
Baik dari segi fasilitas maupun sampai dengan pelayanan administrasinya.
"Untuk fasilitas baik, untuk pelaksanaan ibadah haji Indonesia itu sudah baik jadi ya tinggal dilaksanakan dengan baik dan pelayanannya juga sudah bagus," bebernya.
Lebih lanjut, Lukman menceritakan, perjuangan beratnya menunaikan rukun dan syarat haji di tanah suci.
Paling terasa yakni cuaca ekstrem yang mencapai 50 sampai dengan 53 derajat.
"Cerita yang paling luar biasa itu pas pelaksanaan haji namanya Armuzna, pas puncaknya haji, ketika itu saya bersama satu rombongan haji melaksanakan ibadah haji dengan jalan kaki, jadi tidak ikut dalam rombongan bis, pada waktu itu di Arafah itu suhunya mencapai 50 derajat sampai dengan 53 derajat dan waktu itu hanya di tenda biasa seperti haji backpacker tapi kita resmi."
"Kita ikut jalan kaki karena secara fisik ya masih mampu untuk berjalan kaki. Saat itu, keadaannya memang sangat berat dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Namun Alhamdulilah, atas pertolongan dari Allah, kami akhirnya kuat untuk berjalan dari Arafah, Musdalifah sampai ke Mina," ungkap Lukman.
Tak cuma itu, Lukman juga memiliki pengalaman mengesankan saat melakukan proses lempar jumrah dan ibadah di Masjidil Haram.
"Lempar jumrah itu juga sangat berkesan dan jadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan, karena saat itu ikut berjalan kaki serentak dengan semua umat Islam di dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Begitu juga ketika ibadah di Masjidil Haram, bertemu dengan banyak orang luar," lanjutnya.
Rupanya, ada satu alasan di balik keinginan Lukman untuk berjalan kaki dari Arafah, Musdalifah sampai ke Mina ketimbang turut serta naik bis.
Lukman dkk saat itu memutuskan untuk berjalan kaki agar bisa mengenang tapak tilas perjuangan para nabi.
Padahal, secara jarak tempuh, Lukman dan rekan-rekannya harus berjalan sejauh 30 km atau harus menempuh waktu 2 hari lamanya mulai dari tanggal 8 sampai dengan malam ke-9 Arafah.
"Alasannya jalan kaki karena kita ingin mengikuti tapak tilas nabi, itu bisa dilakukan cuma dengan berjalan kaki, kalau pakai bus sudah berbeda rutenya, jarak tempuhnya antara 30 km dan dikerjakan selama 2 hari, dari tanggal 8 sampai malam ke 9 Arafah, dan tanggal 9 Arafah itu sudah harus disana, jadi setelah itu terus berjalan ke Musdalifah lalu berjalan ke Mina lagi," ucapnya.
Lebih lanjut, Lukman juga turut memberikan saran dan pesan kepada para pelaku UMKM sepertinya dan juga para generasi muda agar berani mengambil keputusan menjalani ibadah haji sesegera mungkin.
"Kesabaran terutama masalah ekonomi, saya kan berjualan tidak pasti, terkadang ramai terkadang sepi, kalau ramai kita menyisihkan uang agak banyak, kalau sepi ya sedikit kita menyisihkan dan kita syukuri. Serta jangan lupa berdoa, kalau untuk kebutuhan yang lain yang tidak mendesak kita tunda dulu."
"Untuk pesannya, semua umat islam terutama untuk generasi muda yang masih produktif, untuk melaksanakan haji, segera untuk mendaftar dan jangan menunggu kaya, intinya kalau ingin ibadah haji ya jangan menunggu kaya, karena kalau sudah tua ibadah haji itu berat sekali, karena sayang sekali jika kita ibadah haji lalu jika kurang maksimal bakal jadi kerugian bagi kita sendiri," pungkasnya.
Temon Kartosoemito atau akrab disapa Temon juga memiliki kisah mengharukan di balik keberhasilannya menunaikan ibadah haji.
Temon menceritakan kondisinya saat itu yang kerap dihantui kesulitan.
Termasuk pekerjaan mulia yang hingga kini istiqomah diembannya yakni sebagai tukang gali kubur.
Menurutnya, upah sebagai tukang gali kubur sering sekali tak serta merta diberikan.
Semua tergantung dari kondisi keluarga masing-masing yang meminta bantuan jasanya.
“Kalau untuk gali kubur, kalau ada yang meninggal khususnya kampung sini, sekitar sini, kalau dikuburkan di tempat makam Bayan itu, saya istilahnya termasuk tukang gali nya. Ada rombongan 5 orang, istilahnya kalau sudah selesai terkadang langsung dikasih terkadang di lain hari baru dikasih,” ujar Temon kepada TribunWow.com pada Senin (6/4/2026).
Meski begitu, upah Rp130.000 biasa didapatkannya dari jasanya menggali kubur.
Itu pun tak lantas dihabiskan semuanya.
Melainkan, Temon sisihkan Rp100.000 ditabung untuk bisa mendaftarkan haji dan sisanya digunakan untuk pegangan.
“Bagian saya sekitar Rp130 ribu, 100 saya sisihkan saya celengin, yang 30 untuk pegangan, itu kalau ada, kadang seminggu 3 kali, kadang 2 bulan tidak ada,” jelasnya.
Tak hanya bergantung sebagai tukang gali kubur semata, pria paruhbaya berusia 73 tahun itu juga berikhtiar kumpulkan uang demi haji dengan menjadi kuli bangunan.
Uang pendapatannya dari kuli bangunan pun juga turut disisihkan demi bisa berangkat ke Baitullah.
“Untuk kerja sebagai kuli, bayaran saya Rp110.000 per hari. Kalau ada gajian malam minggu sebagian saya sisihkan, sebagian buat pegangan, kan untuk makan sudah diurusin sama anak, saya pakai untuk jajan dan kebutuhan lainnya, setiap harinya seperti itu,” ungkapnya.
Meski menjadi kuli bangunan, tak lantas membuat Temon menyisihkan pekerjaannya sebagai tukang gali kubur.
“Kalau untuk kerjaan tukang bangunan itu, alhamdulilah kerja di Payaman itu sampai 7 bulan itu alhamdulilah rutin kerja, tapi kalau ada yang layatan atau ada yang membutuhkan saya ambil libur dulu,” ungkap bapak 4 orang anak tersebut.
Selain menyisihkan uang dari pekerjaanya, Temon juga turut menjual aset warisan pemberian dari ayahnya demi bisa bertamu ke rumah Allah di tanah suci Mekkah.
Sementara kekurangan biaya lainnya Temon ambil dari pinjaman sanak saudara.
Dengan dikembalikan secara cicilan yang dibantu oleh beberapa anaknya.
“Waktu mendaftarkan punya tanah yang lumayan, saya bilang ke anak-anak untuk haji, anak-anak memperbolehkan, saya jual di tahun 2012 dan 2025 bisa naik haji, alhamdulilah sehat dan barokah.”
“Saya bisa nyelengin sedikit demi sedikit, saya sebelum naik haji itu sudah ada tabungan sedikit demi sedikit, terus pinjam sedikit yang penting saya bisa naik haji, saya pinjam adik ipar, sebenarnya mau dipakai naik haji juga, namun akhirnya diberikan saya terlebih dahulu, lalu saya cicil. Nanti untuk melunasi hutang bisa dicarikan dikit demi sedikit,” kata Temon seraya mengingat masa perjuangannya untuk haji.
Suparto atau akrab disapa Mbah Parto memulai cerita inspiratifnya tepat pada 12 tahun lalu.
Bukan dimulai dari kisah membahagiakan, cerita Mbah Parto beranjak dari rasa duka yang berbalut keikhlasan yang akhirnya berujung dengan kegembiraan.
Dulu, di tengah proses menabungnya melalui seseorang yang bekerja di salah satu bank swasta di Solo, uang sebesar Rp700 ribu.
"Ada karyawan yang bohongi saya Rp700 ribu, tapi saya gak bahas, saya mau ambil bisa tapi enggak. Berat saat itu di tahun 2014 uang sebesar Rp700 ribu, tapi saya nggak mau jangan-jangan," ucap Mbah Parto kepada TribunWow.com.
Alih-alih membalas dan menuntut pelaku, Mbah Parto memilih untuk ikhlas dan memaafkannya.
Padahal saat itu, Mbah Parto mendapatkan dukungan dari seorang pengacara yang mengusulkan jika perkara itu dilaporkan ke kepolisian.
Selain bisa mendapatkan kembali uangnya, Mbah Parto juga bakal menerima uang denda sebesar Rp7 juta.
Namun, hal itu tak diindahkan Mbah Parto dan memilih untuk tak memperkarakannya.
Mbah Parto beranggapan positif jika orang yang membohonginya itu juga tengah dihimpit permasalahan ekonomi sehingga nekat melakukan hal itu.
"Saya ditipu enggak papa saya ikhlas. Saya dihubungi orang bank, kok yang satu belum dibayarkan, ada berkas ada bukti di bank? Saat itu, sama Mbak Yani (yang minta tagihan) adanya Rp700 Ribu tidak apa-apa dibawa dulu dari tagihan yang sebenarnya Rp1 Juta. Itu Mbak Yani setiap bulan ke sini, ini belum tanggal 1 kok sudah ambil," ucapnya.
"Setelah itu, hampir 3 bulan, mestinya saya sudah lunas, kan Rp12 juta, sudah dijanji, nanti sampai berangkat bapak tidak usah repot bayar kan per bulan sudah nyelengin Rp1 juta. Saya gak akan mencari gak akan minta. Saya sebenarnya dikasih tahu sama pengacara, nanti saya bisa bantu tuntut bisa dapat Rp7juta. Tapi saya bilang buat apa, biar dipakai hidup orang yang bohongi saya, karena kan orang bohon itu karena kekurangan," lanjut Mbah Parto.
Prinsip pria yang kini berusia 74 tahun itu, uang tidak untuk dicari karena hal itu sudah digariskan oleh Allah.
Tak cuma ditipu oleh oknum pegawai bank, dalam kesehariannya, Mbah Parto juga sering dibohongi oleh beberapa warga nakal yang sengaja tak membayar jasanya dengan berbagai macam motif.
Anehnya, beberapa kali melalui bengkel Mbah Parto, alih-alih membayar, orang tersebut justru seolah-olah tak ingat jika dirinya memiliki hutang.
"Aslinya itu, uang tidak mencari yang beri itu Allah, kadang kerja dibohongi biasa, nanti ya mbah bayarnya, tapi sampai saat ini gak dibayar. Padahal orangnya sering lewat sini, tambal gak bayar, ganti ban baru orang gak bayar. Besi 1 ton itu berat ya mbak, tapi lunasin utang itu lebih berat ya," ungkapnya seraya terheran-heran.
Ditolak Ikut Arisan Haji
Satu hal yang hingga kini masih diingat Mbah Parto yakni penolakan terhadap dirinya yang saat itu ingin ikut serta arisan haji yang diselenggarakan oleh rekannya.
Ditolaknya Mbah Parto karena dinilai tak mampu untuk mencukupi iuran dari usahanya sebagai tukang tambal ban.
Sementara pemegang arisan dan mayoritas anggota lainnya bekerja sebagai pegawai negeri.
Dengan sabar, Mbah Parto memilih legowo menanggapi penolakan itu.
Mbah Parto memilih tanggapi penolakan itu sebagai pelecut diri membuktikan kepada rekannya jika ia bisa naik haji dengan menggunakan metode lainnya.
"Itu mulai ada arisan saya ditolak, karena pendapatan saya kurang. Yang megang itu kan pegawai negeri, nyatanya ada yang gak bayar sampai sekarang. Sudah naik haji tapi tidak dilunasi sampai saat ini," ungkapnya.
Setelah mengalami penolakan itu, Mbah Parto memilih untuk mengumpulkan uang dengan menabungnya di Baitul Maal wat Tamwil (BMT).
Selama lima tahun, Mbah Parto memilih untuk menabung dengan menyisihkan pendapatannya dari nambal ban dan jual sepeda.
"Dari Rp 5ribu jadi Rp 30ribu jadi Rp300 ribu, saya dua hari sekali nabung di BMT, kadang-kadang 2 hari Rp150 ribu kadang Rp100 ribu, padahal saat itu biaya nambal Rp5 ribu motor, sepeda cuman Rp2 ribu," ungkapnya.
Cara nabung itu terinspirasi dari didikan kedua orang tuanya sewaktu masih kecil.
"Saya ingat waktu saya kecil, bapak ibu saya itu waktu kerja ibaratnya harian lepas seadanya kerjaan ditandangi. Ibuk saya dulu setiap masak satu jimpit diwadahi atau disimpan ke patok, kebetulan bapak gak punya duit gak punya beras, ibu tenang saja, ambil patok tadi dipakai makan cukup satu hari."
"Setiap hari seperti itu, sama kayak sekarang ini, per hari Rp5 ribu begitu seterusnya tapi dikalinya itu. Jangan dianggap cuma Rp5000, Ada yang tambah angin Rp2000 itu saya celengin sendiri, Rp1000 juga saya simpan selain itu juga berjualan sepeda," jelasnya.
Ketika berada di Mekkah, Mbah Parto bercerita jika dirinya pernah terpisah dari rombongan selama 2 jam.
"Selama di Mekkah dan Madinah lancar, saya pernah pisah dengan rombongan 2 jam hilang, akhirnya ketemu sama teman-teman dari Jawa Timur, teman-teman dari Jawa Timur hafal saya, akhirnya ditolong," katanya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)