TRIBUNWOW.COM - "Labbaikallahumma labaik, labbaika la syarika laka labaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syarika laka labaik," bacaan yang banyak dinantikan oleh semua orang.
Di setiap tahunnya, ada banyak kisah inspiratif yang muncul dari pejuang haji di Indonesia.
Satu di antaranya muncul dari Triyem, masyarakat Dusun Bayan, Kadipiro, Banjarsari, Boyolali.
Triyem menceritakan perjuangannya saat membantu sang ayah, Temon Kartosoemito untuk bisa berangkat haji.
Terutama terkait pengganti sang ibunda yang tiada tepat satu tahun sebelum keberangkatan.
Di mana, Triyem lah yang diminta Temon untuk menggantikan slot kuota yang belum jadi terealisasi untuk sang ibunda.
Dalam perjuangannya, Triyem mengaku banyak dibantu oleh instansi pemerintah terkait dalam kepengurusan berkas administrasi.
Satu di antaranya hadirnya Badan Pengelola Keuangan Haji Indonesia, BPKH RI.
Triyem mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi terutama saat mengurus berkas administrasi pindah nama.
Namun, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) serta beberapa instansi pemerintah terkait dengan sigap turut berikan pelayanan terbaiknya.
“Allah sudah mengkhendaki kita sebagai tamu allah, dan kita mempersungguh allah beri jalan yang luar biasa, tidak hanya itu saja, termasuk dukungan dari masyarakat sekitar, saudara-saudara, dan paling utama dari Pemerintahan, RT, RW, Dukcapil, Kantor Pos, BPKH dan Pengadilan Agama. Karena saya sebenarnya mengganti alih kursi dari ibu saya ibu Dariyem ke saya ibu Triyem, karena itu semua butuh proses, dan prosesnya tidak mudah ada beberapa kendala,” jelas Triyem.
Kemudahan itu dirasakan Triyem sejak awal proses hingga kepulangannya dengan sang ayah seusai haji.
“Dan sewaktu saya menjalani dari awal sampai saya pulang, saya benar-benar merasakan atau pertolongan serta manfaat yang luar biasa dari instansi pemerintah dari semua sampai ke bawah, selalu beri motivasi dan menyarankan saya yang terbaik, termudah dan termurah bagi saya, dan saya di sana selalu berdoa, dan semoga semua yang bersangkutan dengan saya dari bawah sampai ke atas, saya selalu mendoakan, semoga apa yang diinginkan segera terkabul, dan saya benar-benar bangga jadi WNI dan dibantu oleh pemerintahan Indonesia, benar-benar masyaAllah,” bebernya.
Triyem mengaku sangat terharu dengan peran instansi pemerintah terkait karena mau menunggu meski secara jam kerja sudah tutup.
“Proses mengurus surat itu tidak hanya 1 2 hari, ternyata butuh 1 bulan, dan saya pun bolak-bolak, satu hari bisa pindah sampai 3-4 kali. Dari instansi lain pun sampai ditunggu, masib ditunggu, saya jam 4 lebih masih ditunggu, meskipun yang lain sudah tutup,” lanjutnya.
Bentuk kepedulian yang lain yakni saat lakukan isi data melalui aplikasi via handphone.
Triyem yang mengaku kesulitan dibantu petugas instansi terkait untuk memasukkan data yang bersifat non pribadi.
“Saya tidak tahu hp, ketik mengetik, itu pun sampai dibantu, tapi bukan yang bersifat pribadi, yang boleh mengetik hanya yang bersangkutan, itu karena sudah aturan, tidak bisa melanggar batas, beliau-beliau mau menunggu sampai putra saya datang,” ungkapnya dengan penuh haru.
Lebih lanjut, secara fasilitas, Triyem mengaku, semuanya sudah terlayani dengan baik dan luar biasa.
Triyem merasakan sendiri bagaimana pelayanan ramah hingga tingkat kepedulian BPKH RI terhadap kondisi jemaah yang dinilai sangat baik.
“Untuk fasilitas dari tanah air sampai tanah suci luar biasa, bukan sekadar omongan saja, tapi saya benar-benar merasakan sendiri, di sana ibadah semuanya lancar, kalaupun ada yang katanya jalan kaki, memang kan di sana ada beberapa metode cara haji, ada yang tanazul, ada yang mukim.”
“Kalau untuk yang jalan kaki itu sebenarnya memang sudah dari awal benar-benar ingin tanazul dari muzdalifah ke Mina jalan kaki, dari Mina ke Jamarot jalan, nah kebetulan, bapak merasakan di tenda Mina. Begitu juga di tenda Arafah bagus, antri wajar, tapi untuk sampai melihat ini-ini tidak, lumayan longgar, kalau di Mina alhamdulilah Tanazul. Untuk makanan, untuk hotel, transportasi, kesehatan dan penyuluhan dan mungkin yang belum tahu caranya ibadah, di bantu dari sana, dijelaskan dari sana, bahkan waktu itu didatangi pemerintah dari sana, di tanyakan apa yang kurang untuk benar-benar memastikan fasilitas,” ujar wanita berusia 43 tahun tersebut.
Contohnya ketika Temon mengalami sakit di tanah suci, dengan sigap, petugas terkait dari BPKH RI memberikan bantuan dan perhatian khusus.
“Bapak sebenarnya juga ingin tanazul, tapi waktu itu allah baru berikah bapak sakit, jadi diharuskan untuk bermukim di Mina, jadi saya yang menjalani dari Arafah ke Mina cuma sebentar langsung ke Jamarot pulang ke hotel Bapak tidak, karena kan sakit jadi di badarkan, di Mina banyak bantuan, makanan melimpah,” pungkasnya.
Demi komitmen beri ketenangan lebih bagi jemaah haji, BPKH RI salurkan penyaluran living cost sebagai implementasi dari nilai manfaat dana haji.
Penyaluran living cost (biaya hidup-red) untuk jemaah haji merupakan bentuk dukungan nyata agar jemaah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya selama berada di Tanah Suci.
Adanya dukungan ini diharapkan bisa menghadirkan ketenangan sehingga jemaah bisa menjalankan prosesi ibadah haji dengan lebih khusyuk.
Momentum pelepasan jemaah haji kloter empat di Embarkasi Surabaya menjadi satu di antara penanda perjalanan ibadah haji tahun 1447 H/2026.
Momen itu juga jadi ajang kesiapan layanan termasuk dukungan pembiayaan bagi jemaah jadi bagian penting untuk memastikan kelancaran dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Hary Alexander turut menjelaskan terkait penyaluran nilai manfaat dana haji yang tak cuma berfokus pada aspek pengelolaan saja.
Melainkan juga pada kebermanfaatan yang langsung bisa dirasakan oleh jemaah.
“BPKH memastikan nilai manfaat dari pengelolaan dana haji dapat kembali kepada jemaah, salah satunya melalui pemberian biaya hidup yang mendukung kebutuhan jemaah selama berada di Tanah Suci,” ujarnya dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH RI, Rabu (29/4/2026).
Adanya penyaluran living coast ini merupakan bentuk dari sinergitas antara BPKH dengan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Kolabrasi ini diharapkan bisa menghadirkan pelayanan yang terintegrasi mulai dari aspek pembiayaan hingga pelaksanaan ibadah.
Sebagai lembaga yang bertugas mengelola dana haji, BPKH terus berupaya menjaga amanah pengelolaan dana secara profesional, transparan dan berbasis pada prinsip syariah.
Optimalisasi nilai manfaat ini bentuk komitmen BPKH untuk terus menghadirkan dukungan nyata bagi jemaah dalam setiap tahap dalam perjalanan ibadah haji.
Beberapa waktu lalu, proses distribusi living cost atau uang saku untuk jemaah haji Indonesia dilakukan di berbagai embarkasi di seluruh Indonesia.
Satu di antara pelaksanaanya berlangsung di Embarkasi Solo.
Proses pendistribusian ini sebagai bagian dari rangkaian pelayanan kepada jemaah haji sebelum keberangkatan menuju ke Tanah Suci.
Pada kesempatan itu, Jemaah Calon Haji Kloter 6 asal Brebes tiba di Asrama Haji Donohudan untuk melakukan proses persiapan keberangkatan.
Setelah itu, jemaah haji langsung melaksanakan rangkaian layanan terpadu termasuk mendapatkan uang saku atau living cost dari BPKH.
Setiap jemaah haji mendapatkan uang saku sebesar 750 Riyal Arab Saudi (SAR).
Uang saku ini diperuntukkan sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci.
Baik digunakan untuk kebutuhan harian tambahan maupun untuk pemenuhan kewajiban pembayaran DAM (denda haji).
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Sulistyowati membeberkan, bahwa pengelolaaan keuangan haji dilakukan secara amanah dan profesional.
"BPKH diamanahkan untuk mengelola keuangan haji, dan dana haji terus tumbuh. Pada tahun 2025, BPKH memperoleh nilai manfaat sekitar Rp12 triliun dengan dana kelolaan total Rp180 T . Nilai manfaat tersebut didistribusikan kepada jemaah tunggu maupun jemaah yang berangkat. Selain itu, jemaah juga mendapatkan uang saku atau living cost sebesar 750 Riyal Arab Saudi yang dapat digunakan sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci," dikutip TribunWow.com dari laman resmi BPKH, Kamis (30/4/2026).
Dalam penjelasannya, uang saku itu busa digunakan jemaah selama berada di Arab Saudi seperti halnya untuk membayar DAM.
"Sangat membantu kami, terutama untuk membayar DAM dan sebagai pegangan selama berada di Arab Saudi," pungkasnya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)