TRIBUNWOW.COM -"Dug dug dug," suara khas dari linggis yang digunakan untuk menambah dalam galian tanah makam.
"Bug, bug, bug," bunyi karet ban luar saat coba melepas ban dalam kendaraan bermotor.
Dari kedua bunyi, sudah terlihat jelas perbedaan profesi dua sosok inspiratif dari Dusun Bayan, Kadipiro, Banjarsari, Solo.
Ya, kedua sosok yang dimaksud yakni tukang gali kubur bernama Temon Kartosoemito.
Serta tukang tambal ban yang rumahnya hanya berjarak 1 kilometer dari tempat tinggal Temon Kartosoemito, Suprapto.
Keduanya sukses menginspirasi banyak pihak dan patahkan stigma jika hanya orang kaya lah yang bisa pergi ke baitullah menunaikan rukun islam kelima.
Berikut kisah inspiratif selengkapnya:
Temon Kartosoemito atau akrab disapa Temon juga memiliki kisah mengharukan di balik keberhasilannya menunaikan ibadah haji.
Temon menceritakan kondisinya saat itu yang kerap dihantui kesulitan.
Termasuk pekerjaan mulia yang hingga kini istiqomah diembannya yakni sebagai tukang gali kubur.
Menurutnya, upah sebagai tukang gali kubur sering sekali tak serta merta diberikan.
Semua tergantung dari kondisi keluarga masing-masing yang meminta bantuan jasanya.
“Kalau untuk gali kubur, kalau ada yang meninggal khususnya kampung sini, sekitar sini, kalau dikuburkan di tempat makam Bayan itu, saya istilahnya termasuk tukang gali nya. Ada rombongan 5 orang, istilahnya kalau sudah selesai terkadang langsung dikasih terkadang di lain hari baru dikasih,” ujar Temon kepada TribunWow.com pada Senin (6/4/2026).
Meski begitu, upah Rp130.000 biasa didapatkannya dari jasanya menggali kubur.
Itu pun tak lantas dihabiskan semuanya.
Melainkan, Temon sisihkan Rp100.000 ditabung untuk bisa mendaftarkan haji dan sisanya digunakan untuk pegangan.
“Bagian saya sekitar Rp130 ribu, 100 saya sisihkan saya celengin, yang 30 untuk pegangan, itu kalau ada, kadang seminggu 3 kali, kadang 2 bulan tidak ada,” jelasnya.
Tak hanya bergantung sebagai tukang gali kubur semata, pria paruhbaya berusia 73 tahun itu juga berikhtiar kumpulkan uang demi haji dengan menjadi kuli bangunan.
Uang pendapatannya dari kuli bangunan pun juga turut disisihkan demi bisa berangkat ke Baitullah.
“Untuk kerja sebagai kuli, bayaran saya Rp110.000 per hari. Kalau ada gajian malam minggu sebagian saya sisihkan, sebagian buat pegangan, kan untuk makan sudah diurusin sama anak, saya pakai untuk jajan dan kebutuhan lainnya, setiap harinya seperti itu,” ungkapnya.
Meski menjadi kuli bangunan, tak lantas membuat Temon menyisihkan pekerjaannya sebagai tukang gali kubur.
“Kalau untuk kerjaan tukang bangunan itu, alhamdulilah kerja di Payaman itu sampai 7 bulan itu alhamdulilah rutin kerja, tapi kalau ada yang layatan atau ada yang membutuhkan saya ambil libur dulu,” ungkap bapak 4 orang anak tersebut.
Selain menyisihkan uang dari pekerjaanya, Temon juga turut menjual aset warisan pemberian dari ayahnya demi bisa bertamu ke rumah Allah di tanah suci Mekkah.
Sementara kekurangan biaya lainnya Temon ambil dari pinjaman sanak saudara.
Dengan dikembalikan secara cicilan yang dibantu oleh beberapa anaknya.
“Waktu mendaftarkan punya tanah yang lumayan, saya bilang ke anak-anak untuk haji, anak-anak memperbolehkan, saya jual di tahun 2012 dan 2025 bisa naik haji, alhamdulilah sehat dan barokah.”
“Saya bisa nyelengin sedikit demi sedikit, saya sebelum naik haji itu sudah ada tabungan sedikit demi sedikit, terus pinjam sedikit yang penting saya bisa naik haji, saya pinjam adik ipar, sebenarnya mau dipakai naik haji juga, namun akhirnya diberikan saya terlebih dahulu, lalu saya cicil. Nanti untuk melunasi hutang bisa dicarikan dikit demi sedikit,” kata Temon seraya mengingat masa perjuangannya untuk haji.
Suparto atau akrab disapa Mbah Parto memulai cerita inspiratifnya tepat pada 12 tahun lalu.
Bukan dimulai dari kisah membahagiakan, cerita Mbah Parto beranjak dari rasa duka yang berbalut keikhlasan yang akhirnya berujung dengan kegembiraan.
Dulu, di tengah proses menabungnya melalui seseorang yang bekerja di salah satu bank swasta di Solo, uang sebesar Rp700 ribu.
"Ada karyawan yang bohongi saya Rp700 ribu, tapi saya gak bahas, saya mau ambil bisa tapi enggak. Berat saat itu di tahun 2014 uang sebesar Rp700 ribu, tapi saya nggak mau jangan-jangan," ucap Mbah Parto kepada TribunWow.com.
Alih-alih membalas dan menuntut pelaku, Mbah Parto memilih untuk ikhlas dan memaafkannya.
Padahal saat itu, Mbah Parto mendapatkan dukungan dari seorang pengacara yang mengusulkan jika perkara itu dilaporkan ke kepolisian.
Selain bisa mendapatkan kembali uangnya, Mbah Parto juga bakal menerima uang denda sebesar Rp7 juta.
Namun, hal itu tak diindahkan Mbah Parto dan memilih untuk tak memperkarakannya.
Mbah Parto beranggapan positif jika orang yang membohonginya itu juga tengah dihimpit permasalahan ekonomi sehingga nekat melakukan hal itu.
"Saya ditipu enggak papa saya ikhlas. Saya dihubungi orang bank, kok yang satu belum dibayarkan, ada berkas ada bukti di bank? Saat itu, sama Mbak Yani (yang minta tagihan) adanya Rp700 Ribu tidak apa-apa dibawa dulu dari tagihan yang sebenarnya Rp1 Juta. Itu Mbak Yani setiap bulan ke sini, ini belum tanggal 1 kok sudah ambil," ucapnya.
"Setelah itu, hampir 3 bulan, mestinya saya sudah lunas, kan Rp12 juta, sudah dijanji, nanti sampai berangkat bapak tidak usah repot bayar kan per bulan sudah nyelengin Rp1 juta. Saya gak akan mencari gak akan minta. Saya sebenarnya dikasih tahu sama pengacara, nanti saya bisa bantu tuntut bisa dapat Rp7juta. Tapi saya bilang buat apa, biar dipakai hidup orang yang bohongi saya, karena kan orang bohon itu karena kekurangan," lanjut Mbah Parto.
Prinsip pria yang kini berusia 74 tahun itu, uang tidak untuk dicari karena hal itu sudah digariskan oleh Allah.
Tak cuma ditipu oleh oknum pegawai bank, dalam kesehariannya, Mbah Parto juga sering dibohongi oleh beberapa warga nakal yang sengaja tak membayar jasanya dengan berbagai macam motif.
Anehnya, beberapa kali melalui bengkel Mbah Parto, alih-alih membayar, orang tersebut justru seolah-olah tak ingat jika dirinya memiliki hutang.
"Aslinya itu, uang tidak mencari yang beri itu Allah, kadang kerja dibohongi biasa, nanti ya mbah bayarnya, tapi sampai saat ini gak dibayar. Padahal orangnya sering lewat sini, tambal gak bayar, ganti ban baru orang gak bayar. Besi 1 ton itu berat ya mbak, tapi lunasin utang itu lebih berat ya," ungkapnya seraya terheran-heran.
Ditolak Ikut Arisan Haji
Satu hal yang hingga kini masih diingat Mbah Parto yakni penolakan terhadap dirinya yang saat itu ingin ikut serta arisan haji yang diselenggarakan oleh rekannya.
Ditolaknya Mbah Parto karena dinilai tak mampu untuk mencukupi iuran dari usahanya sebagai tukang tambal ban.
Sementara pemegang arisan dan mayoritas anggota lainnya bekerja sebagai pegawai negeri.
Dengan sabar, Mbah Parto memilih legowo menanggapi penolakan itu.
Mbah Parto memilih tanggapi penolakan itu sebagai pelecut diri membuktikan kepada rekannya jika ia bisa naik haji dengan menggunakan metode lainnya.
"Itu mulai ada arisan saya ditolak, karena pendapatan saya kurang. Yang megang itu kan pegawai negeri, nyatanya ada yang gak bayar sampai sekarang. Sudah naik haji tapi tidak dilunasi sampai saat ini," ungkapnya.
Setelah mengalami penolakan itu, Mbah Parto memilih untuk mengumpulkan uang dengan menabungnya di Baitul Maal wat Tamwil (BMT).
Selama lima tahun, Mbah Parto memilih untuk menabung dengan menyisihkan pendapatannya dari nambal ban dan jual sepeda.
"Dari Rp 5ribu jadi Rp 30ribu jadi Rp300 ribu, saya dua hari sekali nabung di BMT, kadang-kadang 2 hari Rp150 ribu kadang Rp100 ribu, padahal saat itu biaya nambal Rp5 ribu motor, sepeda cuman Rp2 ribu," ungkapnya.
Cara nabung itu terinspirasi dari didikan kedua orang tuanya sewaktu masih kecil.
"Saya ingat waktu saya kecil, bapak ibu saya itu waktu kerja ibaratnya harian lepas seadanya kerjaan ditandangi. Ibuk saya dulu setiap masak satu jimpit diwadahi atau disimpan ke patok, kebetulan bapak gak punya duit gak punya beras, ibu tenang saja, ambil patok tadi dipakai makan cukup satu hari."
"Setiap hari seperti itu, sama kayak sekarang ini, per hari Rp5 ribu begitu seterusnya tapi dikalinya itu. Jangan dianggap cuma Rp5000, Ada yang tambah angin Rp2000 itu saya celengin sendiri, Rp1000 juga saya simpan selain itu juga berjualan sepeda," jelasnya.
Ketika berada di Mekkah, Mbah Parto bercerita jika dirinya pernah terpisah dari rombongan selama 2 jam.
"Selama di Mekkah dan Madinah lancar, saya pernah pisah dengan rombongan 2 jam hilang, akhirnya ketemu sama teman-teman dari Jawa Timur, teman-teman dari Jawa Timur hafal saya, akhirnya ditolong," katanya.
(TribunWow.com/Adi Manggala S)