TRIBUNMANADO.COM - Cara kita beriman sangat ditentukan oleh cara kita berbudaya.
Demikian hal itu ditekankan Prof Dr Antonius Eddy Kristiyanto, Guru Besar Sejarah Gereja pada Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, dalam seminar ilmiah yang digelar Program Studi Teologi dan Ilmu Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP) di aula Kampus STFSP, Desa Pineleng Dua, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Sabtu (25/4/2026).
Seminar mengangkat tema “Mempromosikan Teologi Historis dengan Perspektif Selatan-Selatan sebagai Dialog Memperkaya Keilmuan dalam Rumpun Humaniora”.
Selain Eddy Kristiyanto sebagai pemateri utama, dua pengajar pada STFSP juga tampil sebagai penanggap. Yakni Guru Besar Ilmu Filsafat Prof Dr Johanis Ohoitimur serta Dr Longginus Farneubun SS MTh.
Dalam materinya, Eddy Kristiyanto menyebut selama ini perspektif Barat lebih mendominasi kajian teologi historis. Ia menawarkan pengembangan teologi historis melalui pendekatan perspektif Selatan-Selatan sebagai sudut pandang alternatif yang lebih kontekstual dan inklusif.
Ia menjelaskan, konsep “Selatan” secara geografis mengacu pada pada tempat dan arah atau bagian selatan atau bawah katulistiwa. Indonesia dan negara-negara tetangga dekat Indonesia seperti Papua Nugini, Timor Leste terbilang “Selatan”.
Dalam hal ini, daerah-daerah tersebut berseberangan dengan daerah Utara, yang secara ekonomi, politik, teknologi lebih stabil, bahkan sudah berkembang (developed countries), diidentikkan dengan negara maju, dan lebih lagi “Barat”.
“Karakter negara-negara Selatan seringkali beranekaragam. Namun yang sangat kentara, yakni terbelakang, ketidakpastian, miskin, kurang demokratis, kaya akan sumber daya alam, miskin dan lemah dalam sumber daya manusia, memiliki pengalaman negatif seperti panjajahan, dan lain sebagainya,” jelas dia.
Dengan teologi perspektif Selatan-Selatan, ia maksudkan suatu cara kerja dengan memperhatikan bagaimana pandangan hidup dan budaya bangsa-bangsa Selatan.
“Kita mengandalkan sejarah (history), pandangan hidup, kebudayaan, mentalitas, kekhawatiran, harapan masyarakat Selatan. Di sini kita memanfaatkan karya-karya yang bercorak historis, dalam bentuk buku, prasasti, tari, karya seni, bangunan,” lanjut dia.
Dalam budaya selatan ini juga hidup mitologi, cerita rakyat tentang penciptaan, pemeliharaan alam. Selain itu, dalam konteks kekinian, daerah-daerah Selatan ini juga mengalami zaman kolonial atau penjajahan, poskolonial, otoriter, kemiskinan, korupsi, dan lain sebagainya.
“Jadi, teologi historis dengan perspektif Selatan-Selatan memanfaatkan hasil penelitian etnologi, antropologi budaya, bahkan linguistik, dan kemudian mengembangkan serta memperdalam kajian teologis yang dalam tradisi akademi Katolik memperhatikan asupan kitab suci, ajaran dan refleksi teologi patristik, magisterium, dan pengalaman teolog kekinian,” jelas dia.
Banyak sisi yang dapat dikaji dalam perspektif Selatan. Eddy menyebut setidaknya tujuh bidang. Yakni dunia dan manusia (makrokosmos dan mikrokosmos); imu (knowledge dan sains) dan pengetahuan.
Kemudian format “politik” seperti musyawarah, gotong royong dan hidup bersama (masyarakat) serta komunitas; kesetaraan lelaki dan perempuan; lingkungan hidup dan alam semesta; seni, kesenian, tradisi dan kreasi; serta kepercayaan akan roh-roh, Hyang Mahagaib dan sistem kepercayaan.
Terkait hal ini, Eddy mengangkat konsep kebudayaan dalam masyarakat Lamaholot di Nusa Tenggara Timur serta cerita Toar-Lumimuut yang berkembang di Minahasa sebagai contoh. Ia menekankan, dua contoh tersebut, kebudayaan dipandang sebagai sekolah umat manusia.
“Concern utama perspektif Selatan-Selatan menegaskan kekayaan dan kedalaman, cara kerja, interpretasi, kekhasan yang umumnya berciri corak kebudayaan. Perspektif yang demikian sangat berbeda dengan pola lain yang diperkembangkan di barat dan utara, yang akademis, runtut, jelas. Pendekatan Selatan-Selatan sangat percaya pada dimensi kebudayaan, yang erat dengan kehidupan praktis,” jelas dia.
Ia pun mengingatkan tentang peristiwa inkarnasi yang dituliskan dalam Kitab Suci.
“Sebagaimana peristiwa inkarnasi memberi memberi ruang sangat lapang pada kemanusiaan berikut cari khas, karakter, kodrat dan identitas manusia, maka di mana ada penjelmaan di situ juga kemanusiaan dan relasinya dimuliakan. Inilah lahan dialog ilmu humaniora yang kaya makna,” kata dia.
Dosen Sejarah Gereja STFSP, Antonius Tukiran, selaku ketua panitia mengatakan, sangat sulit menggelar seminar terkait sejarah gereja karena pakar di bidang ini di Indonesia tidak banyak.
“Prof Eddy satu-satunya guru besar Sejarah Gereja di Indonesia. Dapat menghadirkan beliau dalam seminar ini merupakan kebanggaan. Jadwal mengajar beliau cukup padat; tidak hanya mengajar di STF Driyarkara tapi juga di beberapa daerah dan sering diundang menjadi pembicara,” ujar Tukiran. (*)