TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah sorotan tajam publik terhadap integritas aparat penegak hukum, nasib Dedi Kurniawan yang dikenal sebagai Kompol DK kini berada di persimpangan yang menentukan.
Sosok yang sebelumnya dipercaya menangani kasus-kasus narkotika justru terseret dalam pusaran kontroversi yang mengguncang kepercayaan masyarakat.
Sebuah video lama yang kembali mencuat ke permukaan seolah membuka kembali lembaran yang sempat tersembunyi, memaksa institusi untuk bertindak cepat di tengah derasnya sorotan publik.
Baca juga: Viral Polisi di Sumut Terekam Lemas Tak Berdaya, Diduga Isap Vape Narkoba, Kini Nasibnya Tragis!
Kepolisian Daerah Polda Sumatera Utara bergerak sigap merespons beredarnya video viral yang memperlihatkan seorang personel diduga mengisap rokok elektrik yang mengandung narkoba.
Tayangan tersebut langsung menyedot perhatian luas karena menampilkan perilaku yang dinilai tidak pantas dari seorang aparat penegak hukum.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Ferry Walintukan, membenarkan bahwa sosok dalam video itu adalah Kompol DK. Dalam potongan video yang tersebar luas di media sosial, terlihat Kompol DK duduk bersama seorang wanita.
Pada bagian lain, ia tampak dalam kondisi lemas, seperti kehilangan kesadaran usai mengonsumsi rokok elektrik, bahkan harus dibopong oleh rekannya.
Menjawab kegaduhan yang muncul, Ferry menjelaskan bahwa video tersebut bukanlah kejadian baru. Rekaman itu diambil pada tahun 2025, ketika Kompol DK masih aktif menjabat sebagai Kanit 1 Subdit III Ditresnarkoba Polda Sumut.
Pada masa itu, ia disebut tengah menjalankan tugas dalam penanganan kasus narkoba, termasuk upaya mengungkap jaringan peredaran barang terlarang.
Penjelasan ini menjadi konteks penting, meski tak serta-merta meredam polemik yang sudah telanjur meluas di ruang publik.
Meski peristiwa dalam video terjadi di masa lalu, institusi kepolisian menegaskan bahwa proses penegakan disiplin tetap dilakukan.
Kompol DK kini harus menghadapi konsekuensi etik atas tindakan yang dinilai melanggar aturan internal.
"Yang bersangkutan sudah dipatsus hari ini," kata Ferry Walintukan, Rabu (29/4/2026).
Penempatan khusus (patsus) di bawah pengawasan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) menjadi langkah awal dalam proses pemeriksaan. Ini merupakan bagian dari mekanisme internal Polri untuk memastikan setiap dugaan pelanggaran ditangani secara serius dan transparan.
Baca juga: Sosok Dedi Kurniawan, Polisi Viral Gara-gara Isap Vape Narkoba, Ternyata Punya Daftar Dosa Panjang
Selain menjalani patsus, Kompol DK juga telah melalui serangkaian pemeriksaan, termasuk tes urine untuk mendeteksi kemungkinan penggunaan narkoba.
"Hasil urine negatif," kata Ferry.
Meski demikian, proses tidak berhenti di situ. Pemeriksaan lanjutan melalui analisis rambut masih menunggu hasil dari Laboratorium Forensik (Labfor).
Langkah ini diambil untuk menelusuri kemungkinan adanya penggunaan zat terlarang dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa sorotan publik terhadap aparat penegak hukum tidak pernah benar-benar padam. Setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat berdampak besar terhadap kepercayaan masyarakat.
Bagi Kompol DK, ini bukan sekadar persoalan video viral, melainkan ujian besar yang akan menentukan arah karier dan reputasinya ke depan.
Sementara bagi institusi, ini adalah momentum untuk menegaskan komitmen terhadap transparansi, akuntabilitas, dan penegakan disiplin tanpa pandang bulu.
***
(TribunTrends/TribunMedan)