Opini: Mengembalikan Sekolah sebagai Taman
Dion DB Putra May 01, 2026 08:19 AM

Oleh: Yoel Umbu Runga Riti
Akademisi pada Institut Agama Kristen Negeri  Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Ingatan saya kembali ke sebuah kegiatan di tahun 2015. Saat itu, saya dan teman-teman pengurus BEM sebuah kampus melaksanakan seminar pendidikan. 

Kami memilih tema yang reflektif, yaitu Pendidikan yang Membebaskan. Kami mengundang seorang Guru Besar dari Universitas Negeri Malang sebagai pemateri. 

Ketika beliau naik ke podium, beliau menunjukkan sebuah kalimat di layar yang membuat kami semua bertanya-tanya. Kalimat itu berbunyi: "Ternyata Penjara itu Bernama Sekolah."

Kalimat itu terasa kontradiktif bagi kami yang sedang belajar menjadi pendidik. Kami sulit membayangkan bagaimana sekolah justru disamakan dengan penjara. 

Baca juga: Opini: Relevansi, Sesat Pikir dan Pengalihan

Namun, jika kita melihat realitas yang ada, perkataan profesor itu rasa-rasanya masuk akal. Banyak sekolah yang memang terasa seperti penjara. 

Sekolah sering kali berubah menjadi ruang yang membatasi gerak, menyeragamkan pola pikir, dan menuntut kepatuhan buta melalui berbagai aturan yang kaku.

Keadaan ini membuat kita perlu melihat kembali dasar pendidikan yang dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara. 

Beliau adalah sosok yang memelopori konsep sekolah sebagai sebuah 'Taman'. Itulah alasan mengapa lembaga pendidikan yang beliau dirikan dinamakan Taman Siswa. 

Pemilihan diksi taman ini memiliki maksud yang sangat mendalam sekaligus sederhana. 

Beliau ingin sekolah menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik. Sekolah bukan tempat yang membuat peserta didik atau tertekan.

Taman Siswa sendiri adalah konsep sekolah yang menganggap tempat belajar itu harus seperti taman. 

Di sebuah taman, suasananya pasti indah, aman, dan membuat orang betah berlama-lama di sana. 

Dalam konsep ini, peserta didik dianggap sebagai benih tanaman yang sedang tumbuh. 

Tugas sekolah adalah menyediakan tanah yang subur dan lingkungan yang baik supaya benih itu bisa tumbuh besar dengan caranya masing-masing. 

Di taman, tidak ada yang memaksa bunga matahari untuk tumbuh seperti pohon mangga. Semuanya tumbuh sesuai jenisnya.

Pun demikian, kalau kita perhatikan sekolah-sekolah yang ada, suasananya sering kali jauh dari kata taman. Banyak peserta didik yang merasa tertekan sejak pagi hari. 

Mereka harus membawa tas yang sangat berat dan memikirkan banyak sekali tugas. Belum lagi tekanan untuk mendapatkan nilai yang bagus di setiap mata pelajaran. 

Jika ada peserta didik yang tidak pintar matematika, dia sering dianggap tidak pintar, padahal mungkin dia sangat berbakat di bidang musik atau olahraga. 

Sekolah yang seperti ini lebih mirip seperti pabrik yang ingin menghasilkan barang yang semuanya sama persis.

Baca juga: Opini - Hardiknas dan Prodi “Tak Relevan”: Diagnosa Struktur atau Vonis untuk Kampus?

Sekolah yang terasa seperti penjara biasanya terlalu fokus pada aturan dan hukuman. Siswa harus memakai seragam yang sama, rambut yang sama, dan cara berpikir yang sama. 

Jika ada yang sedikit berbeda, mereka langsung dianggap melanggar aturan. Inilah yang membuat kreativitas peserta didik perlahan hilang. Mereka menjadi takut untuk mencoba hal baru karena takut salah atau takut dihukum. 

Padahal, inti dari belajar adalah sebuah proses mengalami. Seperti tanaman di taman yang butuh terpaan angin supaya akarnya kuat, peserta didik perlu berani mencoba dan belajar dari kesalahan untuk benar-benar tumbuh.

Mengembalikan sekolah menjadi sebuah taman artinya kita harus mengubah cara kita memperlakukan siswa. Ki Hadjar Dewantara mengenalkan sistem ‘Among’. 

Artinya, guru harus menjaga dan membimbing peserta didi dengan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. 

Guru tidak boleh bersikap seperti polisi yang kerjanya hanya mencari kesalahan peserta didik. 

Guru harus menjadi ‘Pamong’, yaitu orang yang menuntun peserta didik supaya mereka tidak salah jalan, tapi tetap membiarkan mereka berjalan dengan kakinya sendiri.

Pendidikan yang benar harusnya membuat peserta didik merasa merdeka. Bagi Ki Hadjar Dewantara, merdeka bukan berarti boleh berbuat sesuka hati tanpa aturan. Merdeka itu artinya cakap dan kuat untuk memerintah diri sendiri. 

Jika peserta didik belajar hanya karena takut dihukum atau sekadar ingin dipuji, berarti batin mereka belum merdeka. 

Sekolah sebagai taman harus bisa menumbuhkan kesadaran bahwa belajar adalah kebutuhan, sehingga mereka bisa mengatur hidupnya dengan tertib tanpa harus terus-menerus diperintah oleh orang lain.

Kita juga perlu sadar bahwa sekolah bukan cuma tempat untuk mengisi kepala dengan banyak hafalan. 

Banyak orang tua dan guru yang terlalu bangga kalau anaknya bisa menghafal banyak hal, tapi lupa mengajarkan cara berperilaku yang baik. 

Di sebuah taman pendidikan, perkembangan karakter atau budi pekerti jauh lebih penting daripada sekadar nilai di atas kertas. 

Anak-anak harus belajar bagaimana cara menghargai temannya, bagaimana cara bekerja sama, dan bagaimana cara peduli dengan lingkungan sekitar.

Perubahan ini memang tidak mudah karena kita sudah terlalu lama terjebak dalam sistem yang kaku. 

Kita sering kali lebih sibuk dengan urusan administratif daripada memperhatikan perasaan anak didik kita. 

Teknologi yang semakin canggih juga terkadang membuat kita lupa bahwa pendidikan adalah soal interaksi antara manusia. 

Teknologi tentu tidak akan pernah bisa menggantikan pelukan atau semangat yang diberikan langsung oleh seorang guru kepada muridnya. 

Setiap peserta didik tentu punya bakat yang berbeda-beda. Ada yang pintar bicara, ada yang pintar menggambar, dan ada yang sangat cepat dalam berlari. 

Sekolah harus menjadi tempat yang bisa menampung semua kelebihan itu. Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat yang membunuh bakat karena mereka dipaksa untuk belajar hal-hal yang tidak sesuai dengan minat mereka. 

Jika kita bisa menghargai perbedaan ini, maka sekolah akan benar-benar menjadi taman yang indah karena penuh dengan berbagai jenis bunga.

Kembali ke cerita seminar di tahun 2015 tadi, pesan dari profesor tersebut sebenarnya adalah peringatan bagi kita semua. 

Jangan sampai kita terus-menerus membangun gedung sekolah yang megah, tapi di dalamnya kita menciptakan suasana yang mencekam seperti penjara. 

Kita harus berani membongkar cara berpikir lama yang menganggap sekolah adalah tempat untuk mencetak pekerja yang patuh. 

Kita perlu membangun sekolah yang manusianya saling menghargai dan saling mendukung satu sama lain.

Mengubah sekolah menjadi taman adalah tanggung jawab kolektif, baik itu pemerintah, guru, maupun orang tua. 

Kita harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk menikmati masa kecil dan masa remaja mereka dengan bahagia di sekolah. 

Belajar harus menjadi sebuah perjalanan yang menggembirakan dan penuh kejutan, bukan menjadi beban yang membuat anak terbelenggu dan stres setiap hari.

Pada akhirnya, sekolah yang berhasil adalah sekolah yang mampu membuat siswanya rindu untuk datang setiap pagi. 

Sekolah yang berhasil adalah tempat di mana anak-anak merasa bebas untuk menjadi diri mereka sendiri. 

Mari kita hilangkan suasana penjara dari ruang-ruang kelas kita dan kita buat sekolah kembali menjadi taman yang subur, tempat di mana setiap anak bisa tumbuh menjadi manusia yang berguna dan bahagia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.