Polisi Bongkar Kurangnya Jam Terbang Sopir Taksi Hijau: Baru Kerja 3 Hari, Training Cuma Sehari
jonisetiawan May 01, 2026 08:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di balik dentuman keras yang mengguncang malam di lintasan rel Stasiun Bekasi Timur, perlahan terkuak fakta-fakta yang menambah lapisan cerita dalam tragedi kecelakaan kereta yang merenggut nyawa.

Salah satu sorotan kini tertuju pada sosok sopir taksi Green SM yang terlibat dalam insiden awal sebuah potongan peristiwa yang diduga menjadi pemicu rangkaian kecelakaan lebih besar.

Sosok Sopir: Baru Tiga Hari Bekerja, Minim Pengalaman

Identitas sopir tersebut diketahui berinisial RRP. Ia ternyata bukan pengemudi berpengalaman, melainkan sosok yang baru saja memulai pekerjaannya.

RRP diketahui baru bekerja selama tiga hari sejak Minggu (25/4/2026), dengan bekal pelatihan yang sangat singkat.

Baca juga: Terungkap Penyebab Taksi Hijau Mogok di Rel, Picu Kecelakaan Kereta di Bekasi

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, mengungkapkan bahwa pelatihan yang diterima RRP hanya berlangsung satu hari dan sebatas pengenalan dasar.

“Jadi terkait bagaimana mengendarai, cara menghidupkan kendaraan tersebut, ini baru pengenalan dasar itu dilakukan satu hari,” kata Budi di Monumen Nasional, Kamis (30/4/2026).

Detik-Detik Mobil Berhenti di Rel

Peristiwa bermula saat kendaraan yang dikemudikan RRP tiba-tiba berhenti di area rel. Dugaan awal mengarah pada gangguan mesin yang terjadi tepat di lokasi berbahaya lintasan kereta.

Situasi semakin genting ketika pintu mobil tidak dapat dibuka.

Dalam kondisi panik dan waktu yang sempit, RRP berupaya menyelamatkan diri dengan cara yang tidak biasa.

“Saat kendaraan itu berhenti, tidak bisa dibuka pintu. Nah setelah dia mematikan mencoba lagi hidup baru jendela bisa keluar, sopir keluar dari jendela,” kata dia.

Momen tersebut menjadi titik kritis, ketika hitungan detik menentukan keselamatan, sementara ancaman dari kereta yang melaju tak bisa dihentikan.

SOPIR TAKSI GREEN SM - Sopir taksi Green SM Indonesia saat memberikan keterangan terkait mobil mogok di rel yang diduga memicu kecelakaan kereta di Bekasi, Senin (27/4/2026).
SOPIR TAKSI GREEN SM - Sopir taksi Green SM Indonesia saat memberikan keterangan terkait mobil mogok di rel yang diduga memicu kecelakaan kereta di Bekasi, Senin (27/4/2026). (Tribunnews Bogor/Ist/Thread/x TMCPoldaMetro)

Status Hukum Masih Saksi, Penyelidikan Berlanjut

Hingga kini, kepolisian masih terus mendalami penyebab pasti berhentinya kendaraan di atas rel.

Termasuk menelusuri dugaan bahwa sopir sempat menunggu mobil derek dari pihak perusahaan alih-alih segera mengevakuasi kendaraan.

Meski kasus telah naik ke tahap penyidikan, status RRP masih sebagai saksi. Polisi masih membutuhkan keterangannya untuk mengurai rangkaian kejadian secara utuh.

“Jadi kalau namanya saksi, kami masih membutuhkan yang bersangkutan untuk beberapa keterangan,” ujar Budi.

Namun, kemungkinan perubahan status hukum tetap terbuka, tergantung hasil penyelidikan lanjutan.

Baca juga: Nasib Sopir Taksi Hijau di Tengah Pusaran Tragedi KRL vs Argo Bromo, Masih Bebas dan Berstatus Saksi

Pernyataan Duka dari Green SM

Di tengah sorotan publik, pihak perusahaan taksi Green SM akhirnya angkat bicara. Melalui akun Instagram resminya, mereka menyampaikan belasungkawa mendalam kepada para korban tragedi tersebut.

"Green SM menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga para korban atas insiden di area Stasiun Bekasi Timur."

"Kami turut berduka atas kehilangan yang terjadi. Doa kami menyertai keluarga yang ditinggalkan serta para korban lainnya. Semoga kekuatan, ketabahan, serta dukungan senantiasa hadir dalam melalui masa sulit ini."

"Kami berkomitmen untuk terus hadir dengan tulus, mengambil bagian bersama masyarakat Indonesia dalam menghadapi masa ini, serta terus berkoordinasi dengan pihak terkait dalam memastikan dukungan yang diperlukan dapat diberikan."

Unggahan tersebut menjadi bentuk empati sekaligus tanggung jawab moral di tengah duka yang menyelimuti.

Rangkaian Tragedi: Dari Insiden Kecil hingga Bencana Besar

Sebagai gambaran utuh, kecelakaan besar terjadi saat KRL jurusan Cikarang bertabrakan dengan KA jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi pada Senin malam (27/4/2026).

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, menyebut insiden dengan taksi di pelintasan sebidang sekitar 200 meter dari stasiun diduga menjadi pemicu terganggunya sistem operasional kereta di area tersebut.

“Kejadian ini dimulai dengan adanya temperan taksi hijau di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu,” ujar Bobby.

Dampaknya begitu besar. Ratusan penumpang selamat, namun tragedi ini tetap meninggalkan luka mendalam dengan korban jiwa dari penumpang KRL.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa dalam sistem transportasi yang kompleks, satu gangguan kecil bisa berujung pada bencana besar.

Kini, publik menanti hasil penyelidikan tuntas untuk menjawab pertanyaan paling mendasar: bagaimana semua ini bisa terjadi, dan siapa yang harus bertanggung jawab.

***

(TribunTrends/TribunJakarta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.