Warga Bekasi Timur Tak Terima Disebut Ada Ormas Kuasai Perlintasan Kereta Api: 'Ini Relawan Warga'
Candra Isriadhi May 01, 2026 09:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Penjaga pelintasan sebidang Ampera yang berada di Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, akhirnya angkat bicara terkait isu yang beredar di masyarakat.

Mereka membantah tegas adanya keterlibatan organisasi masyarakat (ormas) maupun aksi premanisme dalam pengelolaan pelintasan tersebut.

Salah satu penjaga, Erfan (40), memastikan bahwa aktivitas penjagaan selama ini dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar tanpa campur tangan pihak lain.

KECELAKAAN KERETA - Kondisi terkini pelintasan sebidang Ampera di Kelurahan Duren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, pasca kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi Green SM dengan KRL Cikarang–Jakarta serta tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Jakarta–Cikarang, Kamis (30/4/2026).
KECELAKAAN KERETA - Kondisi terkini pelintasan sebidang Ampera di Kelurahan Duren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, pasca kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi Green SM dengan KRL Cikarang–Jakarta serta tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Jakarta–Cikarang, Kamis (30/4/2026). (KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA)

Menurutnya, keterlibatan warga murni didasari kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan yang melintas di perlintasan sebidang tersebut.

“Enggak ada itu (ormas). Ini murni relawan warga sini,” ungkap Erfan saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (30/4/2026).

Erfan menjelaskan, para relawan secara bergantian berjaga untuk membantu mengatur lalu lintas, terutama saat kereta api melintas.

Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Pengacara, Nadiem Dipaksa Hadiri Sidang Meski Sakit, Jaksa Tegas Membantah

Hal ini dilakukan demi mengurangi risiko kecelakaan di titik yang dikenal cukup padat tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh kegiatan dilakukan secara sukarela tanpa pungutan resmi yang bersifat memaksa.

Dengan adanya klarifikasi ini, warga berharap tidak ada lagi kesalahpahaman terkait keberadaan penjaga pelintasan yang selama ini justru berperan membantu keselamatan bersama.

Menurut Erfan, banyak warga memilih menjadi penjaga pelintasan karena keterbatasan lapangan pekerjaan.

KECELAKAAN KERETA - Taksi hijau Green SM ditabrak KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (26/4/2026).
KECELAKAAN KERETA - Taksi hijau Green SM ditabrak KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (26/4/2026). (Dok./Tangkapan layar video akun X TMC Polda Metro Jaya)

Meski demikian, mereka tetap siap mengikuti kebijakan pemerintah maupun PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait rencana penataan ke depan.

“Kami ikut saja kalau nantinya mau dibangun flyover atau apa. Soalnya ini kan lahan mereka,” ujar Erfan.

Ia menilai, kondisi pelintasan saat ini sudah lebih aman dibanding sebelumnya yang hanya menggunakan palang bambu.

Baca juga: Gencatan Senjata dengan AS Segera Berakhir! Iran Siapkan Kejutan Besar di Medan Perang

Namun, risiko tetap ada, terutama akibat tingginya mobilitas kendaraan dan perilaku pengendara yang kerap terburu-buru.

“Ketakutan pasti ada, tapi ini buat perut juga. Ini penghasilan,” katanya.

Erfan menambahkan, tantangan terbesar di lapangan justru datang dari pengguna jalan yang sulit diatur.

Ia juga mengungkapkan, sebelumnya pengawasan di pelintasan tersebut sangat minim.

KECELAKAAN KERETA API - Proses evakuasi penumpang KRL Commuter Line di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, pascainsiden yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL relasi Bekasi-Jakarta.
KECELAKAAN KERETA API - Proses evakuasi penumpang KRL Commuter Line di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, pascainsiden yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL relasi Bekasi-Jakarta. (Dok./KAI)

Para penjaga hanya mengandalkan sistem relawan dengan jumlah terbatas, bahkan tanpa kehadiran petugas resmi.

“Dulu enggak ada petugas resmi, enggak ada Dishub. Cuma relawan saja. Pergantian penjaga bisa sampai 10 kali sehari,” jelasnya.

Sementara itu, Haidar (30), penjaga lainnya, mengatakan pelintasan dijaga selama 24 jam karena tingginya aktivitas kendaraan setiap hari.

Meski demikian, ia menilai pemasangan palang besi yang baru justru menimbulkan tantangan tersendiri.

“Kalau menurut saya malah kurang aman, soalnya sirkulasi kendaraannya tinggi, tapi palangnya jadi sempit. Dulu kan jalan lebar, enak. Pakai bambu saja sudah aman,” ujarnya.

Haidar yang telah bekerja hampir delapan tahun berharap pelintasan tersebut tidak ditutup total.

Selain menjadi akses penting bagi warga, lokasi itu juga menjadi sumber penghasilan bagi para penjaga.

Ia menambahkan, tanpa penjagaan, kondisi di pelintasan akan jauh lebih sulit dikendalikan.

“Kalau enggak ada yang jaga, susah diaturnya. Banyak yang maunya nerobos,” tuturnya.

Sebagai informasi, pelintasan sebidang Ampera mulai dibenahi setelah kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi Green SM dengan KRL Cikarang–Jakarta serta tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Jakarta–Cikarang pada Senin (27/4/2026) malam.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, sejumlah perubahan kini terlihat di pelintasan yang telah beroperasi sejak 1980-an tersebut.

Palang pelintasan sementara berbahan besi telah dipasang di kedua sisi rel, menggantikan sistem lama yang hanya menggunakan bambu.

Selain itu, papan peringatan bertuliskan “awas kereta api” juga terpasang untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.

Perbaikan aspal di sekitar lokasi turut dilakukan guna mendukung kelancaran arus kendaraan.

Sejumlah petugas dari Dinas Perhubungan juga disiagakan untuk mengatur lalu lintas di titik tersebut, yang dikenal memiliki mobilitas tinggi.

Meski pengawasan diperketat, aktivitas warga tetap berlangsung normal.

Arus kendaraan roda dua maupun roda empat masih terlihat ramai melintas, namun kini dengan pengawasan yang lebih ketat dibanding sebelumnya.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.