BREAKING NEWS : Manajer PSIM Yogyakarta Razzi Mundur, Liana Tasno: Saya Hormati
Joko Widiyarso May 01, 2026 10:14 AM

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Manajer PSIM Yogyakarta, Dyaradzi Aufa Taruna, memutuskan mundur dari jabatan yang telah diembannya selama tiga tahun.

Sosok yang akrab disapa Razzi itu mengumumkan perpisahannya melalui akun Instagram pribadinya, @razzitaruna.

Pengumuman tersebut muncul dalam hitungan jam setelah PSIM Yogyakarta menelan kekalahan 0-1 dari Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung, Bantul, Kamis (30/4/2026).

Bagi Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, keputusan Razzi jelas menjadi kenyataan yang berat. 

Meski demikian, ia tetap menghormati langkah yang diambil oleh pria berusia 25 tahun tersebut.

“Bagaimanapun Razzi adalah adik saya. Saya menghormati keputusan pribadi Razzi dan ingin Razzi selalu ingat bahwa saya sayang dia dan selalu ingin melihat dia baik dan happy,” ujar Liana, Jumat (1/5/2026).

Pernyataan Razzi 

Dalam pernyataannya di media sosial, Razzi mengenang perjalanan selama tiga tahun bersama PSIM Yogyakarta yang penuh momen berkesan.

“Selama kurang lebih 3 tahun saya di sini, kita telah mencapai banyak momen bahagia bersama. Mulai dari juara Liga 2, kembali promosi ke Liga 1 setelah 18 tahun penantian, dan sedikit lagi memastikan untuk bertahan di Super League di tahun pertama PSIM kembali di kasta tertinggi,” tulisnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen pendukung klub, termasuk suporter.

“Teruntuk Brajamusti, The Maident, dan seluruh pecinta PSIM, terima kasih banyak atas segalanya selama saya berada di sini. Kalian sungguh luar biasa. Saya mohon maaf apabila selama saya di sini masih ada kekurangan dan kesalahan yang saya perbuat,” lanjutnya.

Razzi menegaskan bahwa selama menjabat, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk klub.

“Percayalah, di atas semua ketidaksempurnaan itu, saya selalu perjuangkan mati-matian dan mengedepankan PSIM di atas segalanya,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Razzi mengungkapkan alasan di balik keputusannya mundur.

“Atas pertimbangan yang sangat berat dan matang, saya memutuskan untuk menyudahi kebersamaan saya dengan PSIM untuk mencari tantangan yang baru, untuk karier profesional dan pribadi saya,” tutupnya.

7 laga tanpa kemenangan

Sebelumnya, kekalahan 0-1 dari Persita Tangerang di Stadion Sultan Agung, Bantul, Kamis (30/4/2026), kembali menyisakan kekecewaan bagi PSIM Yogyakarta.

Hasil ini bukan hanya memperpanjang puasa kemenangan menjadi tujuh laga, tetapi juga menegaskan persoalan klasik yang belum terpecahkan sepanjang musim.

Pelatih PSIM, Jean-Paul Van Gastel, menyoroti awal laga sebagai momen krusial yang menentukan jalannya pertandingan. Ia menyebut timnya langsung dihukum oleh efektivitas lawan.

“Kita bisa lihat di menit-menit pertama, peluang pertama dari Persita, mereka bisa mencetak gol. Setelah itu mereka bermain low block yang sangat sulit ditembus,” ujar Van Gastel.

Gol cepat Aleksa Andrejic pada menit ke-6 memang membuat PSIM berada dalam posisi tertinggal sejak awal. 

Setelah unggul, Persita memilih bertahan dalam dan mengandalkan disiplin lini belakang, situasi yang diakui Van Gastel menyulitkan timnya.

Meski demikian, ia menilai anak asuhnya tetap mampu menciptakan peluang. Hanya saja, efektivitas penyelesaian akhir kembali menjadi masalah utama.

“Kami sebenarnya menciptakan beberapa peluang. Tapi seperti yang terjadi sepanjang musim ini, kami butuh sangat banyak peluang hanya untuk mencetak satu gol,” katanya.

PSIM punya momentum

PSIM sempat mendapat momentum ketika kiper Cahya Supriadi menggagalkan penalti Pablo Ganet di babak kedua. 

Penyelamatan itu menjaga asa tuan rumah untuk bangkit, meski pada akhirnya gagal dimaksimalkan.

“Setelah penalti itu, kami masih bisa terus berjuang. Tapi ini tetap hasil yang mengecewakan,” tegas Van Gastel.

Lebih jauh, pelatih asal Belanda itu mengakui bahwa situasi yang dialami PSIM saat ini bukan hal baru. Ia bahkan menyebut pola yang sama terus berulang di setiap pertandingan.

“Anda bisa menanyakan pertanyaan yang sama di setiap laga, karena kenyataannya memang seperti ini. Kami sudah memberikan segalanya di paruh pertama musim, tapi tetap kesulitan,” ujarnya.

Van Gastel juga memberi sinyal bahwa timnya mungkin sudah mencapai batas perkembangan dalam kondisi saat ini, sebuah evaluasi jujur di tengah tekanan hasil.

“Pada titik tertentu, kami mencapai batas maksimal dari perkembangan kami,” pungkasnya.

Dengan hasil ini, PSIM masih tertahan di peringkat 11 klasemen sementara dengan 39 poin dan belum sepenuhnya aman dari ancaman degradasi.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.