TRIBUN-MEDAN.com - Pencuci piring MBG digaji Rp3,5 juta kini jadi sorotan.
Jumlah tersebut dibandingkan dengan gaji guru honorer.
Hal itu pun diprotes banyak pihak.
Baca juga: UNPAB Resmi Buka Program Studi Teknik Industri, Terima SK Izin dari Kemendiktisaintek
Menanggapi itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, buka suara.
Ia menanggapi keluhan terkait perbedaan upah antara pekerja pencuci piring MBG.
Sementara guru hanya memperoleh Rp800 ribu.
Baca juga: Polisi Ungkap Kondisi Bayi 3 Minggu yang Tewas di Tangan Orangtuanya di Deli Serdang
Dadan menyampaikan bahwa dirinya memang telah menerima berbagai keberatan dari masyarakat.
Salah satunya soal ketimpangan gaji antara tenaga pencuci piring MBG dan para guru.
“Makanya kita diprotes oleh banyak pihak karena lebih tinggi gaji karyawan, pencuci piringnya, omprengnya lebih tinggi dibanding guru honorer.
Mereka (pencuci piring) bergaji Rp2,4 hingga Rp3,5 juta per bulan, guru mungkin hanya rata-rata Rp600-Rp800 ribu,” kata Dadan.
Padahal Dadan mengungkapkan BGN merekrut para relawan SPPG dari masyarakat yang tergolong dalam kategori desil 1 hingga 4.
Mereka terdaftar dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Artinya, kelompok ini sebelumnya memiliki riwayat penghasilan rendah.
Bahkan berada di bawah angka Rp1 juta per bulan.
Pihaknya mengeklaim kebijakan pengupahan ini secara efektif mampu mendongkrak pendapatan masyarakat ekonomi lemah.
Menurutnya, program MBG kini berkontribusi langsung pada penurunan angka kemiskinan ekstrem di berbagai daerah.
Baca juga: Polisi Ungkap Kondisi Bayi 3 Minggu yang Tewas di Tangan Orangtuanya di Deli Serdang
“Alhamdulillah mereka sekarang sudah mulai meningkat pendapatannya, angka kemiskinan ekstrem mulai turun karena hampir 40 persen relawan yang bekerja di SPPG berasal dari desil 1-4,” katanya.
Di Sulsel, ada sebanyak 836 SPPG kini aktif beroperasi di 24 kabupaten/kota di Sulsel.
Setiap unit SPPG menerima dana operasional sebesar Rp1 miliar per bulan. Dana tersebut digunakan menopang aktivitas dapur.
Baca juga: LAKA MAUT Kereta Api, KA Argo Bromo Tabrak Avanza Rombongan Pengantar Haji, 4 Orang Tewas
Mulai dari pengadaan bahan baku pangan hingga operasional produksi.
"Beli apa? Sebanyak 70 persen atau sekitar Rp600 miliar untuk membeli produk pertanian, peternakan, dan perikanan," katanya.
Sejak program MBG mulai bergulir, jumlah SPPG di Sulsel terus bertambah secara bertahap.
Dadan Hindayana menyebutkan, total anggaran yang telah dikucurkan sejauh ini mencapai angka fantastis.
"Sampai bulan ini uang Badan Gizi di Sulsel sudah Rp1,9 triliun, ini uang besar beredar di masyarakat," kata Kepala BGN.
Baca juga: Gaji di Bawah UMR Masih Terjadi di Sumut, Bobby Minta Pengawasan Diperketat
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Brian Yuliarto sendiri meminta keterlibatan aktif perguruan tinggi di Sulsel dalam program ini.
Khususnya dalam aspek riset dan pengembangan.
"Siapa yang mengambil data kalau bukan dari dosen dan mahasiswa. Dari MBG sudah sibuk urus manajemen dan tata kelola. Yang riset kita," jelas Prof Brian Yuliarto.
Ia membuka peluang bagi kampus berperan langsung sebagai bagian dari ekosistem SPPG sekaligus pusat penelitian.
Baca juga: Respons Gubsu Bobby soal Masih Banyak Perusahaan Nakal yang Beri Gaji di Bawah UMR
"Ini karenanya kalau memungkinkan kampus menjadi SPPG dan untuk riset gizi, pangan, sirkular ekonomi, sampahnya. Ahli gizi akan trace. Kita harap 2-3 tahun sekarang muncul kajian," lanjutnya.
Saat ini di Sulsel, sedang dalam pengusulan 454 unit SPPG.
(*/ Tribun-medan.com)