TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Konsumen Vape Indonesia (Akvindo) menyoroti fase adaptasi sebagai tantangan terbesar bagi perokok dewasa yang ingin beralih ke produk tembakau alternatif.
Ketua Asosiasi Konsumen Vape Indonesia Paido Siahaan mengatakan, proses beralih tidak hanya soal mengganti produk, tetapi juga menyesuaikan kebiasaan dan pola perilaku yang sudah terbentuk lama.
"Dalam praktiknya, tantangan terbesar sering muncul di tahap adaptasi. Perbedaan sensasi, rasa, hingga kebiasaan sosial seperti merokok saat berkumpul bersama teman kerap menjadi hambatan," ujar Paido dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).
Ia menjelaskan, banyak perokok dewasa kesulitan karena adanya perubahan pengalaman saat menggunakan produk alternatif, seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, maupun kantong nikotin.
Selain itu, faktor pemicu seperti stres dan rutinitas harian juga kerap membuat seseorang kembali ke kebiasaan lama.
Untuk mengatasi hal tersebut, Akvindo mendorong pendekatan bertahap dan konsisten.
Salah satunya dengan mulai mengganti satu momen merokok dalam keseharian dengan produk alternatif, sambil menghindari situasi yang dapat memicu keinginan merokok.
"Tidak perlu langsung berhenti total. Mulailah dengan langkah kecil, seperti menggantikan satu momen merokok dalam rutinitas harian. Pendekatan ini cenderung lebih mudah dijalani dalam fase adaptasi," kata Paido.
Pandangan ini sejalan dengan riset yang dilakukan peneliti Angela Difeng Wu dari Universitas Oxford. Studi tersebut menyebutkan bahwa pendekatan bertahap dinilai lebih efektif karena membantu mengurangi kebiasaan merokok secara perlahan dibandingkan berhenti secara drastis.
Riset berjudul Electronic cigarettes for smoking cessation: An overview of systematic reviews and evidence and gap map yang dipublikasikan pada Maret 2026 itu juga menyoroti bahwa produk tembakau alternatif dapat menjadi alat bantu dalam proses transisi, khususnya pada tahap awal yang paling rentan.