Indonesia Tangguh di Krisis Energi, Nurdin Halid Puji Program B50-E20 Gagasan Bahlil
Ari Maryadi May 01, 2026 05:07 PM

TRIBUN-TIMUR.COM -- Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar Nurdin Halid (NH) mengapresiasi kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah gejolak perang Timur Tengah.

Energi global bergejolak di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak awal Maret 2026.

Dalam laporan terbaru JP Morgan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026, Indonesia menempati posisi kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap krisis energi, khususnya di sektor minyak dan gas.

Nurdin menilai capaian tersebut tidak terlepas dari kebijakan strategis pemerintah, terutama di bawah kepemimpinan Bahlil di sektor energi.

Menurutnya, langkah-langkah yang diambil pemerintah telah memperkuat fondasi kemandirian energi nasional.

“Ini bukan capaian yang datang tiba-tiba. Ada kerja sistematis dari hulu ke hilir yang dilakukan pemerintah. Saya melihat Menteri ESDM berhasil membaca situasi global dan menyiapkan Indonesia lebih tahan terhadap guncangan,” kata Nurdin Halid kepada wartawan Jumat (1/5/2026).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggunakan tiga strategi utama yang didorong pemerintah.

Pertama peningkatan produksi minyak dan gas domestik.

Kedua, diversifikasi energi melalui program biodiesel.

Ketiga pengembangan bahan bakar alternatif seperti bioetanol mer.

Menurut Nurdin, kebijakan seperti B50 dan E20 merupakan langkah konkret untuk menekan ketergantungan impor energi, yang selama ini menjadi titik lemah banyak negara.

“Negara-negara maju justru terpukul karena terlalu bergantung pada impor. Indonesia sekarang menunjukkan arah berbeda—memanfaatkan sumber daya sendiri sebagai kekuatan utama,” katanya.

Lebih lanjut, Nurdin Halid juga menilai langkah diversifikasi energi seperti pengembangan dimethyl ether (DME) dan compressed natural gas (CNG) sebagai substitusi LPG impor merupakan keputusan strategis di tengah ketidakpastian rantai pasok global.

Dalam laporan JP Morgan, ketahanan energi Indonesia ditopang oleh tingginya produksi batu bara domestik serta kapasitas sebagai eksportir utama batu bara termal dunia.

Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai salah satu produsen gas alam penting secara global.

Nurdin menegaskan, capaian ini harus menjadi momentum untuk mempercepat transisi energi nasional, termasuk pengembangan energi terbarukan agar ketahanan energi tidak hanya kuat dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan.

“Ke depan, kita tidak boleh berhenti. Ketahanan energi harus dibarengi dengan transisi menuju energi bersih agar Indonesia tidak hanya tahan krisis, tetapi juga kompetitif di masa depan,” ujarnya.

Nurdin berharap sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat terus diperkuat guna menjaga momentum positif tersebut di tengah dinamika energi global yang kian kompleks.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.