Pola dan Motif Helau Batik Datang dari Insting, Emosi hingga Ikon Daerah
Reny Fitriani May 01, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Sepasang suami istri tampak kompak membuat batik bersama. Sang suami dengan terampil mengoleskan lilin pada kain menghasilkan motif abstrak, sementara istinya dengan cermat memberi warna pada motif batik yang telah dibuat. 

Suasana ini tampak di Galeri Helau Batik Lampung yang beralamat di Gg. Jambu II, RT 008, Kemiling Raya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Jumat (1/5/2026).

Di balik keindahan motif kain batik kontemporer yang mereka hasilkan, tersimpan kisah perjuangan pasangan Eko Wahyudi dan Eka Sri Hariyanti. 

Helau Batik Dikenal Berkat Sentuhan Motif Kontemporer, Ide 

Keduanya merupakan sosok di balik brand Helau Batik, yang kini mulai dikenal berkat sentuhan motif kontemporer yang unik dan berbeda dari batik tradisional pada umumnya.

“Awalnya saya belajar membatik atas dorongan kepala sekolah, kebetulan saya dulu merupakan guru SLB,” ungkap Eko.

Saat itu, ia mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan membuat batik di Batik Siger selama tiga minggu. 

Setelah pelatihan tersebut, Eko mulai mengajarkan keterampilan membatik kepada anak-anak di Sekolah Luar Biasa (SLB), sekaligus aktif dalam program pemberdayaan masyarakat.

Sejak tahun 2017, Eko semakin tertarik dan serius menekuni batik dan memutuskan resign dari SLB.

Sebelum membuaka galeri batik sendiri, selama beberapa tahun Eko menjadi perajin batik di Batik Siger.

Pada tahun 2019 ia memberanikan diri untuk membuka usaha batiknya sendiri, dengan dukungan dari Ibu Una, Eko didorong untuk tidak sekadar membuka galeri sendiri, melainkan menghadirkan identitas yang berbeda agar mampu berkembang.

Inspirasi tersebut membawanya menjelajahi berbagai referensi batik, termasuk batik kontemporer dari Yogyakarta seperti Banyusabrang. 

Dari situlah muncul gagasan untuk mengangkat motif khas Lampung ke dalam gaya yang lebih modern dan abstrak. 

“Pola dan motif batik itu sepenuhnya dari insting saya, jadi setiap kain motifnya tidak bisa sama,” jelas Eko.

Eko mengaku sering mengandalkan intuisi.

Ide bisa datang dari emosi, seperti perasaan sedih atau refleksi pribadi, yang kemudian dituangkan dalam bentuk motif abstrak. 

Dari coretan awal, ia mengembangkan bentuk-bentuk seperti daun, bunga, hingga elemen alam yang dipadukan secara artistik.

Selain motif abstrak, Helau Batik juga menghadirkan batik tulis yang sarat makna dan ikon daerah. 

Misalnya, motif dari Pesawaran yang menggambarkan Masjid Islamic Center, hasil bumi seperti kakao dan kopi, hingga rumah adat dan kekayaan alam setempat. 

Ada pula motif Lampung Tengah yang terinspirasi dari komoditas seperti tebu dan singkong, serta ikon daerah lainnya.

Eko memadukan unsur tradisional Lampung dengan teknik sapuan kuas dan komposisi bebas khas seni kontemporer serta teknik cap dan sedikit teknik batik tulis dalam satu kain batik.

Bagi Eko memulai usaha bukanlah perkara mudah. 

Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, sempat membuat usahanya terhenti dan mengalami kebingungan arah. 

Meski demikian, semangatnya tidak padam.

Ia kembali bangkit pada 2021 dengan mulai memproduksi kain batik lagi secara mandiri dan dibantu sang istri.

Titik balik terjadi pada 2022, ketika saat itu salah satu karyanya yang dititip jualkan di galeri Batik Siger dilirik oleh pihak Bank Indonesia. 

Melalui kesempatan mengikuti bazar bersama komunitas Lampung Craft, Helau Batik mulai dikenal publik. 

“Banyak yang menilai motif Helau batik ini memiliki keunikan tersendiri karena mengusung gaya kontemporer dengan sentuhan abstrak,” jelas Eko.

“Pernah kita ikut bazar, semua kain diborong habis oleh bunda Eva,” tambahnya.

Dalam hal produksi, satu kain batik dapat diselesaikan dalam waktu beberapa jam hingga setengah hari, tergantung tingkat kerumitan. 

“Kita masih produksi berdua, jadi dalam sehari maksimal 5 kain kalau mood sedang bagus,” tuturnya.

Dalam sebulan, Eko menargetkan produksi sekitar 20 lembar kain, meski realisasinya berkisar antara 10 hingga 15 lembar.

Untuk harga, Helau Batik menawarkan variasi yang cukup beragam.

Batik kontemporer sederhana dijual mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, sementara karya dengan proses lebih rumit dan batik cerita dapat mencapai Rp 1 juta per lembar.

Meski menghadapi berbagai tantangan, seperti menjaga konsistensi produksi dan pemasaran, Helau Batik perlahan menunjukkan perkembangan. 

Dukungan dari pemerintah daerah dan berbagai instansi turut membantu memperluas jangkauan pasar. 

Bahkan, produk mereka telah menjangkau luar daerah seperti Boyolali, Bekasi, hingga Padang.

Di balik kesuksesan tersebut, peran Eka Sri Hariyanti sebagai istri sekaligus marketing juga sangat penting. 

Ia mulai aktif membantu sejak 2021, terutama dalam hal pemasaran dan pengelolaan usaha. Berkat kerja sama keduanya, Helau Batik kini semakin dikenal dan memiliki pelanggan setia.

“Dari awal hanya satu-dua orang yang mengenal, sekarang alhamdulillah semakin banyak yang datang dan membeli,” ujar Eka.

Melalui Helau Batik, mereka tidak hanya menciptakan karya seni yang indah, tetapi juga mengangkat identitas budaya Lampung ke panggung yang lebih luas dengan sentuhan modern yang segar.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.