TRIBUNLOMBOK.COM - Para pembalap wanita yang ambil bagian dalam ajang Mandalika Kartini Race 2026 menyatakan perjuangannya mengatasi tantangan sirkuit di pesisir selatan Pulau Lombok.
Delapan pembalap menjajal Pertamina Mandalika International Circuit dalam sesi latihan bebas yang digelar pada Jumat (1/5/2026).
Meskipun sesi sempat terganggu akibat salah satu kendaraan yang keluar lintasan menuju area gravel sehingga harus menunggu lintasan kembali bersih, para pembalap tetap antusias menyambut pengalaman perdana mereka di sirkuit sepanjang 4,31 kilometer ini.
Salah satu pembalap Alexandra Asmasoebrata mengaku terkejut sekaligus kagum dengan kualitas Sirkuit Mandalika.
Bagi Alexandra, ini merupakan kali pertama ia membalap di Indonesia setelah sebelumnya lebih banyak mengasah kemampuan di ajang Formula Renault Asia serta sirkuit gokart di Filipina dan Malaysia.
"Sirkuitnya bagus banget, kaget bahwa Indonesia bisa punya sirkuit seperti ini," ungkap wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Women in Motorsport (WIM) di bawah naungan Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini.
Baca juga: Sean Gelael Bidik Podium GT World Challenge Asia Mandalika di Balapan Perdananya
Kondisi lintasan yang sempat basah akibat hujan turut mewarnai jalannya sesi latihan. Meski demikian, Alexandra menyebut permukaan aspal masih memiliki cengkeraman yang cukup memadai untuk dilintasi.
Baginya, sesi kali ini juga menjadi pengalaman pertama mengemudikan kendaraan touring, sehingga masih banyak hal baru yang harus dipelajari. Kendati demikian, ia memasang target ambisius untuk meraih podium dalam balapan tersebut.
Berdasarkan hasil Latihan ini, Alexandra mengaku yakin bisa mendapatkan hasil positif dalam kualifikasi maupun balapan utama.
"Targetnya sih podium. Lihat kondisi sirkuit dan mobil, saya inginnya bisa naik podium," jelasnya.
Direktur MGPA Priandhi Satria menjelaskan ajang balap khusus wanita pertama yang digelar di Sirkuit Mandalika, hasil kolaborasi antara MGPA, IMI melalui divisi WIM, serta Trida selaku penyedia kendaraan Agya bekerja sama dengan Toyota.
Gagasan ini lahir karena mobil Agya tidak digunakan pada putaran pertama, sehingga dimanfaatkan untuk melahirkan kompetisi yang bermakna.
Delapan pembalap wanita akan bersaing menggunakan delapan kendaraan Agya berlivery unik bergaya warna-warna lembut, di mana setiap kap mesin dan bagasi menampilkan motif destinasi wisata unggulan Indonesia, seperti Candi Borobudur, Mandalika, Bali, hingga Sarinah.
Format balapan menggunakan sistem reguler tanpa aturan khusus tambahan.
"Siapa yang cepat dia yang menang," kata Priandhi.
Balapan digelar berkisar antara delapan hingga sepuluh lap sesuai keputusan race control.
Ajang ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini, Hari Emansipasi Nasional Wanita, sekaligus Women International Day.
Priandhi berharap Kartini Race dapat berlanjut secara konsisten di tahun-tahun mendatang dan berkembang menjadi seri reguler yang digelar empat hingga lima kali dalam setahun.
(*)