TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Semilir angin terasa dingin. Halaman rumah orang tua pemuda yang berhadapan dengan sawah kini disulap menjadi lokasi kantor bisnis. Serta memajang hasil usahanya.
Hidup di desa tak membuat pemuda lulusan Magister Filsafat Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung ini minder. Adalah Munawir Muslih (22) yang hidup di desa mengembangkan usaha dan memberdayakan 3 pemuda sekitar untuk berkarya digital printing.
Awalnya mengontrak, saat ini bisa membuat sepetak bangunan untuk kantor bisnis sendiri. Tepatnya di RT 10 RW 02 Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.
Awal mula Munawir mencoba bisnis lantaran terbentur biaya. Kala Munawir menyelesaikan Strata Satu Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di kampus yang sama.
Baca juga: Jual Beli Kamar Sultan di Lapas Blitar, Kriminolog Desak Kementerian dan DirjenPAS Audit Berkala
Sebagai anak pertama dari 3 bersaudara, Munawir memilih untuk menjadi reseller lanyard atau tali yang dikalungkan di leher sebagai tanda pengenal.
Tahun 2022 itulah cikal bakal jiwa pebisnisnya dibentuk. Sembari menyelesaikan kuliah semester akhir, mulai sibuk memikirkan bisnis.
"Usaha ini berawal dari terbentur biaya kampus, masih semester 6. Karena saat itu ya apa ya uang saku kuliah itu memang tipis jadi saya mencoba terobosan-terobosan baru agar mendapatkan pundi-pundi rupiah," ujar Munawir Muslih ditemui di kediamannya, Jum'at (1/5/2026).
Pemuda yang saat ini berusia 25 tahun ini mengisahkan saat itu harus membagi waktu antara kuliah dan usaha yang ia rintis.
Dengan manajemen waktu, dibantu teman-teman yang ikut mensupport, hingga sampai sekarang usahanya berjalan dan bisa survive.
Pemuda yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Al Kamal Kunir Blitar dan Ponpes Mbah Dul Tulungagung ini mengaku banyak suka suka dalam menjalani bisnis.
Salah satunya menurut Munawir terletak pada pemasaran. Sebagai pemain baru di bidang digital printing, kesulitan untuk mengenalkan kepada customer.
"Kita belum dikenal otomatis kita harus cari-cari dulu. Siapa yang mau beli produk kita, supaya produk kita itu laris supaya supaya dibeli oleh orang itu kesulitannya," bebernya.
Untuk sukanya, ia bisa memberdayakan pemuda yang ada di sekitar desa. Yang dulu awalnya kerja harian, ia bersyukur sekarang bisa menggaji secara bulanan.
Produk yang bisa dilayani Munawir mulai dari souvenir kit, book note, buku Yasin tahlil. Bolpoin custom, sablon kaos, tote bag, souvenir, piala, akrilik, hingga gantungan kunci.
"Misal di souvenir pernikahan juga bisa, souvenir atau seminar-seminar. Lalu baju PDH, gantungan kunci. Kita juga ada apa ya print buku dan lain-lain," tambahnya.
Perihal customer, dirinya mengaku selama ini customer itu kebanyakan dari online. Pasalnya ia membuka marketplace di Shopee dan Tokopedia. Lalu juga ada yang dari offline mungkin dari Tulungagung maupun Trenggalek.
"Bahkan ada yang sempat ikut offline itu dari luar pulau juga kami layani," paparnya.
Omzet yang Munawir peroleh mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Hasil tersebut selain untuk menggaji karyawan, operasional usaha hingga untuk membeli alat produksi.
"Omzet untuk offlinenya alhamdulilah puluhan juta per bulan," akuinya.
Pemuda yang baru saja dilantik sebagai Pengurus Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Trenggalek ini menerangkan pesan kepada para pengusaha muda atau yang ingin merintis usaha agar jangan takut memulai sebuah usaha.
"Karena usaha meskipun itu kecil itu bukan aib. Dan itu juga menghasilkan. Jadi Kalau misal usahanya belum jalan, tetap semangat. Soalnya kita pasti ada waktu di mana produk yang kita jual itu akan terjual habis," pesannya.
Ditanya soal kelebihan dibanding lainnya, dirinya mengaku selalu menjaga kualitas. Sedangkan untuk harga ia bermain agar lebih kompetitif dibanding tempat lainnya.
Baca juga: Tim Kanwil Ditjenpas Jatim Investigasi Jual Beli Kamar Sultan di Lapas Blitar, 3 Petugas Dicopot
Perihal peluang dan tantangan kedepan, ia menyebutkan sangat kompleks. Peluang besar karena kebutuhan digital printing sudah menjadi kebutuhan masyarakat dalam segala kegiatan atau usaha.
Sementara untuk tantangan yang dihadapi adalah menjaga kualitas tetap bagus. Serta pemain bisnis digital printing sudah banyak menjamur, sehingga ia akan berusaha memberikan yang terbaik bagi customer.
"Tantangannya pemain besar digital banyak, bagaimana supaya bermain cantik dengan daya tawar yang bagus," tandasnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)