TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Camat Biringkanaya, Maharuddin, menyiapkan langkah antisipatif menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino atau kemarau panjang yang diperkirakan melanda tahun ini.
Berdasarkan pengalaman tahun 2023, sedikitnya empat kelurahan di Kecamatan Biringkanaya berpotensi terdampak, yakni Untia, Bulurokeng, Katimbang, dan Paccerakkang.
Maharuddin menjelaskan, pemerintah kecamatan tidak menunggu kondisi memburuk.
Sejumlah langkah mitigasi telah disiapkan melalui koordinasi lintas sektor.
“Berdasarkan pengalaman tahun 2023, ada empat kelurahan yang berpotensi terdampak,” ujarnya kepada Tribun-Timur.Com, Jumat (30/4/2026).
Ia menegaskan, skema penanganan yang akan berfokus pada pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Distribusi air bersih akan dilakukan menggunakan mobil tangki, termasuk bantuan dump truck untuk mengangkut tandon air ke titik-titik yang membutuhkan.
“Metodenya masih sama seperti sebelumnya, yakni distribusi air bersih secara langsung ke warga menggunakan mobil tangki dan tandon,” jelasnya.
Selain itu, upaya jangka menengah juga dilakukan melalui pembangunan sumur dalam oleh Dinas Pekerjaan Umum di sejumlah lokasi rawan.
“Sumur dalam sudah ada di beberapa titik, tapi belum masif. Karena wilayah yang harus diantisipasi cukup banyak, maka distribusi air masih menjadi langkah utama,” katanya.
Maharuddin mengungkapkan, hingga saat ini belum ada laporan wilayah yang mengalami kekeringan.
Namun, kondisi di Kelurahan Untia menjadi perhatian khusus.
Di wilayah tersebut, sebagian warga sudah terbiasa membeli air bersih akibat pasokan dari PDAM yang belum sepenuhnya lancar, bahkan di luar musim kemarau.
“Memang pasokan air kurang lancar di Untia, baik buka musim kemarau,” ungkapnya.
Untuk memastikan penanganan berjalan efektif, Maharuddin juga mengandalkan peran aktif perangkat wilayah hingga tingkat bawah.
RT/RW bersama relawan dilibatkan dalam proses distribusi air sekaligus pemantauan kondisi di lapangan.
Mereka juga menjadi penghubung utama antara warga dan pemerintah.
“RT/RW yang memantau langsung di lapangan. Kalau ada kondisi darurat, mereka yang melaporkan, lalu diteruskan ke BPBD,” jelas Maharuddin.
Ia menambahkan, seluruh kebutuhan dan penanganan di wilayah tetap terpusat melalui koordinasi dengan BPBD sebagai penanggung jawab utama penanganan kebencanaan.
"Kerja-kerja penanganan yang dilakukan itu terpimpin, terpusat, terkoordinasi. Dengan begitu kita berharap bisa melewati masalah ini dengan baik," ucapnya.