TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Seorang siswa kelas 5 SD bernama Fransiskus Sirilus Naga (14), warga Dusun Paga Barat, Desa Paga, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berjuang melawan ombak di tengah laut demi mencari ayahnya, Yohanes Wangge (44) yang hilang saat melaut sejak Selasa, 28 April 2026.
Meski masih belia, Fransiskus dengan keberanian besar ikut turun ke laut menggunakan sampan membantu proses pencarian sang ayah bersama warga dan nelayan setempat.
Ditemui Tribunflores.com pada Jumat, 1 Mei 2026, Fransiskus baru saja kembali dari laut setelah ikut mencari ayahnya. Raut wajahnya tampak sedih dan penuh harap akan keberadaan sang ayah yang hingga kini belum diketahui.
Menurut ibunya, Yunia Marta Dei (37), Fransiskus tidak takut ke laut karena sejak kecil sering diajak ayahnya melaut, sehingga terbiasa menghadapi ombak.
Baca juga: Pencarian Nelayan Hilang di Paga Sikka Diperluas, Tim SAR Minta Kapal-kapal di Laut Sawu Pantau
Namun, fakta yang juga sebenarnya terjadi adalah keterbatasan tenaga dan fasilitas yang akhirnya memaksa anak kecil itu bertaruh nyawa di tengah laut.
Sungguh sangat memprihatinkan, bocah cilik itu dipaksa oleh keadaan, siap mati di tengah laut. Ia harus meninggalkan kenyamanannya sebagai anak kecil yang seharusnya masih bermain-main dengan teman sebayanya.
Ia berani mengambil resiko terbesar dalam hidupnya meski beberapa bulan lagi ia akan bergembira karena menerima sakramen ekaristi dalam Gereja Katolik.
Saat diwawancarai, ia hanya ingin ayahnya segera ditemukan, segera kembali ke rumah berkumpul bersama keluarga.
Senyumannya begitu polos layaknya anak kecil pada umumnya, namun pada lubuk hatinya yang paling dari tersimpan beban hidup yang sungguh luar biasa.
Memang benar hingga kini, proses pencarian masih terus dilakukan oleh Basarnas bersama warga sekitar.
Masyarakat juga turut membantu secara swadaya, termasuk mengumpulkan dana untuk kebutuhan bahan bakar dan logistik pencarian. Namun itu belum cukup.
Menurut pengakuan Yunia, istri korban, tetangga sekitar juga membantu mengumpulkan uang hanya untuk mencari suaminya.
“Warga bantu kami, tiap KK Rp100 ribu untuk bekal dan BBM perahu,” ujar Yunia.
Yunia juga mengungkapkan, suaminya dalam kondisi kurang sehat saat pergi melaut.
Ia mengalami stroke ringan pada tangan kanannya beberapa bulan lalu. Namun demi menghidupi keluarga, ia harus melaut untuk mendapatkan ikan. Jika ikan itu didapat, bisa dijual untuk membiayai hidup keluarga.
Ia menambahkan bahwa jika saja sang suami kembali bersama nelayan lainnya, pasti peristiwa naas itu tidak terjadi.
Namun karena terhimpit oleh keadaan, sang suami memilih bertahan di laut sendirian menangkap ikan untuk menambah jumlah hasil tangkapan yang masih sedikit.
Hingga akhirnya, peristiwa yang tak diinginkan itu benar-benar terjadi. Suaminya tak kunjung pulang hingga hari ini.
Saat diwawancarai Yunia menangis. Ia menangisi sang suami yang belum ditemukan dan juga menangis mengingat nasib ketiga anaknya jika suaminya tak pernah kembali.
Kata dia, tiga anaknya belum bisa mencari nafkah secara mandiri. Anaknya yang pertama baru saja tamat SMA. Yang kedua, Fransiskus baru kelas 5 SD. Yang ketiga masih balita.
Pihak Basarnas telah mencari suaminya selama tiga hari. Hingga hari ketiga, hasilnya masih nihil. Sang Suami belum diketahui keberadaannya.
Ia hanya berharap kiranya ada bantuan dari pihak terkait untuk membantu mencari suaminya.
Harapan yang sama juga disampaikan ibu Yunia yakni Bernadeta Mbago. Saat diwawancarai, Bernadeta juga menangis mengingat suami dari anaknya tersebut.
Ia hanya berharap kiranya ada bantuan dari luar untuk membantu menemukan korban. "Tiap hari kami memasak untuk nelayan yang mencari anak mantu saya. Jika uang kurang tetangga bantu kami," akunya.
Pj Camat Paga, Martina Leto Odel diwawancarai terpisah juga menjelaskan korban terakhir kali melaut bersama rekan-rekannya pada Selasa subuh, 28 April 2026.
Saat rombongan lain kembali ke daratan, korban memilih tetap melanjutkan aktivitas karena ingin menambah hasil tangkapan.
“Sejak saat itu korban tidak kembali dan dinyatakan hilang,” ujarnya.
Ia mengakui pencarian dari warga dan Basarnas hingga kini terus dilakukan.
Ia menghimbau nelayan lainnya agar menjaga diri saat melaut. "Pergi ke laut jangan sendiri sendiri. Hendaknya bersama teman," ungkapnya.