Karyawan Sejahtera
Abdul Azis Alimuddin May 02, 2026 12:06 AM

Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang

TRIBUN-TIMUR.COM - Hari Buruh Sedunia May Day dijadikan sebagai hari libur resmi banyak negara, termasuk Indonesia.

Di Jepang, bulan Mei ada rangkaian libur panjang diawali tanggal 29 April sebagai hari Showa (Showa no Hi) yakni peringatan awal pemerintahan Kaisar Hirohito tahun 1926 masuk era baru Showa.

Lalu Hari Peringatan Konstitusi, Hari Hijau, Hari Anak yang berturut tangal 3 hingga 5 Mei.

Jadilah dikenal sebagai libur ‘Golden Week’.

Tapi tidak libur pada May Day.

Baca juga: Langkah Aktif Kesehatan

Secara umum, perekrutan karyawan di Jepang ada beberapa jenis.

Yang pertama, Senshain atau karyawan tetap full time.

Berhak memperoleh berbagai tunjangan, bonus dan kenaikan gaji.

Kedua, Keiyakushain atau karyawan pekerja kontrak.

Biasanya direkrut jangka pendek sekitar setahun.

Umumnya memperoleh gaji bulanan plus tunjangan transportasi, dan tunjangan pensiun.

Ketiga, tenaga paruh waktu sering diistilahkan sebagai Arubaito.

Belakangan makin populer dipilih mahasiswa, fresh graduate atau ibu rumah tangga.

Bisa memilih jam kerja berdasar waktu luang.

Dibayar perjam plus biaya transportasi.

Keempat, karyawan temporer melalui outscourcing, dikenal sebagai Haken Shain.

Hanya bekerja berdasar kesepakatan jangka waktu yang disepakati.

Lalu apakah pekerja Jepang bisa sejahtera secara ekonomi?

Jika melihat nilai, standar gaji pekerja sudah bisa hidup layak.

Secara umum, Jepang tidak menetapkan UMR nasional, tapi setiap prefektur menetapkan Upah Minimun masing-masing.

Untuk jenis pekerja Arubaito, upah Tokyo tahun lalu sekitar 1.226 Yen atau sekitar 130 ribu rupiah perjam.

Di prefektur lebih rendah, misalnya di Osaka hanya 1,177 yen perjam.

Sementara untuk jenis karyawan tetap Senshain, rata rata gaji mencapai 4,5 - 5,0 juta yen atau sekitar 480 - 530 juta pertahun sudah termasuk bonus.

Dari upah ini, apakah mereka bisa hidup layak nyaman?

Karyawan tetap Senshain Umumnya bisa hidup sangat nyaman.

Karena biaya hidup hidup senditi kurang lebih berkisar 150.000-200.000 ribu yen perbulan.

Meskipun gaji terkena potongan 20-30 persen untuk asuransi kesehatan, pensiun, pajak, tetap saja mereka bisa hidup nyaman dan menabung.

Bagi pekerja kontrak atau partime, mereka harus bekerja ekstra keras atau menambah penghasilan dari lembur.

Bagusnya, lowongan pekerjaan di Jepang cukup banyak tersedia.

Untuk bisa menghidupi keluarga, sangat banyak yang berusaha bekerja di dua tempat.

Kereta malam hari Jepang selalu dipenuhi wajah kelelahan atau tertidur kecapekan.

Perjuangan para pekerja mencari standar kehidupan nyaman sejahtera, bukan hanya di Indonesia saja.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.