Tribunlampung.co.id, Deliserdang - Bayi perempuan tewas dengan luka memar di area wajahnya di Desa Batang Kuis Pekan, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deliserdang.
Bayi berusia 3 minggu itu dilaporkan tewas pada Kamis (30/4/2026). Ia diduga menjadi korban penganiayaan oleh orangtuanya sendiri, ES (26) dan R (20).
Melansir TribunMedan, korban sempat dibawa ibu dan tetangganya ke Puskesmas Batang Kuis. Di sanalah baru diketahui adanya tanda-tanda kekerasan.
Nahas, korban sudah dinyatakan meninggal sebelum mendapatkan penanganan medis.
Setelah itu pihak Puskesmas pun berkoordinasi pada Polsek setempat. Selanjutnya, pihak Polsek membawa jenazah korban ke rumah sakit Bhayangkara untuk dilakukan autopsi.
Baca juga: Anak Bupati Jeneponto Diduga Aniaya Mantan Pacar, Korban Lapor Polisi
"Kedua orangtua korban sudah kita amankan dan sekarang kasusnya kita serahkan ke Unit PPA Polresta. Kalau pengakuan ayahnya katanya dia mau mukul ibunya tapi kena anaknya tapi kita nggak percaya makanya mau didalami lagi," ujar Kanit Reskrim Polsek Batang Kuis, IPDA Tabiul Hidayat.
Dayat bilang kalau ini adalah anak pertama dari pasangan suami istri tersebut. Mereka tinggal di daerah tersebut dengan mengontrak rumah.
Kejadian ini pun sempat membuat warga lain heboh. Polisi sudah mengamankan TKP dan memeriksa saksi-saksi.
"Jenazahnya sudah dikebumikan tadi malam setelah kita bawa lebih dahulu ke Rumah Sakit Bhayangkara," kata Hidayat.
Keduanya sedang menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Deliserdang.
"Masih diperiksa dulu. Sabar ya (belum penetapan tersangka), kita harus periksa secara profesional dulu," ujar Humas Polresta Deliserdang, Iptu JM Gabe Napitupulu, Jumat (1/5/2026).
Gabe membenarkan kalau di wajah korban terdapat luka memar. Karena itu jasad korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Medan.
"Ada luka memar pada hidung dan pipi kiri di bawah mata selain itu juga ada luka memar di bagian kepala belakang," kata Gabe.
Yusni, tetangga terduga pelaku penganiayaan anak bayi berumur tiga minggu mengatakan, orangtua korban, baru sekitar 4 bulan tinggal di dekat rumahnya.
Saat pindah, kondisi perempuan masih hamil. Ia pun sempat merasa prihatin dengan kehidupan keluarga ini.
"Suaminya itu malas, kerjanya tukang tapi kadang diajak kerja pun nggak mau. Istrinya itu cinta kali walau pun sudah sering dipukuli.
Rumah yang ditempati ini rumah orang lain, mereka nggak ngontrak cuma disuruh nempati saja. Kalau malam ya sering dengar berantam dan teriak.
Kalau anaknya dianiaya ya kami nggak tau kapan cuma ya memang sering nangis dengar kami," kata Yusni.
Dari pengakuan para tetangga, banyak kasihan dengan kondisi anak yang dilahirkan. Proses lahiran disebut telah dibantu pemerintah desa.
Bahkan saat lahir, banyak orang yang menyumbangkan susu untuk anaknya. Hanya saja, sebagian susu justru dijual oleh ayahnya.
Menurutnya, sang istri juga sudah mengaku kepada polisi ikut terlibat menganiaya sang anak. Hal ini diketahuinya saat Polisi mendatangi rumah atau tempat kejadian.