Pelaku Pembunuhan Ustadzah di Sungaiulin Banjarbaru Dibekuk, Tinggal di Gubuk Dekat Rumah Korban
Ratino Taufik May 02, 2026 07:51 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Duka mendalam dirasakan keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Muraa’tul Lughah Martapura. Seorang ustadzah di ponpes tersebut, Hasanah (25), ditemukan meninggal di sebuah lahan kosong di Jalan Seledri, Sungaiulin, Banjarbaru, Rabu (29/4) malam, akibat menjadi korban pembunuhan.

Hasanah diketahui tinggal bersebelahan rumah neneknya di Jalan Seledri RT 020 RW.005, Sungaiulin, Banjarbaru. Rumah Hasanah ternyata hanya berjarak sekitar 200 meter dari tempat jasad korban ditemukan.

“Setahu saya almarhumah itu pindah ke Jalan Seledri sejak ayahnya meninggal sekitar kelas dua madrasah aliyah, atau sekitar sepuluh tahun lebih,” kata Shopia (26), teman almarhumah mengajar di Pondok Muraa’tul Lughah Martapura, Jumat (1/5).

Dijelaskan Shopia, selama ini Hasanah mengajar ilmu Bahasa Arab (nahwu sharaf) di Ponpes dan orangnya terkenal sosok yang ceria dan dicintai oleh santrinya. “Selama belakangan ini almarhumah juga tak pernah cerita ada masalah apapun dan tidak pernah ada masalah. Orangnya baik-baik saja,” cerita Shopia.

Shopia bersama ustazah Hasanah, angkatan pertama di pondok sekitar 2015. Karena itu sudah hafal keseharian korban. Kebetulan di pondok bukan sistem asrama, jadi santri dan pengajar pulang-pergi. “Sehingga Rabu sore itu kami mencari keberadaan almarhumah karena tak masuk mengajar,” ceritanya.

Baca juga: Daftar Rumah dan Bangunan di Tanahlaut Kalsel yang Hancur Diterjang Angin, Tak Mungkin Dihuni Lagi

Dan berkat kerja keras polisi, pelaku pembunuhan Hasanah dibekuk, Jumat (1/5). Kasi Humas Polres Banjarbaru, Ipda Kardi Gunadi pada Jumat malam menyebut dua pelaku sudah tertangkap. “Alhamdulillah terungkap dua orang,” tulis singkat Kasi Humas Polres Banjar, Iptu Kardi Gunadi saat dikonfirmasi.

Namun mengenai identitas pelaku dan motif, Ipda Kardi berjanji akan mengungkapkannya dalam konfrensi pers di Polres Banjarbaru, Sabtu hari ini.

Adapun dari informasi didapat, rumah salah satu pelaku berada di gubuk sebelum menuju ke rumah korban.

Penemuan jasad korban bermula korban yang menyambi jadi penjaga toko aksesoris, biasanya pulang dari tempat kerjanya, sekitar pukul 19.00 Wita. Namun, pada Rabu itu, orangtua sambung korban mendapat kabar dari Ponpes bahwa Hasanah tidak masuk mengajar.

Belakangan, pihak toko aksesoris tempat korban bekerja sampingan juga melaporkan hal yang sama, bahwa Hasanah tidak masuk kerja. Bahkan nenek korban menyebut jika Hasanah sudah tidak pulang sejak Selasa (28/4).

Hingga akhirnya kabar mengejutkan datang pada malam harinya. Korban ditemukan sudah tidak bernyawa di bawah gundukan yang ditumbuhi semak-semak tak jauh dari rumah. Kondisi tubuh korban saat ditemukan banyak luka dan lebam membiru. Sementara sepeda motornya sudah ditemukan terlebih dahulu pada siang harinya.

Kasi Humas Polres Banjarbaru, Ipda Kardi Gunadi, mengatakan dari hasil pemeriksaan oleh dokter, pada tubuh korban ditemukan tanda-tanda kekerasan.

Bagian wajah korban ditutup kain yang merupakan baju gamis warna cokelat Hasanah yang dililitkan di wajahnya. Kerudung korban warna cokelat yang melingkar dan diikat kuat dimulut korban dengan dua kali ikatan simpul mati.

Hasil autopsi, tengkuk belakang kepala korban patah, hidung dan telinga mengeluarkan darah, luka lecet dibagian bibir, beberapa gigi patah, rahang bawah patah, trauma tumpul bagian kepala, hingga jempol kanan korban juga patah dan beberapa luka di area luar dan dalam tubuh lainnya.

Kardi menyebut, hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan seksual. “Tidak ada ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual, korban diduga meninggal dunia akibat adanya trauma tumpul yang dihantamkan keras ke bagian kepala,” ujarnya.

Lanjut Kardi, menurut keterangan orang tua angkat korban, bahwa sejumlah barang berharga milik korban ada yang hilang seperti emas dan handphone. (banjarmasinpost.co.id/nurholis huda/rizki fadilah)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.