Gunung Merapi Luncurkan Lava Pijar Sebanyak 26 Kali Selama 6 Jam Terakhir
Hari Susmayanti May 02, 2026 08:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aktivitas pergerakan magma di puncak Gunung Merapi selama enam jam terakhir masih cukup tinggi.

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, selama enam jam terakhir mulai pukul 00.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB, tercatat ada 26 kali guguran lava pijar ke arah Kali Sat/Putih.

Guguran lava pijar ini meluncur sejauh maksimal 2000 meter.

Selain itu, suplai magma dari dalam perut bumi ke puncak masih terus terjadi.

Hal itu terlihat dari aktivitas kegempaan yang masih cukup tinggi.

Tercatat ada 42 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-35 mm dan lama gempa 56.68-195.84 detik.

 Lalu 8 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-33 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 15.71-45.75 detik.

 Sementara secara visual, Gunung Merapi terlihat cukup jelas.

Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 10 meter dari puncak.

Cuaca di puncak terpantau cerah dengan arah angin ke barat.

Suhu udara berkisar 19-19.6°C dengan kelembaban 80-84.5 perse dan tekanan udara 871.5-914.8 mmHg.

Hingga saat ini Gunung Merapi masih berstatus level III.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Sabtu 2 Mei 2026, Hujan Diprediksi Guyur Sebagian Besar Wilayah di DIY

Rekomendasi Bahaya bagi Masyarakat

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan potensi bahaya utama di sektor selatan-barat daya dan tenggara.

Masyarakat diimbau untuk menjauhi radius berbahaya sebagai berikut:

1. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awanpanas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

2. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awanpanas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

3. Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.

4. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awanpanas guguran (APG) terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.

5. Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi.

6. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.