TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU-Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Pasangkayu tak hanya berlangsung khidmat, tetapi juga memukau lewat suguhan seni budaya yang sarat makna.
Usai pelaksanaan upacara di halaman Kantor Bupati Pasangkayu, Sabtu (2/5/2026), perhatian ratusan peserta langsung tertuju pada penampilan tarian adat Mandar bertajuk Siri Persimpangan Zaman.
Tarian tersebut dibawakan dengan penuh penghayatan oleh dua siswa berprestasi dari SMAN 1 Lariang, yakni Kersi Malliungan dan Fikri Adriansyah.
Baca juga: Seleksi Manajer Kopdes Merah Putih 2026 Dimulai Besok, Simak Jadwal dan Kriteria Kelulusannya
Baca juga: Ratusan Siswa di Polman Rela Hujan-hujanan Pakai Baju Adat dan Pramuka demi Upacara Hardiknas 2026
Keduanya tampil memikat, menyuguhkan gerakan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kuat dalam menyampaikan pesan budaya.
Sejak awal pertunjukan, penonton dibuat terpaku. Gerakan demi gerakan yang ditampilkan tampak selaras dengan alur cerita yang dibangun, menghadirkan suasana haru sekaligus tegang di beberapa bagian.
Kepala SMAN 1 Lariang, Nurwahida Wahab, mengatakan tarian tersebut mengangkat nilai siri dalam budaya Mandar, yang berarti rasa malu atau harga diri yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
“Dalam budaya Mandar, siri adalah prinsip hidup. Harga diri itu sangat dijaga, bahkan bisa menjadi pemicu konflik jika dilanggar,” ujarnya saat ditemui di lokasi kegiatan.
Ia menjelaskan, tarian Siri Persimpangan Zaman menceritakan kisah seorang putri dari keluarga Mandar yang memilih kawin lari dengan kekasihnya karena tidak mendapat restu dari orang tua.
Keputusan tersebut memicu pertikaian keluarga yang berujung pada pertumpahan darah, sebuah konflik yang kemudian divisualisasikan secara dramatis dalam tarian.
Puncak pertunjukan terjadi saat adegan sang lelaki ditikam oleh ayah dari pihak perempuan.
Momen itu disuguhkan dengan ekspresi dan gerakan yang begitu kuat, hingga membuat penonton terdiam, bahkan tampak terharu menyaksikan akhir cerita yang tragis.
Tak sedikit penonton yang larut dalam suasana, seolah ikut merasakan konflik batin yang disampaikan melalui tarian tersebut.
Nurwahida mengungkapkan, untuk menampilkan tarian tersebut secara maksimal, kedua siswanya menjalani proses latihan yang cukup panjang.
“Persiapannya kurang lebih satu bulan. Mulai dari pendalaman karakter, latihan gerakan, sampai penyelarasan ekspresi,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan penampilan tersebut menjadi bukti bahwa siswa tidak hanya mampu berprestasi di bidang akademik, tetapi juga dalam melestarikan budaya daerah.
Menurutnya, pendidikan sejatinya tidak hanya berfokus pada pelajaran formal di kelas, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter kepada peserta didik.
“Melalui momen Hardiknas ini, kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan dan budaya itu tidak bisa dipisahkan. Justru budaya menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda,” katanya.
Ia pun menilai, peringatan Hari Pendidikan Nasional merupakan momentum yang tepat untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya di tengah arus modernisasi.
Penampilan tarian Siri Persimpangan Zaman pun menjadi salah satu daya tarik utama dalam rangkaian peringatan Hardiknas 2026 di Pasangkayu, sekaligus meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta yang hadir.
Semangat kolaborasi dalam dunia pendidikan seperti yang diusung dalam tema tahun ini pun terasa semakin kuat, ketika nilai-nilai budaya lokal turut dihadirkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang hidup dan bermakna.(*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan