TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Suasana pagi di salah satu sudut Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, tampak hidup dengan aktivitas produksi di dapur milik Herni (52), Sabtu (2/5/2026). Dari ruang sederhana itu, geliat usaha rumahan terus berjalan dengan ritme yang konsisten.
Perempuan ini telah menggeluti pengolahan rumput laut menjadi camilan krispi siap santap sejak 2018. Usaha yang ia rintis perlahan berkembang, berangkat dari potensi bahan baku yang tersedia di wilayah pesisir.
Tempat produksinya berada tidak jauh dari Pantai Karapyak, yang selama ini menjadi titik utama pengambilan rumput laut. Kedekatan lokasi tersebut memudahkan proses awal produksi, sekaligus menekan biaya operasional.
Setiap hari, Herni bersama tiga ibu rumah tangga yang dilibatkannya memulai kegiatan dengan mengumpulkan rumput laut langsung dari tepi pantai. Aktivitas ini menjadi tahapan awal sebelum bahan diolah lebih lanjut.
Setelah terkumpul, rumput laut dibersihkan secara manual. Tahapan ini dilakukan dengan teliti karena berperan penting dalam menjaga mutu produk yang dihasilkan.
Proses pengolahan kemudian berlanjut dengan pemotongan rumput laut, pencucian ulang, perebusan, hingga tahap penggorengan. Setelah itu, hasilnya dikemas menjadi camilan krispi yang siap dipasarkan.
"Semua proses kita lakukan di sini. Alat-alatnya sudah tersedia, tinggal bahan bakunya saja yang kadang jadi kendala," ujar Herni kepada Tribun Jabar di gerai kecil yang menyatu dengan rumahnya di Bagolo.
Ia mengungkapkan, ketersediaan rumput laut di Pantai Karapyak tidak selalu stabil. Saat pasokan di lokasi tersebut berkurang, ia harus mencari alternatif dari luar daerah.
"Kalau cara pemesanan kita lakukan secara online, dengan waktu pengiriman mencapai sekitar 10 hari," katanya.
Situasi tersebut kerap menjadi hambatan dalam menjalankan usaha, terutama ketika permintaan pasar meningkat.
"Kalau bahan baku kosong, kita harus menunggu lama. Padahal pesanan kadang banyak," ucap Herni.
Sepanjang tahun 2026 ini, khususnya dalam dua bulan terakhir, ia mengaku cukup sering mendatangkan bahan baku dari luar daerah demi menjaga keberlangsungan produksi.
Dalam kegiatan sehari-hari, Herni memproduksi camilan krispi rumput laut dengan beragam pilihan rasa. Mulai dari varian original, sapi panggang, pedas, udang kecombrang, jagung, hingga abon rumput laut.
"Kita jual produk krispi rumput laut itu dengan harga Rp 15 ribu per kemasan berisi 60 gram," ujarnya.
Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha ini juga membawa dampak sosial dengan melibatkan ibu-ibu sekitar dalam kelompok kerja kecil yang ia bentuk.
Untuk pemasaran, Herni masih mengandalkan distribusi ke pusat oleh-oleh di kawasan wisata Pangandaran serta sejumlah pasar modern. Saluran ini menjadi jalur utama penjualan produknya.
Adapun untuk menjangkau konsumen di luar kota, ia memanfaatkan platform digital seperti WhatsApp serta jaringan reseller yang terus dikembangkan.
"Kalau ke toko-toko besar memang belum masuk. Tapi kita terus berusaha memperluas pemasarannya," ucapnya.