Resmi! AS Bakal Tarik 5.000 Pasukannya dari Jerman Buntut Perseteruan Trump-Merz
Suci BangunDS May 02, 2026 02:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan Jerman semakin memanas.

Panasnya hubungan kedua negara terjadi setelah Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyindir Presiden AS, Donald Trump.

Sindiran itu langsung ditanggapi Trump dengan menyebut dirinya kecewa terhadap Merz dan sekutu NATO lainnya yang enggan memberikan bantuan di Selat Hormuz.

Kini, kekecewaan Trump kembali diungkapkan dengan rencana penarikan pasukan dari Jerman.

Pentagon secara resmi mengumumkan perintah penarikan sekitar 5.000 personel militer AS dari pangkalan mereka di Jerman.

Langkah ini diambil hanya berselang dua hari setelah Trump melontarkan ancaman pengurangan pasukan di negara sekutu NATO tersebut.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth telah menandatangani perintah penarikan yang dijadwalkan rampung dalam rentang waktu enam hingga dua belas bulan ke depan.

Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan hasil evaluasi mendalam terhadap strategi militer AS di wilayah Eropa.

"Keputusan ini mengikuti tinjauan menyeluruh atas postur kekuatan kami di Eropa, dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional dan kondisi terkini di lapangan," ujar Parnell dalam keterangan resminya, Jumat (1/5/2026), mengutip Reuters.

Menanggapi pengumuman tersebut, Pemerintah Jerman tampak tenang.

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul menyatakan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi kemungkinan pengurangan pasukan ini.

Baca juga: Trump Ancam akan ‘Memangkas’ Pasukan AS di Jerman

"Jerman sudah siap. Kami terus mendiskusikan hal ini secara intensif dengan semangat saling percaya di internal NATO," ungkap Wadephul.

Meski demikian, langkah AS ini tetap memicu kekhawatiran para analis mengenai masa depan stabilitas keamanan di Eropa, mengingat peran vital Jerman sebagai pusat komando pasukan Amerika di Benua Biru selama puluhan tahun.

Awal Mula Perselisihan

Perselisihan antara AS dengan Jerman terjadi ketika Merz melontarkan kritikan pedas terhadap kebijakan luar negeri Trump.

Merz menilai, AS saat ini tengah berada dalam posisi yang memalukan, karena terus-menerus "dipermalukan" oleh diplomasi Iran yang cerdik.

Dalam sebuah diskusi bersama pelajar di Marsberg, Jerman, Merz tidak menahan diri untuk menyebut bahwa AS sedang dipermalukan secara terang-terangan oleh rezim Teheran, khususnya oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

"Pihak Iran sangat mahir bernegosiasi, atau lebih tepatnya, sangat ahli dalam 'tidak bernegosiasi'."

"Mereka membiarkan delegasi AS terbang jauh-jauh ke Islamabad hanya untuk memulangkan mereka tanpa hasil apa pun," sindir Merz, mengutip The Guardian.

Menanggapi kritikan Merz, Trump menyerang balik pemimpin Jerman tersebut dengan menyebutnya tidak paham apa yang sedang dia bicarakan terkait isu nuklir dan strategi menghadapi Iran.

"Dia (Merz) sama sekali tidak tahu apa yang dia bicarakan," tegas Trump, mengutip dari CNN.

Baca juga: Trump Tanggapi Kanselir Jerman yang Sebut Iran Permalukan AS: Dia Tidak Tahu Apa yang Dibicarakan

Dalam pembelaannya, Trump membanggakan rekam jejaknya pada periode pertama kepresidenannya.

Ia mengeklaim bahwa kebijakan "tekanan maksimum" miliknya, termasuk penarikan diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan pemberian sanksi ekonomi, telah berhasil membuat Iran bertekuk lutut secara finansial.

Merz Sempat 'Melempem'

Setelah mendapatkan ancaman dari Trump, Merz mendadak mengubah arah kebijakan luar negerinya dengan melontarkan kritik pedas terhadap Iran.

Perubahan haluan Merz ini diyakini para pengamat sebagai langkah untuk meredakan hubungan yang sudah memanas dengan Washington.

Lebih lanjut, Merz mendesak agar sanksi internasional terhadap Iran kembali diperketat, terutama dipicu oleh kekhawatiran akan blokade Selat Hormuz.

"Jika Selat Hormuz terus diblokade, kita semua akan menanggung dampak ekonomi yang sangat fatal."

"Iran harus dipaksa kembali ke meja perundingan," tegas Merz, mengutip WANA News Agency.

Di sisi lain, Teheran menanggapi dingin gertakan Berlin.

Pemerintah Iran menilai Jerman hanyalah "bayang-bayang" kebijakan AS dan tidak memiliki kemandirian politik jika dibandingkan dengan Inggris atau Prancis.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.