Moderasi Beragama: Menemukan Titik Tengah Melalui Lensa Hadis
Sudirman May 02, 2026 12:22 PM

Oleh: Dr Firdaus, M.Ag

Dosen Prodi Ilmu Hadis Fal. Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah arus polarisasi global dan kemudahan akses informasi, isu moderasi beragama menjadi semakin krusial.

Seringkali, agama disalahpahami sebagai kumpulan aturan yang kaku atau, di sisi lain, dianggap terlalu cair hingga kehilangan substansi.

Di sinilah konsep Wasathiyah (moderat) berperan sebagai kompas moral.

Secara teologis, moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama atau bersikap acuh tak acuh.

Moderasi adalah posisi tegak lurus di antara dua kutub ekstrem: ekstremisme (ghuluw) dan liberalisme yang kebablasan (tafrith).

Landasan Hadis: Agama Itu Mudah

Nabi Muhammad SAW secara konsisten mengajarkan umatnya untuk mengambil jalan tengah.

Salah satu hadis yang paling fundamental dalam konteks ini seperti hadi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Transliterasi

Innad-dīna yusrun, wa lan yushāddad-dīna ahadun illā ghalabahu, fa saddidū wa qāribū wa abshirū, wasta’īnū bil-ghadwati war-rawhati wa shay’in minad-duljah.

Artinya: "Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama melainkan ia akan dikalahkannya (menjadi lelah/putus asa). Maka bertindaklah lurus (sesuai sunnah), mendekatlah (pada kesempurnaan), dan berikanlah kabar gembira. Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan beribadah di waktu pagi, sore, dan sebagian waktu malam." (HR. Bukhari).

Hadis ini bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan prinsip operasional dalam beragama.

Kata "Saddidu" (bersahajalah/luruskanlah) dan "Qaribu" (mendekatlah) mengisyaratkan bahwa dalam beribadah dan berinteraksi, kita dituntut untuk proporsional.

Menolak Ekstremisme dalam Ibadah

Pernah diceritakan tentang tiga orang sahabat yang berniat meningkatkan ketakwaan mereka secara ekstrem: satu ingin salat sepanjang malam tanpa tidur, satu ingin puasa setiap hari tanpa berbuka, dan satu lagi ingin membujang selamanya.

Mendengar hal ini, Rasulullah SAW tidak memuji mereka. Sebaliknya, beliau bersabda:       ...لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Transliterasi

...lakinnī ashūmu wa ufthiru, wa ushallī wa arqudu, wa atazawwajun-nisā'a, faman raghiba ‘an sunnatī falaysa minnī.

Artinya:"...Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku salat dan aku tidur, dan aku pun menikahi perempuan. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukanlah dari golonganku. (HR. Bukhari & Muslim).

Pesan di balik hadis ini sangat dalam: ketuhanan tidak boleh meniadakan kemanusiaan. Seseorang tidak bisa mencapai derajat "suci" dengan cara menyiksa diri atau mengabaikan fitrahnya sebagai manusia.

Inilah inti dari moderasi. Dalam riwayat lain Rasulullah SAW sangat tegas dalam memberikan perlindungan kepada warga non-muslim yang hidup berdamai dengan umat Islam.

Sebagaimana dijelaskan sebuah hadis yang diriwayakan oleh Imam Bukhari berikut:"Barangsiapa membunuh seorang mu'ahid (non-muslim yang terikat dalam perjanjian damai), maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun." (HR. Bukhari)

Implementasi di Era Modern

Dalam konteks berbangsa dan bermasyarakat saat ini, moderasi beragama yang bersumber dari hadis mencakup beberapa poin kunci:

1.Toleransi Tanpa Kompromi Akidah: Menghargai keberadaan penganut agama lain sebagaimana Nabi menghargai jenazah orang Yahudi yang melintas di hadapannya, namun tetap teguh pada keyakinan pribadi.

2.Anti-Kekerasan: Menyadari bahwa lisan dan tangan seorang Muslim sejati adalah yang membuat orang lain merasa aman. Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dalam sebuah hadis berikut:  الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَد .

Artinya: "Seorang Muslim (yang sempurna) adalah orang yang lidah dan tangannya  tidak menyakiti orang lain (orang-orang Muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya). (HR. Muslim).

3.Keadilan Sosial: Bersikap adil bahkan kepada orang yang tidak disukai, karena keadilan adalah bagian dari ketakwaan.

Kesimpulan

Moderasi beragama dalam hadis adalah tentang keseimbangan. Ia adalah seni untuk tetap teguh memegang prinsip tanpa harus menjadi kasar, dan menjadi lembut tanpa harus kehilangan jati diri.

Menjadi moderat berarti mengikuti jejak Rasulullah SAW yang selalu memilih jalan yang paling memudahkan umatnya selama hal tersebut tidak mengandung dosa.

Di dunia yang seringkali menuntut kita untuk memilih satu sisi yang ekstrem, kembali ke pesan hadis tentang kesederhanaan dan kemudahan adalah jalan keluar yang paling relevan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.