Catatan Terakhir dr Myta, Dokter di Jambi Wafat Diduga Gegara Beban Kerja: Keluarga Motivasi Saya
Odi Aria May 02, 2026 12:27 PM

SRIPOKU.COM, MUARADUA— Kepergian dr Myta Aprilia Azmy meninggalkan duka mendalam sekaligus memantik refleksi publik terhadap sistem kerja dokter muda di Indonesia.

Sosoknya kembali menjadi perbincangan setelah catatan pribadi yang ia tulis di LinkedIn viral dan menyentuh banyak pihak.

Dalam unggahan tersebut, dr Myta menggambarkan dirinya sebagai dokter umum yang tengah menjalani masa internship dengan penuh semangat dan dedikasi.

Ia menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan kesehatan yang aman, penuh empati, dan dapat diandalkan dalam setiap situasi klinis.

Tak hanya menyoroti profesionalitas, dr Myta juga mengungkap sisi personalnya.

Ia menyebut keluarga, terutama orang tua dan adiknya, sebagai sumber motivasi terbesar dalam menjalani profesi.

Bahkan, ia turut mengapresiasi dirinya sendiri atas proses tumbuh dan komitmen untuk terus berkembang di tengah tekanan pekerjaan.

Catatan itu juga memperlihatkan upaya dr Myta menjaga keseimbangan hidup.

Di sela kesibukan sebagai dokter, ia tetap meluangkan waktu untuk aktivitas sederhana seperti merawat kucing peliharaan dan bermain gim, sebagai bentuk menjaga kesehatan mental.

Namun di balik semangat yang ia bagikan, realitas yang dihadapi dokter muda selama masa internship kini menjadi sorotan.

Wafatnya dr Myta, setelah sempat menjalani perawatan intensif di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, memicu desakan publik agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kerja, termasuk beban tugas dan jam kerja dokter magang.

Kepala Dinas Kesehatan OKU Selatan, dr Meri Astuti, membenarkan bahwa dr Myta merupakan putri daerah.

Ia juga dikenal dekat dengan lingkungan kesehatan setempat, mengingat ibunya menjabat sebagai kepala puskesmas.

Usut Tuntas

Ketua IDI Sumsel, dr Abla Ghanie, menyampaikan pernyataan resmi yang berisi keprihatinan mendalam atas wafatnya dr Myta.

“IDI Sumsel turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).

Dalam pernyataannya, IDI Sumsel juga menyoroti laporan yang menyebutkan dr Myta diduga mengalami beban kerja berat selama menjalani masa internship.

Mulai dari bekerja dalam periode panjang tanpa hari istirahat, tetap menjalankan tugas meski dalam kondisi sakit, hingga dugaan keterlambatan mendapatkan penanganan medis yang layak.

“Apabila benar, kondisi tersebut tidak dapat dibenarkan dalam sistem pelayanan kesehatan yang menjunjung tinggi keselamatan tenaga medis dan pasien,” tegasnya.

IDI menekankan bahwa setiap tenaga medis, termasuk dokter internship, memiliki hak atas waktu istirahat yang cukup serta lingkungan kerja yang aman dan manusiawi.

Selain itu, tenaga medis juga berhak mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak saat mengalami sakit.

“Tidak boleh ada tenaga medis yang dipaksa bekerja dalam kondisi yang membahayakan dirinya maupun pasien,” lanjutnya.

IDI Sumsel pun mendorong agar dilakukan investigasi secara objektif, menyeluruh, dan transparan dengan melibatkan pihak terkait serta organisasi profesi.

"Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kejelasan fakta, memberikan keadilan bagi almarhumah, sekaligus menjadi bahan evaluasi ke depan," tegasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.