Punya Beragam Inovasi Pendidikan, Mendikdasmen Minta Bupati Ipuk Paparkan ke Forum Nasional
Haorrahman May 02, 2026 03:43 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Sejumlah inovasi pendidikan yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menarik perhatian pemerintah pusat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Prof. Abdul Mu’ti, bahkan meminta Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani untuk memaparkan berbagai program tersebut dalam forum nasional.

Permintaan itu disampaikan Mu’ti saat peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Banyuwangi, Sabtu (2/5/2026). Ia menilai terobosan yang dilakukan Banyuwangi tidak hanya kreatif, tetapi juga strategis dan berpotensi direplikasi secara nasional.

“Terobosan-terobosan kreatif dan strategis Banyuwangi, saya sangat tertarik untuk nanti mereplikasinya menjadi kebijakan di tingkat nasional. Saya minta Bupati Banyuwangi memaparkan di forum nasional,” ujar Mu’ti.

Baca juga: IPM Terus Meningkat, Mendikdasmen Pilih Banyuwangi untuk Memperingati Hardiknas

Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah). Program ini dirancang untuk memberikan akses pendidikan bagi masyarakat yang sempat putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai alasan.

Melalui pendekatan fleksibel, program ini membuka peluang bagi warga untuk kembali belajar melalui jalur formal maupun nonformal.

“Ini saya kira sebuah terobosan yang nanti saya minta Ibu Bupati bisa menyampaikan di forum nasional sebagai contoh baik untuk bagaimana kita memberikan layanan pendidikan bermutu untuk semua. Pendidikan tidak hanya sebatas sekolah, tetapi juga belajar di mana pun dengan berbagai sarana yang ada,” kata Mu’ti.

Baca juga: Ribuan Pelajar di Kuntulan Ewon, Mendikdasmen: Ini Peringatan Hardiknas Termeriah se-Indonesia

Selain itu, Banyuwangi juga menjalankan program Gerakan Rindu Bulan (Rintisan Desa Tuntas Belajar 12 Tahun). Program ini bertujuan meningkatkan rata-rata lama sekolah dengan mengajak anak tidak sekolah (ATS) hingga orang dewasa kembali mengikuti pendidikan kesetaraan.

Upaya ini menjadi bagian dari strategi daerah untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga: Budidaya Lele Sistem Air Jernih ala Pemuda Banyuwangi, Omzet Tembus Ratusan Juta

Pendidikan Inklusif

Banyuwangi juga mengembangkan program Agage Pinter (Agar Cepat Pintar) yang fokus pada penguatan sekolah inklusi. Program ini memastikan anak berkebutuhan khusus (ABK) mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah reguler.

Di sisi lain, ada inovasi sosial melalui Siswa Asuh Sebaya (SAS). Program ini mengajak siswa untuk menggalang dana secara sukarela guna membantu teman mereka yang kurang mampu. Selain menjadi solusi pembiayaan, program ini juga menanamkan nilai empati sejak dini.

Inovasi tersebut kemudian dikembangkan menjadi Sekolah Asuh Sekolah (SAS Jilid III). Program ini mendorong kolaborasi antar sekolah, di mana sekolah dengan sumber daya lebih baik membantu sekolah lain yang masih terbatas.

Baca juga: Banyuwangi Raih Peringkat Terbaik Kabupaten Berkinerja Tinggi se-Indonesia dari Kemendagri 

Tak hanya menyasar usia sekolah, Banyuwangi juga menghadirkan program Akselerasi Sekolah Masyarakat (AKSARA). Program ini ditujukan bagi warga usia 20 tahun ke atas yang belum menyelesaikan pendidikan dasar.

Melalui AKSARA, peserta didorong untuk mendapatkan ijazah setara SMA. Program ini sekaligus menjadi upaya meningkatkan rata-rata lama sekolah, yang merupakan indikator penting dalam penilaian statistik pendidikan nasional.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.