BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bunyi tok kletok… tok kletok… berirama menyambut langkah kaki saat memasuki Lorong Guba, Jalan Aiptu A Wahab, Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Denting itu berasal dari sebuah rumah sederhana bercat putih. Di bagian depannya, tertulis jelas, Centra Tenun Tajung.
Di dalamnya, lima alat tenun gedokan bukan mesin (ATBM) bergerak serempak. Suaranya berpadu, menciptakan harmoni khas yang tak hanya memecah keheningan, tetapi juga menandai hidupnya sebuah tradisi yang terus dijaga.
Lima penenun laki-laki tampak tekun bekerja. Tangan mereka lincah menarik benang, sementara kaki bergerak ritmis, mengayuh alat tenun seperti mengayuh sepeda. Setiap helai benang ditata dengan ketelitian tinggi, menuntut kesabaran yang tak bisa dipercepat oleh waktu.
Di ruang itulah, berbagai kain tenun khas Melayu Sumatera Selatan lahir, dari motif klasik hingkga desain yang terus beradaptasi dengan zaman.
Centra ini merupakan milik H. Udin Abdillah (65), seorang perajin yang telah menekuni dunia tenun sejak 1982.
"Saya mulai belajar dari orang tua. Awalnya tidak di sini, dulu saya di Jakarta, tapi kemudian kembali dan tertarik menekuni tenun," ujar Udin saat ditemui di lokasi pada, Jumat (17/4/2026) lalu.
Berawal dari satu alat tenun sederhana, kini usahanya telah berkembang dengan memiliki lebih dari 20 unit ATBM. Namun, bagi Udin, jumlah produksi bukanlah hal utama.
"Tenun itu mengutamakan kerapian dan ketelitian. Jadi tidak bisa dihitung berapa kain selesai per hari atau per minggu," katanya.
Kain-kain hasil Centra Tenun Tajung tidak hanya diminati di Palembang. Produk mereka telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Medan, Padang, hingga Bandung dan Surabaya.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp350 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitan motif dan bahan yang digunakan.
Selain tenun, sentra ini juga memproduksi kain jumputan, salah satu warisan khas Palembang yang dibuat melalui teknik penjumputan. Prosesnya memakan waktu cukup lama, mulai dari satu minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat kesulitan.
Bahan baku yang digunakan pun sebagian masih didatangkan dari luar negeri, seperti sutra dari China dan katun dari India, untuk menjaga kualitas produk tetap unggul.
BRI Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pembinaan dan Akses Pasar
Di balik keberlangsungan usaha ini, terdapat peran penting pembinaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program klaster UMKM.
Centra Tenun Tajung menjadi salah satu bagian dari klaster usaha yang dibina BRI, tidak hanya dari sisi permodalan, tetapi juga penguatan kapasitas usaha.
"Kami dibantu dalam pemasaran, diajak ikut pameran, termasuk ke Jakarta. Terakhir kami ikut pameran di BSD bersama BRI," ungkap Udin.
Menurutnya, keikutsertaan dalam berbagai pameran membuka wawasan baru bagi para perajin.
"Di sana kami bisa melihat produk-produk lain yang lebih maju. Itu jadi motivasi untuk kami agar bisa lebih baik lagi," katanya.
Melalui program tersebut, produk Tenun Tajung semakin dikenal luas. Tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga meningkatkan daya saing di tengah persaingan industri kreatif.
Udin berharap, kolaborasi dengan BRI dapat terus berlanjut, sekaligus mendorong para perajin lokal untuk semakin berkembang.
"Harapannya, kami bisa terus eksis. Kalau ada yang kurang, kami perbaiki bersama. Yang penting usaha ini terus berjalan," ujarnya.
Menjaga Tradisi, Menguatkan Ekonomi Lokal
Kawasan Tuan Kentang sendiri dikenal sebagai sentra kerajinan, dengan sedikitnya 40 gerai tenun yang tersebar di sekitarnya. Aktivitas ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.
Di tengah arus modernisasi, denting tok kletok dari alat tenun itu tetap bertahan. Ia bukan sekadar suara kerja, melainkan simbol ketekunan, warisan, dan harapan.
Melalui dukungan pembinaan dan akses pasar yang berkelanjutan, usaha seperti Sentra Tenun Tajung membuktikan bahwa UMKM tradisional mampu bertahan, bahkan berkembang, di tengah tantangan zaman.
Di Lorong Guba, dari balik rumah sederhana itu, tradisi tidak hanya dijaga, tetapi juga diperjuangkan untuk tetap hidup dan dikenal hingga ke panggung nasional. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)