TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum bagi Putri Marthina Yuliana Mandona, Guru Bahasa Inggris SMAS Katolik St. John Paul II Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, merefleksikan kembali esensi pengajaran.
Tak hanya soal kecerdasan intelektual, ia meyakini pendidikan karakter dan kesehatan mental siswa juga menjadi prioritas utama.
Guru Bahasa Inggris SMAS Katolik St. John Paul II Maumere ini, menekankan bahwa kualitas pendidikan harus diukur dari keseimbangan antara otak dan perilaku. Hal tersebut ia sampaikan di usai perayaan Hardiknas di lingkungan sekolah, Sabtu (2/5/2026).
"Harapan saya, kualitas pendidikan kita lebih baik lagi dari tahun ke tahun. Bukan hanya mengajar anak untuk memiliki otak yang pintar, tetapi mereka juga harus punya karakter yang baik," ujar guru yang akrab disapa Miss Lia tersebut.
Baca juga: SMAS Katolik St John Paul II Maumere Sabet Berbagai Prestasi Porseni SMA se Kabupaten Sikka 2026
Lia menyoroti fenomena kesehatan mental remaja yang kian rentan. Menurutnya, peran guru di sekolah sangat krusial karena interaksi siswa di lingkungan pendidikan berlangsung selama hampir delapan jam setiap harinya.
Ia menilai guru tidak boleh hanya berperan sebagai pentransfer ilmu, tetapi juga harus mampu mendeteksi perubahan emosional siswa.
"Guru harus lebih kenal terhadap anak. Bagaimana kesehariannya? Misalnya, dari anak yang semula ceria menjadi lebih diam, itu harus diperhatikan. Jangan sampai ada anak yang memilih mengakhiri hidup karena permasalahan yang tidak sempat diceritakan," ungkapnya.
Baca juga: Rayakan Hardiknas, SMAS Katolik St John Paul II Maumere Perkuat Karakter dan Wadah Prestasi Pelajar
Sebagai langkah preventif, Lia menjelaskan bahwa pengawasan di sekolah melibatkan sinergi antara wali kelas dan guru Bimbingan Konseling (BK).
Di SMAS Katolik St. John Paul II Maumere sendiri, terdapat tiga guru BK yang dibagi khusus untuk menangani kelas X, XI, dan XII.
Kehadiran guru BK yang spesifik di tiap jenjang diharapkan mampu menangani persoalan siswa secara lebih personal, mulai dari kendala ringan hingga masalah yang cukup serius.
"Kami percaya komunikasi adalah hal terpenting. Apabila anak memiliki kendala komunikasi dengan orang tua di rumah, maka guru di sekolah harus mengambil peran itu. Tujuannya agar mereka bisa berbagi beban dan merasa lega setelah berbicara," pungkas Lia.