TRIBUN-SULBAR.COM, PASANGKAYU - Suasana haru menyelimuti Masjid Madaniah, Kabupaten Pasangkayu, Sabtu (2/5/2026). Ratusan calon jemaah haji (CJH) yang akan diberangkatkan ke Asrama Haji Sudiang, Makassar, larut dalam doa dan pelukan perpisahan bersama keluarga.
Di antara rombongan tersebut, dua sosok lansia menjadi perhatian.
Mereka adalah Siama (65), warga Desa Lariang, Kecamatan Tikke Raya, dan Nabawiyah (84), warga Dusun Pantalate, Desa Sarudu, Kecamatan Sarudu.
Baca juga: Tangis Haru Iringi Keberangkatan 118 Jamaah Haji Pasangkayu, Ribuan Keluarga Padati Masjid Madaniah
Baca juga: Profil CJH Termuda Mamuju Tengah, Usia 15 Tahun Gantikan Ayah yang Alami Gangguan Mental
Keduanya tercatat sebagai jemaah tertua tahun ini, dengan kisah panjang penuh perjuangan sebelum akhirnya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji.
Siama mendaftar haji sejak 2013. Sebagai petani, ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil kebun, dibantu oleh anak-anaknya.
Meski hidup sederhana dan kini tinggal sendiri sebagai ibu dari empat anak, tekadnya untuk ke Tanah Suci tak pernah surut.
Penantian panjang selama bertahun-tahun ia jalani dengan sabar. Bahkan, ia sempat berangkat melalui program haji plus pada 2024.
Namun keinginannya belum tuntas. Ia kembali mendaftar haji reguler hingga akhirnya berangkat pada 2026.
Dengan wajah tenang, Siama tampak menyimpan haru yang dalam.
Langkahnya menuju Tanah Suci menjadi simbol keteguhan hati dan kesabaran.
Sementara itu, Nabawiyah juga tak kuasa menahan rasa haru. Perempuan kelahiran Kabupaten Majene ini mendaftar haji pada 2014.
Sehari-hari, ia berjualan sembako untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menabung biaya haji.
Dari usaha kecilnya, ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Sebagai ibu dari tujuh anak yang kini lebih sering tinggal sendiri, perjuangannya tidak mudah.
Ia bahkan sempat pasrah ketika jadwal keberangkatannya diperkirakan masih lama, yakni pada 2028.
Namun, harapan itu datang lebih cepat dari yang dibayangkan. Namanya masuk dalam daftar prioritas lansia, membuatnya bisa berangkat lebih awal pada tahun ini.
“Alhamdulillah, saya tidak sangka bisa berangkat tahun ini,” ucap Nabawiyah lirih, didampingi anak kelimanya, Muh Zakir.
Pelepasan di Masjid Madaniah pagi itu bukan sekadar seremoni keberangkatan. Momen tersebut menjadi saksi perjalanan panjang penuh kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan.
Langkah Siama dan Nabawiyah menuju Tanah Suci menjadi bukti bahwa doa yang dipanjatkan dengan tulus dan dijaga selama bertahun-tahun, pada akhirnya akan menemukan jalannya. (*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Taufan