SURYA.CO.ID, SURABAYA - Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi titik balik bagi Kampung Ilmu di Jalan Semarang, Surabaya. Sentra buku legendaris yang telah menjadi napas literasi Kota Pahlawan selama puluhan tahun ini, kini didorong bertransformasi total menjadi destinasi wisata pendidikan premium guna melawan gempuran pasar digital.
Kondisi Kampung Ilmu saat ini berada di persimpangan jalan. Berdasarkan pantauan SURYA.co.id di lapangan, aktivitas transaksi tatap muka cenderung menurun drastis. Fenomena ini memaksa para pedagang buku melakukan migrasi besar-besaran ke platform lokapasar (marketplace) demi menyambung hidup.
Salah satu pedagang kawakan di Kampung Ilmu, Lilis Wiji Lestari, mengungkapkan fakta pahit mengenai pergeseran tren belanja masyarakat. Menurutnya, kunjungan fisik ke gerai-gerai buku di Jalan Semarang terus menyusut sejak beberapa tahun terakhir.
"Tren penjualan offline sekarang sangat sepi. Penurunan omzet langsung di toko mencapai sekitar 70 persen. Sekarang mayoritas stok kami alokasikan untuk penjualan daring,” ujar Lilis saat ditemui di sela kesibukannya, Sabtu (2/5/2026).
Lilis menambahkan bahwa platform digital seperti TikTok, Shopee, dan Tokopedia kini menjadi tumpuan utama. Meski jangkauan kiriman kini meluas hingga Aceh dan Kalimantan, ia menyayangkan hilangnya interaksi budaya literasi secara langsung. Padahal, harga buku di toko fisik jauh lebih murah karena tidak terbebani biaya administrasi platform digital.
Meski kunjungan ke Kampung Ilmu menurun, data dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Surabaya menunjukkan bahwa minat baca warga kota sebenarnya tetap tinggi. Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 474.140 kunjungan ke berbagai layanan perpustakaan.
Dominasi pembaca berasal dari kalangan pelajar dengan rincian sebagai berikut:
Angka fantastis ini menunjukkan adanya peluang besar jika Kampung Ilmu dikelola dengan konsep kekinian yang mampu menarik minat generasi Z dan Alpha untuk berkunjung secara fisik.
Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) yang meninjau lokasi pada Hardiknas 2026 menegaskan bahwa Kampung Ilmu bukan sekadar tempat jual beli buku bekas, melainkan aset wisata pendidikan yang harus diperlakukan setara dengan wisata religi.
“Kampung Ilmu ini adalah ikon Surabaya. Kita punya ratusan sekolah dari SD hingga SMA, belum lagi perguruan tinggi. Seharusnya kawasan ini menjadi destinasi wajib bagi pelajar,” tegas politisi Gerindra tersebut.
BHS mendorong agar Pemerintah Kota Surabaya melakukan revitalisasi infrastruktur secara menyeluruh. Ia membayangkan Kampung Ilmu bertransformasi menyerupai Taman Pintar di Yogyakarta, di mana edukasi berpadu dengan kenyamanan ruang publik.
Beberapa poin krusial yang perlu segera dibenahi antara lain:
Sebagai bentuk dukungan nyata, alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini memberikan bantuan berupa bahan bangunan, lampu penerangan, hingga perangkat pengeras suara untuk menunjang kegiatan komunitas di Kampung Ilmu.
"Kita sedang menghadapi bonus demografi dengan 70 persen penduduk usia produktif. Jika fasilitas literasi seperti Kampung Ilmu ini tidak siap dan tidak menarik, kita berisiko tertinggal di masa depan," pungkas BHS.
Bagi Anda yang mencari koleksi buku langka, referensi akademik, hingga novel populer dengan harga miring, Kampung Ilmu di Jalan Semarang tetap menjadi pilihan utama dengan pesona historisnya yang tak tergantikan.