BPBD dan Perhutani Siaga untuk Antisipasi Kemarau serta Kebakaran Hutan di Trenggalek
Rendy Nicko May 02, 2026 06:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Musim kemarau diprediksi tidak lama lagi. Kesiapsiagaan ancaman bencana kemarau dan kebakaran hutan (karhutla) menjadi atensi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Perhutani.

Kalaksa BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan kendati belum menerima laporan masuk terkait kemarau, namun perlu diantisipasi supaya tidak terjadi yang lebih parah. 

"Hingga hari ini di Trenggalek belum ada laporan masuk terkait terdampak kekeringan. Pengalaman tahun 2024 yang terdampak 72 desa tersebar di 14 kecamatan," ujar Triadi Atmono saat dikonfirmasi, Sabtu (2/5/2026).

Triadi menambahkan langkah yang sudah dilakukan oleh BPBD dan juga lintas sektoral yaitu sesuai dengan RPJMD Kabupaten Trenggalek. Menggalakkan Net Zero Karbon di setiap kesempatan baik di kegiatan Pemkab maupun sampai ke tingkat desa.

Baca juga: Persik Kediri Bidik Kemenangan Saat Hadapi Arema FC di Gresik

"Saat ini kita sudah melaksanakan di musim penghujan seperti net zero karbon di setiap OPD, kecamatan, desa. Sudah melaksanakan penanaman pohon di beberapa daerah yang terdampak bencana," katanya.

BPBD Trenggalek sendiri juga ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Triadi juga mengapresiasi salah satu desa gmyang dahulunya eks galian c yang memiliki karakteristik tanah gersang.

Saat ini sudah produktif dengan tanaman padi serta memiliki inovasi 

"Termasuk di Desa Sukorejo Kecamatan Gandusari sudah ada program inovasi sawah hemat air," bebernya.

Triadi mengimbau kepada masyarakat untuk turut serta menjaga alam untuk mempertahankan pohon tegakan. Serta tidak sembarangan membuang puntung rokok di semak-semak yang bisa menyebabkan kebakaran hutan.

Sementara, Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan mengulas tentang lokasi yang sudah menjadi atensi terjadinya kebakaran hutan di musim kemarau panjang 2026 ini.

Beberapa di antaranya adalah perbukitan di sekitar Desa Gembleb, Gunung Orak-Arik, serta Gunung Jaas.

Perhutani melakukan langkah pencegahan respons atas potensi kemarau panjang yang dipicu perubahan iklim global.

BMKG sendiri menurut Hermawan kekeringan yang diprediksi terjadi di puncak kemarau sekitar Bulan Juli sampai Agustus 2026.

"Kesiapsiagaan tersebut sebagai respon perubahan iklim. Pun juga kita sudah memperoleh arahan langsung dari Wakapolri guna mengurangi dampak kemarau panjang 2026," akui Hermawan.

Ia mengaku koordinasi lintas sektor menggandeng BPBD, Trenggalek, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi lain. 

Baca juga: Persiapan Sudah 95 Persen, CJH Trenggalek Berangkat 18 Mei 2026 Mendatang

Hasilnya, ada beberapa titik mulai kawasan Gunung Orak-Arik menjadi salah satu titik paling rawan. Pasalnya lokasi hutan itu tidak jauh dari permukiman warga sekitar.

Ditambah lagi, aktivitas pembakaran lahan di area perkebunan sekitar diyakini berpotensi memicu api merambat ke kawasan hutan.

"Untuk titik yang paling rawan itu di Orak-Arik sebab berdampingan dengan permukiman. Apabila pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas," tambahnya.

Selain itu, Gunung Jaas juga masuk kategori rawan karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar, terutama saat cuaca panas dan angin kencang.

"Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan," ujarnya.

Beberapa bentuk edukasi yang diambil Perhutani supaya dalam membuka lahan tidak melalui cara dibakar sudah dilakukan. Sosialisasi tersebut juga lewat berbagai media. Mulai dengan memasang banner sampai pada kampanye digital.

"Kami akukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial. Supaya warga tidak membuka lahan lewat cara membakar," tegasnya.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.