Tetap Menari Saat ke Toilet, Baltazar Ikut Banyumas Ngibing 24 Jam
Daniel Ari Purnomo May 02, 2026 08:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Bukan sekadar pertunjukan seni biasa, bagi Baltazar Oka (30), menari selama 24 jam tanpa henti adalah sebuah perjalanan batin untuk mengenal diri sekaligus mensyukuri tubuh yang dimilikinya.

Guru seni budaya asal Tangerang, Provinsi Banten, ini menjadi salah satu peserta tangguh dalam ajang Banyumas 24 Jam Ngibing yang digelar dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia.

Panggilan hati seniman

Baca juga: Makan Sambil Menari, Cici Asal Sumenep Ikut Banyumas Ngibing 24 Jam

Ia mengaku keikutsertaannya dalam tantangan ekstrem ini bukan semata-mata karena agenda seni rutin, melainkan panggilan hati setelah dirinya sempat vakum dari kegiatan serupa.

"Ini sebenarnya panggilan hati. Saya ingin kembali mengolah tubuh, mengenal lebih jauh, dan menikmati serta mensyukuri apa yang Tuhan berikan. Karena tubuh adalah aset utama kita," ujar Baltazar saat ditemui Tribunbanyumas.com di sela kegiatan.

Penuhi janji teman

Pria tersebut mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengikuti kegiatan serupa di Kota Solo pada tahun 2023 lalu. Namun setelah momen itu, ia sempat tidak aktif mengikuti peringatan Hari Tari karena kesibukan pekerjaan.

Keikutsertaannya di wilayah Banyumas kali ini menjadi pengalaman kedua baginya dalam menjalani tantangan menari selama 24 jam.

"Dulu di Solo, sekarang di Banyumas. Sebenarnya euforianya sama karena ini bagian dari Hari Tari Dunia. Tapi di sini suasananya berbeda, teman-temannya juga berbeda, jadi lebih luas pengalaman saya," katanya saat sedang asyik menari di halaman belakang, Taman Sari, Pendopo Kecamatan Banyumas, Sabtu (2/5/2026).

Ia juga menyebut kehadirannya di Banyumas sekaligus untuk menepati janji kepada seniman Tari Banyumas, Rianto, yang sebelumnya telah mengajaknya datang langsung.

Kantongi restu orangtua

Dalam menghadapi tantangan fisik dan mental selama 24 jam penuh, Baltazar menekankan pentingnya persiapan yang sangat matang, terutama yang berkaitan dengan stamina dan kesehatan.

"Yang paling utama itu stamina dan kesehatan. Selain itu, menjaga fokus juga penting, karena selama 24 jam ini mengatur mood itu luar biasa sulit. Jadi harus benar-benar fokus," jelasnya.

Meski mengaku tidak memiliki ritual khusus sebelum tampil, Baltazar selalu menempatkan restu orang tua sebagai hal yang paling utama. Ia mengaku rutin berkomunikasi dengan orang tuanya sebelum mengikuti sebuah kegiatan penting.

Meski kali ini orang tuanya tidak dapat hadir secara langsung, ia tetap membawa doa dan dukungan mereka sebagai kekuatan selama tampil.

"Saya tidak punya ritual khusus, tapi yang paling penting restu orangtua. Mereka sebenarnya ingin ikut, tapi tidak bisa karena ada kegiatan lain. Tapi doa dan dukungan tetap saya dapatkan," tuturnya bersyukur.

Tetap menari batin

Selama pertunjukan panjang itu berlangsung, Baltazar nyatanya tidak dibiarkan sepenuhnya sendiri. Ia didampingi oleh tim dan beberapa kru yang turut membantu serta memastikan segala kebutuhannya terpenuhi.

"Mereka selalu mengawasi, mendampingi, bahkan sekadar ngobrol untuk support. Jadi benar-benar dijaga selama 24 jam," katanya.

Terkait pemenuhan kebutuhan pribadi yang mendasar seperti pergi ke kamar kecil, menunaikan salat, maupun mandi, Baltazar menyebut semua hal itu tetap dilakukan seperti biasa. Namun, ia berusaha sekuat tenaga menjaga esensi dan 'marwah' dari konsep menari 24 jam tersebut.

"Semua tetap dilakukan seperti biasa, tapi saya berusaha menjaga kekhusyukan dan kesakralannya. Jadi walaupun tidak terlihat, saya tetap menari dari dalam diri selama 24 jam," ungkapnya membeberkan trik.

Bagi sosok Baltazar, acara Banyumas 24 Jam Ngibing bukan hanya sekadar panggung ekspresi, tetapi juga ruang penting bagi para seniman untuk leluasa menunjukkan karya mereka kepada masyarakat luas.

Ia berharap kegiatan positif ini dapat terus berlangsung dan menjadi tolok ukur perkembangan seni tari di daerah, sekaligus sarana edukasi berharga bagi masyarakat.

"Setiap karya dan tarian pasti punya makna. Harapannya masyarakat bisa lebih memahami, dari yang tidak tahu menjadi tahu tentang seni tari," pungkasnya. (jti)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.