TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS - Hampir 1.000 penari dari penjuru daerah Nusantara hingga mancanegara turut ambil bagian memeriahkan gelaran Banyumas Ngibing 24 Jam. Acara seni budaya ini diselenggarakan sejak Sabtu hingga Minggu (2-3/5/2026).
Perhelatan seni maraton ini tercatat melibatkan sedikitnya 90 kelompok atau komunitas tari, dengan menyajikan lebih dari 150 sajian pertunjukan selama sehari penuh.
Baca juga: Hampir 1.000 Penari Ramaikan Banyumas Ngibing 24 Jam: Libatkan 90 Komunitas, Ada dari Mancanegara
Sang penggagas acara, Riyanto, mengungkapkan bahwa besarnya jumlah peserta yang hadir menjadi bukti tingginya antusiasme masyarakat terhadap ajang seni tari di Kabupaten Banyumas ini.
"Penarinya hampir 1.000 orang dari berbagai sanggar. Tidak hanya dari Banyumas, tetapi juga dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Solo, hingga Tangerang," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com saat ditemui di Pendopo Kecamatan Banyumas, Sabtu (2/5/2026).
Menariknya, tidak hanya seniman dalam negeri, sejumlah peserta dari negara asing seperti Jepang, Kazakhstan, Belanda, serta Jerman juga ikut memeriahkan acara. Mereka bahkan rela datang secara mandiri demi bisa berpartisipasi.
"Nanti malam ada penampilan bersama Ibu Eli Lutan, maestro seni tari, lalu ada juga Ruben dari Jerman yang akan berkolaborasi dengan seniman Indonesia," katanya.
Lebih lanjut Riyanto menjelaskan, persiapan di lokasi sudah dilakukan sejak pukul 05.00 WIB untuk menata seluruh area. Acara lantas dibuka secara resmi lewat seremoni dua penari 24 jam, yang ditandai oleh pemukulan gong dan kentongan.
Beragam suguhan langsung ditampilkan menyemarakkan suasana, mulai dari tarian pelajar SMK Negeri 3 Banyumas, aksi Lenggeran massal, hingga atraksi barongsai. Tak sebatas tarian, acara juga diwarnai dengan pembuatan mural bersama di sepanjang Jalan Meruyung yang dimulai pada pukul 08.00 WIB.
Khusus untuk sesi pagi sampai siang hari, panitia sengaja memberikan panggung bagi anak-anak untuk unjuk gigi.
"Kami fokuskan anak-anak tampil pagi karena mereka tidak bisa sampai malam. Acara mulai sekitar pukul 08.30 dan terus berjalan," jelas Riyanto.
Salah satu daya tarik paling ditunggu dari acara ini adalah tantangan menari nonstop selama 24 jam penuh. Terdapat dua penari tangguh yang mengikuti tantangan ini, yaitu Cici yang berasal dari Sumenep, Madura, serta Baltazar Oka dari Tangerang.
Cici sebelumnya sukses menuntaskan tantangan menari 24 jam dan kini bertekad melanjutkannya hingga menuju 48 jam. Diketahui, perempuan tangguh ini merupakan seorang lulusan magister di bidang seni. Sementara itu, Baltazar juga tercatat pernah mengikuti tantangan serupa saat di Surakarta.
Pada awalnya, panitia menyeleksi tiga penari untuk tantangan ini, di mana salah satunya adalah peserta dari Amerika Serikat. Namun, peserta ekspatriat itu batal hadir lantaran kondisi kesehatannya menurun pasca-mengikuti kegiatan serupa sebelumnya.
"Tantangan menari ini berlangsung dari 2 Mei pukul 06.00 WIB hingga 3 Mei pukul 06.00 WIB," kata Riyanto merinci jadwal.
Sepanjang periode waktu tersebut, para penari dilarang keras untuk berhenti bergerak. Mereka wajib terus menari meskipun sedang melakukan rutinitas dasar, seperti saat makan maupun beristirahat.
"Tidak ada istirahat. Semua aktivitas tetap dilakukan sambil menari karena sudah diikrarkan sejak awal," tegasnya.
Praktiknya di lapangan, penari ekstrem ini ditempatkan di beberapa lokasi, mulai dari dalam pendopo hingga berjalan berkeliling demi menyambungkan seluruh rangkaian acara.
Selain panggung pertunjukan, panitia juga menyiapkan awarding sebagai wujud apresiasi. Penghargaan akan diberikan kepada para pihak pendukung acara pada malam hari, serta penghargaan khusus kepada penari 24 jam dan partisipan di saat penutupan.
"Kami juga memberikan apresiasi kepada pendaftar pertama dan komunitas yang datang dari jauh dengan jumlah besar," tambah Riyanto.
Ia membeberkan bahwa meledaknya partisipasi peserta sangat berdampak langsung pada ketersediaan akomodasi di sekitar lokasi. Bahkan, hotel-hotel di kawasan Banyumas sudah penuh dipesan sejak sebulan sebelum acara digelar.
"Panitia saja tidak kebagian hotel, akhirnya penari 24 jam kami tempatkan di homestay warga," ungkapnya.
Melalui besarnya skala partisipasi ini, gelaran Banyumas Ngibing 24 Jam tidak sekadar menjadi ajang pentas seni semata, tetapi juga berhasil memperlihatkan besarnya daya tarik Banyumas sebagai ruang pertemuan budaya lintas daerah dan mancanegara. (jti)