SURYA.CO.ID, LUMAJANG - Sosok Kokoh Yulistio Wahono, atau yang lebih akrab disapa Bung Tiok, kini menjadi sorotan di dunia seni rupa kontemporer. Seniman asal Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim) ini, berhasil menaikkan derajat instrumen musik menjadi mahakarya bernilai tinggi.
Berawal dari keisengan pada tahun 2016, kini karya lukisannya di atas media gitar dibanderol dengan harga fantastis, mencapai Rp 25 juta hingga Rp 45 juta per unit.
Bung Tiok bukanlah pemain baru, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini telah meniti karier sebagai pelukis profesional sejak 1997. Namun, keputusannya merambah media gitar listrik telah membawanya ke level kolektor internasional, mulai dari Singapura hingga Australia.
Sebelum dikenal sebagai pelukis gitar, Bung Tiok merupakan seniman kanvas dan keramik yang aktif mengikuti berbagai pameran bergengsi di dalam dan luar negeri. Titik balik kreativitasnya muncul secara tidak sengaja 8 tahun silam.
"Namanya seniman, lihat gitar polosan seperti ada yang kurang. Akhirnya saya preteli senarnya, saya gosok cat gitarnya, lalu saya gambar," kenang Bung Tiok saat ditemui SURYA.co.id, Sabtu (2/5/2026).
Meski ahli dalam memoles visual, ia mengakui sempat mengalami kendala teknis saat pertama kali merakit kembali bagian-bagian gitar yang ia bongkar. Hal inilah yang kemudian memicu kolaborasi profesional antara dirinya dengan para pengrajin gitar (luthier).
Untuk menjaga kualitas suara dan ketahanan fisik gitar, Bung Tiok menjalin kerja sama khusus dengan luthier ahli di Malang.
Bung Tiok menegaskan, bahwa melukis gitar profesional tidak boleh sembarangan, karena menyangkut kenyamanan musisi saat tampil di panggung.
Berikut adalah tahapan proses pengerjaan gitar lukis Bung Tiok:
Ia sengaja memilih luthier asal Malang, karena standar pelapisan anti gores (coating) yang lebih mumpuni.
"Karena beberapa klien itu gitaris profesional, jadi kami harus menyesuaikan dengan standar mereka," tambah Bung Tiok.
Reputasi Bung Tiok kian melambung saat pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020. Di saat sektor lain lesu, ia justru mendapatkan pesanan khusus dari Rio Clappy, pelantun lagu Bunga Abadi, sekaligus Brand Ambassador Yamaha.
"Harga orderan untuk Rio Clappy ikut kisaran Rp 25 juta," ungkap pria yang identik dengan topi dan kacamata ini. Selain musisi nasional, daftar kliennya terus meluas hingga ke mancanegara. Tingkat kesulitan gambar dan teknik pewarnaan, apakah menggunakan teknik lukis murni atau akrilik, menjadi penentu utama harga jual.
Bung Tiok juga menjelaskan, bahwa harga puluhan juta rupiah tersebut adalah representasi dari rekam jejak dan konsistensi seorang seniman. Menurutnya, menjaga harga karya adalah bentuk penghormatan terhadap kolektor terdahulu.
"Kalau seniman jual karya murah di sebuah pameran, takutnya diprotes oleh kolektor yang pernah beli karya kita sebelumnya. Makanya harga harus tetap stabil dan kompetitif sesuai kualitas," tutupnya.
Bagi Anda yang tertarik memiliki gitar custom dengan sentuhan seni rupa tinggi, karya Bung Tiok membuktikan bahwa produk lokal Lumajang mampu bersaing di pasar global dengan mengedepankan aspek keahlian (craftsmanship) dan estetika.