BANJARMASINPOST.CO.ID- Peresmian dan Pemberkatan Gua Maria Bunda Semesta berlangsung, Jumat, 1 Mei 2026.
Gua Maria Bunda Semesta ini merupakan ciptaan Uskup Uskup Keuskupan Banjarmasin, Mgr. Victorius Dwiardy, OFM.Cap dan Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang.
Acara perayaan yang dimulai sejak sekitar pkl.16.30 Wita ini berakhir pada pkl. 20.30 Wita , juga bertepatan dengan Perayaan Tahun Yubileum Santo Fransiskus dari Assisi yang memiliki spirit dan semangat yang sungguh-sungguh selalu dekat dan mencintai Bunda Maria, yang menjadikan Bunda Maria sebagai bunda Penyelamat.
Santo Fransiskus Assisi mengingatkan supaya kita sungguh-sungguh dapat melihat kebesaran dan kebaikan Tuhan melalui alam ciptaan-Nya dan menghormati alam kita ini sebagai pewahyuan dari Sang Penciptanya.
Berada di Gunung Pagar Bai
Gua Maria Bunda Semesta Ciptaan berada di kompleks Hutan Doa Maria Bunda Segala Ciptaan yang berlokasi di seberang jalan. Di depannya berdiri kompleks Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi Gendang.
Di Gua ini berdiri patung Bunda Maria setinggi 5,5 meter, dengan berat 1,5 ton dan terbuat dari tembaga tahan cuaca.
Jika pada umumnya patung Bunda Maria berwajah Eropa, namun patung ini menampilkan wajah khas perempuan Dayak Meratus.
Baca juga: Rangkaian Ibadah Paskah di Gereja Katolik Santa Maria Banjarmasin Ditutup dengan Lomba Kreatif Anak
Gua Maria ini berada di bawah bibir Gunung Pagar Bai (Pagar Babi-red), dan di antara ceruk-ceruknya, terdapat gua-gua alami yang indah memukau, dengan perpaduan stalaktit dan stalakmit, aliran sungai sungai yang airnya bergemericik, dan aneka pepohonan yang masih terjaga.
Kawasan ini dihibahkan tokoh masyarakat Dayak Meratus setempat, oleh keluarga besar Jamalludin.
Lokasinya berada di Jalan Trans Kalsel-Tim Km. 389, Desa Gendang Timburu, Kecamatan Sungai Durian, Kabupaten Kotabaru.
Dalam kotbahnya, Uskup Keuskupan Banjarmasin, Mgr. Victorius Dwiardy, OFM.Cap berujar bahwa Bunda Maria adalah teladan yang baik, sebab untuk saat-saat ini, teramat sulit mendapatkan manusia-manusia yang setia, kudus, taat, dan takut kepada Tuhan.
“Saat ini banyak orang tidak takut kepada Tuhan, tidak setia kepada Tuhan; maka itulah yang menjadi akar segala permasalahan dalam hidup, segala kerusakan, segala malapetaka dalam kehidupan kita,”ungkapnya.
Di bagian lain kotbahnya, Uskup Victor berkisah tentang salah satu sosok orang kudus dalam Gereja Katolik, yaitu Santo Fransiskus Assisi.
“Santo Fransiskus Assisi mengajak kita untuk membangun persaudaraan dengan sesama, membangun perdamaian. Di tempat ini pun kita sungguh-sungguh menjadi tempat di mana benih-benih persaudaraan, benih-benih perdamaian, dan benih-benih persatuan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan Sang Pencipta, sungguh-sungguh dapat hadir dan mengubah hidup kita. Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya, sehingga kita dapat membangun tempat ini,” pungkasnya.
Usai menyampaikan kotbahnya, Uskup Victorius bersama Uskup Petrus Timang melakukan peresmian sekaligus pemberkatan Gua Maria Bunda Semesta Ciptaan yang ditandai dengan penarikan selubung kain yang semula menutupi penampakan patung.
Sesudah itu, Uskup Victorius didampingi oleh Pastor Ruben melakukan peresmian Hutan Doa Maria Bunda Semesta Ciptaan.
Makna Kehadiran Goa Maria Bunda Semesta Ciptaan
Dalam sambutannya, Pastor Kepala Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi Gendang, Pastor Ruben Basenti Moruk, OFM menjelaskan kronologis pendirian Hutan Doa Maria Bunda Semesta Ciptaan kepada semua yang hadir.
Pastor Ruben menerangkan tentang figur perempuan Dayak Meratus yang memiliki pengaruh yang sentral dalam kaitannya dengan alam dan lingkungan sekitar.
Menurutnya, kaum Perempuan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan hutan.
Perempuan Dayak Meratus, bisa dilihat sebagai penjaga alam, sekaligus memiliki kekuatan untuk melindungi lingkungan.
Perempuan Dayak Meratus sering dipandang sebagai figur ibu bumi: penjaga kesuburan, kehidupan, dan harmoni alam.
"Berangkat dari makna simbolis ini, kami memberi nama lokasi ini sebagai ‘Maria Bunda Semesta Ciptaan’. Bunda Maria adalah Bunda bagi semua orang yang berkehendak baik untuk memulihkan relasinya dengan alam dan lingkungan sekitarnya,”katanya.
Anggota DPRD Kabupaten Kotabaru, Monika Dahu dalam sambutan singkatnya mewakili Pemerintah Kotabaru mengucapkan selamat dan proficiat atas peresmian dan pemberkatan Hutan Doa Maria Bunda Semesta Ciptaan.
Monika berujar, keberadaan Hutan Doa ini mengajak kita semua untuk menghormati Bunda Maria sebagai Bunda Semesta Ciptaan.
"Semoga peristiwa ini semakin menyadarkan kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan bersama Bunda Maria,"katanya.
Sedangkan Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang mengajak semua umat di Gereja Katolik Santo Fransiskus Assisi Gendang untuk berefleksi bersama atas perjalanan iman selama 10 tahun terakhir.
Dikatakannya, kita sekarang sampai pada suatu Hutan Doa, yang prosesnya sungguh terjadi secara luar biasa.
Baca juga: Sosok Pengganti Paus Fransiskus Pimpin Umat Katolik, Proses Pemilihan Melibatkan 120 Orang
Kehadiran tempat ini juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat setempat, bukan hanya yang ada di Gendang Timburu, Kecamatan Sungai Durian; namun juga bagi masyarakat Kalimantan Selatan, bahkan juga bagi masyarakat di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan.
"Saya sangat meyakini bahwa tempat ini akan menjadi oase yang akan memberikan kesejukan bagi siapa saja,”pungkasnya.
Hal senada juga diungkapkan Pastor Hieronimus Yoseph Dei Rupa, OFM, Vikaris Provinsial OFM Indonesia yang berharap agar tempat doa ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Katolik, namun bagi semua orang yang merindukan kesejukan, kenyamanan, dan kedamaian hati.
Acara ini dihadiri oleh umat Katolik dari Gendang dan daerah lainnya di seputaran Pegunungan Meratus. Selain itu hadir pula tamu dan undangan dari berbagai kota/kabupaten di Kalimantan Selatan. (*)