TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kebijakan yang ditetapkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terkait penurunan potongan aplikator ojek online (ojol) menjadi maksimal 8 persen dari sebelumnya yang bisa mencapai 20 persen, mulai menuai tanggapan dari para pengemudi di lapangan.
Sebagian menyambut positif langkah tersebut, meski masih ada keraguan terkait penerapannya oleh pihak aplikator.
Salah satu driver Maxim, Jumawan (45), mengaku setuju dengan kebijakan tersebut karena dinilai menguntungkan mitra pengemudi. Meski demikian, ia menyebut potongan yang berlaku saat ini masih berada di atas 10 persen.
"Saya sebagai ojek online sangat setuju, sangat senang sekali karena jelas menguntungkan bagi mitra seperti kami. Tapi untuk sekarang ini masih belum, potongannya masih tetap di atas 10 persen," ujarnya saat diwawancarai tribunpontianak.co.id, di Jl. Sepakat II Pontianak Tenggara, Sabtu 2 Mei 2026.
Menurutnya, potongan sebesar 10 persen masih tergolong wajar. Namun, ketika melebihi angka tersebut, beban yang ditanggung pengemudi menjadi semakin berat.
"Kalau di atas 15 persen sampai 20 persen itu rasanya kami seperti kerja bakti, karena potongannya besar," katanya.
Baca juga: Warga Pontianak Dukung Potongan Ojol 8 Persen, Harap Tarif Tetap Terjangkau
Ia berharap manajemen aplikator, khususnya Maxim, dapat segera menyesuaikan kebijakan sesuai ketetapan pemerintah agar pengemudi lebih terbantu secara ekonomi.
"Kalau bisa manajemen Maxim menurunkan sesuai ketetapan presiden jadi 8 persen. Jadi kami sebagai mitra agak terbantu dan penghasilan bisa dibawa pulang untuk keluarga," ucapnya.
Namun, Jumawan mengaku ragu kebijakan tersebut akan segera diterapkan oleh perusahaan aplikator.
"Kalau kebijakan ini diterapkan, saya ragu sama aplikator. Kayaknya 8 persen masih ragu, bahkan 10 persen saja mereka masih ragu," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini potongan di lapangan bervariasi, berkisar antara 13 hingga 15 persen, bahkan bisa lebih tinggi tergantung nominal perjalanan.
"Semakin besar pendapatan, potongannya juga lebih besar. Misalnya dapat Rp50 ribu, potongannya bisa sampai Rp7 ribu atau Rp8 ribu. Padahal seharusnya tidak sebesar itu," jelasnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, semakin memberatkan pengemudi karena harus menanggung biaya operasional seperti bahan bakar dan risiko di jalan.
"Kalau di jalan kita kerja, belum lagi bensin, belum lagi kalau ada apa-apa di jalan. Kita ini hanya untuk bertahan hidup," katanya.
Dalam sehari, ia mengaku pendapatannya pun tidak menentu. Bahkan, pada hari tertentu jumlah pelanggan sangat minim.
"Seharian ini saja saya baru dapat dua pelanggan, sudah mutar-mutar belum dapat," tuturnya.
Ia berharap kebijakan pemerintah benar-benar dijalankan oleh aplikator agar kesejahteraan pengemudi ojol dapat meningkat.
"Harapannya aplikator seperti Maxim benar-benar mengikuti aturan pemerintah. Kalau potongan 8 persen, kami pasti lebih semangat bekerja," pungkasnya. (*)
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!