SURYA.CO.ID, BLITAR - Bencana tanah longsor kembali menerjang wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim), di penghujung musim hujan 2026. Intensitas hujan yang tinggi memicu pergerakan tanah di dua titik strategis, yakni Kecamatan Gandusari dan Kecamatan Doko, yang sempat memutus urat nadi transportasi antar-desa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar mengonfirmasi, bahwa material longsor sempat menutup total akses jalan lingkungan dan jalan antar-desa.
Tim reaksi cepat bersama unsur TNI, Polri dan relawan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi material guna memulihkan mobilitas warga.
Peristiwa ini bermula saat hujan lebat dengan durasi panjang mengguyur wilayah Blitar sejak siang hingga sore hari pada Kamis (30/4/2026). Kondisi tanah yang sudah jenuh air di lereng perbukitan menjadi tidak stabil, sehingga memicu guguran material tanah dan bebatuan.
Berdasarkan data yang dihimpun SURYA.co.id, berikut adalah detail dua titik terdampak:
"Kemarin, kami bersama TNI, Polri, dan warga melakukan pembersihan material longsor di dua lokasi tersebut. Mengingat pentingnya jalur tersebut bagi ekonomi warga, pembersihan dilakukan secara gotong royong agar akses kembali terbuka," ungkap Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, Sabtu (2/5/2026).
Wahyudi menjelaskan, bahwa bencana ini murni dipicu oleh faktor hidrometeorologi. Fenomena pancaroba atau transisi musim di Kabupaten Blitar sering ditandai dengan hujan ekstrem dalam durasi singkat, namun memiliki volume air yang sangat besar.
Secara teknis, wilayah Doko dan Gandusari memiliki topografi yang berbukit. Ketika hujan deras mengguyur, air masuk ke dalam retakan tanah (infiltrasi) yang kemudian menambah beban massa tanah. Tanpa vegetasi penahan yang kuat, tanah tersebut mudah meluncur mengikuti gravitasi, terutama pada lahan dengan kemiringan curam.
"Beruntung, material tanah longsor hanya menutup akses jalan. Berdasarkan asesmen tim di lapangan, tidak ada bangunan rumah warga yang terdampak maupun korban jiwa dalam peristiwa ini," tambah Wahyudi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui BPBD, meminta masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan ekstra. Meskipun sudah berada di penghujung musim hujan, potensi cuaca ekstrem masih mengintai wilayah Jawa Timur, khususnya daerah lereng gunung.
Masyarakat diimbau untuk mengenali tanda-tanda awal longsor, seperti munculnya retakan di tanah, air sumur yang tiba-tiba keruh, atau pohon yang tampak miring secara tidak wajar setelah hujan lebat. Jika melihat tanda-tanda tersebut, warga diharapkan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman dan melaporkannya kepada perangkat desa atau posko BPBD setempat.
"Masyarakat harus tetap waspada, karena akhir-akhir ini hujan lebat masih sering terjadi secara merata. Musim pancaroba seringkali lebih sulit diprediksi dibandingkan musim hujan reguler," tutup Wahyudi.