TRIBUNJAKARTA.COM - Anggota Komisi A DPRD Jakarta dari Fraksi PSI, Kevin Wu, menilai, premanisme masih marak di Jakarta.
Sejumlah peristiwa pemalakan, intimidasi sampai kekerasan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, menjadi salah satu rujukannya.
Kevin pun mengungkap hasil identifikasinya bahwa penyebab dari premanisme adalah kemiskinan.
"Memang yang kita lihat dari sisi sosial, premanisme ini muncul kan karena saudara kembarnya adalah faktor ekonomi atau kemiskinan," kata Kevin saat bicara di Podcast Ruang Jakarta, dikutip Minggu (3/5/2026).
Menjadi "preman" dengan mencari uang dari parkir liar, memalak pedagang ataupun sopir kendaraan umum, yang notabene datang dari kelompok ekonomi yang sama, menjadi pilihan karena sulitnya lapangan kerja.
"Kenapa kemiskinannya muncul? Karena memang ketersediaan kesempatan kerjanya sangat minim. Nah, mulai dari apa ya? Kesempatan mereka untuk bekerja tidak ada, kesempatan mereka berusaha juga tidak ada, maka akibatnya akan tumpah ruah ke ruang-ruang yang seperti tadi ya, parkir liar, premanisme, pemalakan atau narkoba dan lain sebagainya. Karena itulah kesempatan ekonomi mereka untuk survive di kota seperti Jakarta ini," paparnya.
Pemerintah, menurut Kevin, gagal menekan laju urbanisasi, sehingga Jakarta dipenuhi orang-orang dari daerah yang memiliki mimpi besar mengubah nasib, namun tak punya keahlian.
Tuntutan untuk bertahan di kerasnya Ibu Kota, dan memberi nafkah kepada keluarga di kampung, membuat segala upaya mendapatkan uang pun dilakukan, sampai ke kriminalitas.
"Datang ke Jakarta dengan mimpi besar tetapi skill yang rendah, akibatnya ya cuma bisa pekerja-pekerja kasar seperti itu."
"Ini kan iya kegagalan pemerintah sebenarnya bagi saya bahwa tidak mampu menjaga ekosistem usaha sehingga yang terjadi masyarakat tetap harus hidup mencari penghidupan yang layak di kota besar seperti Jakarta. Maka eksesnya lari ke pekerjaan-pekerjaan yang tidak formal termasuk premanisme," jelasnya.
Kevin mengatakan, untuk Jakarta sendiri, Pemprov telah menyediakan sejumlah program, seperti pelatihan service AC, mengemudi mobil hingga membuat kue.
Tapi, yang menjadi kritik Kevin, program tersebut belum berjalan maksimal.
"Sekarang pertanyaannya kami juga terus memantau seberapa efektif? Bagaimana cara rekrutmennya, bagaimana program latihannya dan itu membuat si orang yang ikut berlatih itu benar-benar dapat kerjaan setelahnya."
"Bagi saya masih formalitas ya kan. Dengan cara sederhana aja. Setelah lulus bisa enggak mereka berusaha? Bisa mereka melanjutkan? Kalau itu masih belum kan berarti cuman formalitas aja, cuman laporan-laporan dibikin asal Bapak senang itu," jelasnya.