TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, mendadak mencekam pada Kamis (30/4/2026) pagi setelah api berkobar di salah satu gedung Apartemen Mediterania.
Asap hitam tebal terlihat membubung tinggi dari bagian belakang bangunan sekitar pukul 07.30 WIB, memicu kepanikan luar biasa di kalangan penghuni yang tengah memulai aktivitas pagi mereka.
Berdasarkan rekaman visual dari lokasi kejadian, petugas tampak mengerahkan tangga-tangga darurat untuk menjangkau jendela di lantai tinggi, sementara personel lainnya membawa tandu dan mengalirkan air melalui pipa besar guna menjinakkan si jago merah.
Ketegangan pagi itu kembali diceritakan langsung oleh Iwan Ogan, penghuni lantai 33 Tower Catelya yang terjebak bersama putranya, Bujang (3,5).
"Pagi itu kami sedang main, mau siap-siap sarapan. Sekitar pukul 07.45 WIB, saya mencium aroma asap, halus sekali. Pas saya buka pintu kamar, kaget bukan main, kabut asap sudah menembus dari pintu tangga darurat," terang Iwan kepada Tribunnews.com, Minggu (3/5/2026).
Kepanikan Iwan memuncak saat mendapati semua akses komunikasi terputus total.
"Saya coba hubungi istri dan pengelola lewat ponsel, nihil. Sinyal hilang, pesan cuma 'muter-muter'. Pakai interkom pun mati karena lampu sudah padam. Alarm yang biasa kami dengar saat latihan simulasi malah tidak bunyi sama sekali. Saya gemetar, pikiran mulai blank," tuturnya.
Di tengah keputusasaan itu, sebuah tarikan kecil di tangannya membuyarkan ketakutan. Bujang, sang anak, menatapnya dengan tenang dan berucap, "Ayah, kita jangan panik. Nanti kita meleleh kalau panik."
Kalimat itu, menurut Iwan, menjadi titik baliknya. "Kata-kata Bujang membalikkan semuanya. Saya langsung tenang. Saya basahi selimut, handuk, dan baju kami berdua. Kami harus keluar lewat tangga darurat, itu satu-satunya jalan karena lift mati."
Namun, perjuangan menerobos asap tak semudah yang dibayangkan.
"Di lantai 33 masih kelihatan anak tangganya. Turun satu lantai, asap mulai mengganggu. Makin ke bawah makin pekat, hitam sekali sampai napas rasanya mencekik leher. Baru turun sekitar lima lantai, saya menyerah karena Bujang mulai batuk-batuk. Saya bawa dia lari lagi ke atas sampai rooftop lantai 36, tapi ternyata terkunci," cerita Iwan.
Dengan sisa tenaga, ia kembali ke unitnya di lantai 33 dan bersyukur pintu tersebut belum tertutup rapat. Begitu masuk, ia menyumbat semua celah udara dengan handuk basah dan membawa Bujang ke balkon.
"Saya cari cara supaya orang di bawah tahu kami terjebak. Saya kibarkan baju warna terang sambil teriak sekuatnya, tapi tidak ada respons karena posisi kami sangat tinggi," katanya.
Tak kehilangan akal, Iwan menuliskan pesan darurat di atas beberapa helai baju menggunakan spidol.
"Saya tulis 'C 33 GK / 2 ORG: IWAN + BUJANG' dan nomor telepon saya, lalu saya lempar ke bawah. Saya lihat ada baju yang sampai ke dekat petugas damkar. Tak lama, pukul 08.55 WIB, ada telepon masuk dari nomor asing. Ternyata petugas Damkar. Rasanya lega sekali, hati saya mulai tenang," ungkapnya.
Melalui sambungan telepon, petugas meminta Iwan tetap bertahan di balkon karena asap di koridor masih terlalu berbahaya. Saat menunggu, Iwan sempat mengecek lorong luar dan mendapati tetangganya yang baru pindah ternyata belum menyadari kebakaran.
"Anehnya di unit sebelah listrik dan AC masih nyala. Akhirnya Bujang saya titipkan sementara di sana supaya dia lebih nyaman," tambahnya.
Penantian panjang itu berakhir pukul 10.20 WIB saat pintu unitnya digedor keras oleh petugas yang mengenakan jubah anti-api dan tabung oksigen.
"Bujang langsung teriak kegirangan, 'Terima kasih bapak-bapak! Tengkyu, xie xie!' saat petugas masuk. Kami dievakuasi menggunakan lift barang bersama sekitar delapan penghuni lain yang juga terjebak di lantai bawah," kata Iwan.
Sekitar pukul 10.35 WIB, Iwan dan Bujang akhirnya berhasil menyentuh lantai dasar dan disambut oleh petugas medis.
"Begitu keluar lift, Bujang malah jadi pusat perhatian. Dia tidak nangis sama sekali, malah semangat ajak semua petugas 'tos' sambil bilang terima kasih berulang-ulang. Petugas damkar sampai gemas melihat tingkahnya," kenang Iwan sambil tersenyum tipis.
Iwan mengaku, ketegaran seorang anak kecil-lah yang telah menyelamatkan nyawa mereka dari kepanikan.
"Kalau bukan karena kalimat Bujang yang melarang saya panik, mungkin saya tidak akan bisa berpikir sejernih itu untuk menyelamatkan kami berdua," tutupnya mengakhiri cerita.