Cirebon Jadi Pusat Gerakan Nasional, Imunisasi Didorong Kembali Demi Cegah KLB
Kemal Setia Permana May 03, 2026 07:46 PM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Kota Cirebon menjadi pusat

Gerakan Nasional Imunisasi saat puncak peringatan Pekan Imunisasi Dunia 2026 digelar di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ), Minggu (3/5/2026).

Dari panggung bernuansa budaya hingga aksi nyata pemberian vaksin kepada anak, pesan yang disuarakan tegas, yakni imunisasi harus kembali dikuatkan demi mencegah ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB).

Dalam kesempatan itu, sejumlah tenaga kesehatan dan tokoh hadir langsung memberikan imunisasi tetes kepada anak-anak, disaksikan para peserta yang mengabadikan momen tersebut.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso menegaskan, bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian penyakit menular.

Baca juga: Anak Diduga Diintimidasi Oknum Polisi, Ibu di Pangandaran Curhat ke KDM dan Hotman Paris

“Kita masih melihat bagaimana Indonesia masih disibukkan dengan berbagai KLB atau wabah penyakit menular yang sebetulnya bisa dicegah dengan imunisasi,” ujar Piprim, saat diwawancarai media selepas acara, Minggu (3/2026). 

Ia menjelaskan, dipusatkannya kegiatan di Cirebon menjadi bagian dari strategi untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap pentingnya imunisasi.

“Acara puncak peringatan Pekan Imunisasi Dunia 2026 ini merupakan salah satu upaya kita untuk mengembalikan kembali kepercayaan masyarakat kepada imunisasi dan meningkatkan cakupan imunisasi,” ucapnya.

Menurutnya, peningkatan cakupan imunisasi merupakan kunci utama dalam menekan potensi wabah di masa mendatang.

“Semakin menular penyakitnya, makin harus lebih tinggi lagi cakupannya. Itu solusi untuk mengendalikan KLB yang sedang berkecamuk,” jelas dia.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak ekonomi akibat wabah jauh lebih besar dibandingkan upaya pencegahan.

Baca juga: Persib Kans Main di 4 Kompetisi Musim Depan, Termasuk 1 yang Masih Misteri Digodok PSSI-LIB

“Kalau terjadi KLB, itu biayanya jauh lebih mahal daripada apabila kita melakukan imunisasi rutin,” katanya.

Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hartono Gunardi mengungkapkan, bahwa penurunan cakupan imunisasi dalam beberapa tahun terakhir dipicu pandemi Covid-19 serta meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksin.

“Pandemi Covid menyebabkan pelayanan imunisasi menurun, bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia,” ujar Hartono.

Ia menambahkan, fenomena keraguan vaksin tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara maju yang sebelumnya telah bebas penyakit tertentu.

"Di negara Eropa yang sudah bebas campak, itu mengalami keraguan vaksin dan mereka juga mengalami KLB campak,” ucapnya.

Hartono mengingatkan, penyakit seperti campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.

“Satu penderita campak dapat menularkan ke 18 orang di sekitarnya,” jelas dia.

Karena itu, ia menekankan bahwa imunisasi bukan hanya melindungi individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas.

“Melindungi anak, melindungi lintas generasi,” katanya.

Ia pun mengajak orang tua untuk memastikan kelengkapan imunisasi anak melalui buku KIA, serta mendukung gerakan LITTLEKU (Lengkapi Imunisasi Tidak Lengkap Anakku).

“Tolong lihat catatan imunisasi di buku KIA. Bila belum lengkap, tolong dilengkapi,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, panitia juga menggelar pemeriksaan antropometri anak serta talkshow bertajuk “Ikhtiar Sehat, Ibadah Kuat: Lengkapi Imunisasi Anak Kita” yang menghadirkan tokoh agama Yahya Zainul Ma'arif, melalui zoom meeting.

Kehadiran tokoh agama ini menjadi upaya pendekatan kultural untuk memperkuat pemahaman masyarakat tentang pentingnya imunisasi.

Menutup pernyataannya, Hartono menyampaikan pesan menyentuh kepada para orang tua tentang pentingnya menjaga kesehatan anak sebagai investasi masa depan.

“Anak itu merupakan titipan Tuhan. Kalau anak kita sakit, bisa sembuh, bisa sembuh dengan cacat, atau tidak ada. Oleh karena itu, kita harus menjaga anak-anak kita sebaik-baiknya,” ucap Hartono.

Melalui kombinasi edukasi, budaya dan aksi nyata, Cirebon tak sekadar menjadi tuan rumah, tetapi juga simbol bangkitnya kembali gerakan imunisasi nasional demi melindungi generasi bangsa dari ancaman wabah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.