Di Balik Kepergian dr Myta, Keluarga Soroti Curhatan Almarhumah Saat Bertugas di Kuala Tungkal,Lelah
Moch Krisna May 03, 2026 09:32 PM

 






TRIBUNSUMSEL.COM --
Keluarga besar almarhumah dr. Myta Aprilia Azmy menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Kementerian Kesehatan RI dalam mengusut tuntas penyebab kematian dokter internship tersebut. 

Pihak keluarga kini menyerahkan seluruh proses investigasi medis kepada pemerintah guna mengungkap fakta di balik wafatnya dr. Myta di ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin, Palembang.

“Memang ada dugaan beban kerja berat ataupun faktor lain, namun kami belum mendapatkan data secara lengkap. Saat ini kami masih dalam suasana duka, dan Myta baru dimakamkan pukul 10.00 WIB tadi,” ujar dr Febri.

Ia menambahkan, pihak keluarga juga belum banyak berdiskusi dengan rekan sesama dokter internship yang hadir dari Kuala Tungkal, Jambi.

“Dari Kemenkes juga akan melakukan investigasi di Muara Tungkal pada Senin besok,” katanya.

Menurutnya, keluarga belum dapat menyimpulkan penyebab pasti karena keterbatasan data.

“Kami mengucapkan terima kasih atas respons cepat dari senior, sahabat, serta IKA FK Unsri yang telah mendukung keponakan kami. Apa pun hasilnya, kami serahkan sepenuhnya kepada IKA FK dan Kemenkes,” jelasnya.

Keluarga juga berharap kejadian serupa tidak terulang.

“Kami berharap ke depan tidak ada lagi ‘Myta kedua’. Ini sudah keempat kalinya dokter internship meninggal di tempat tugas,” ujarnya.

dr Febri menyebut, sebelum menjalani penugasan di RSUD Kuala Tungkal, kondisi Myta dalam keadaan sehat dan telah melalui proses seleksi serta skrining medis.

“Tidak ada riwayat penyakit paru, hasil rontgen dan laboratorium juga baik, sehingga dinyatakan layak mengikuti program internship,” katanya.

Selama bertugas, Myta disebut sempat mengeluhkan padatnya jadwal jaga, namun tidak secara rinci.

“Dia hanya sempat bercerita bahwa jadwal jaga cukup padat. Kami tidak mendalami lebih lanjut karena menganggap itu bagian dari pengabdian,” ujarnya.

 

Kronologi Sakit hingga Wafat

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Myta sempat mengalami sesak napas, demam, dan batuk saat bertugas di Kuala Tungkal.

Ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit setempat dan kondisinya sempat membaik. Namun, satu minggu kemudian, gejala kembali kambuh.

“Saturasi oksigen sempat turun di bawah 90 persen, bahkan hingga 80 persen. Ia kemudian disarankan berobat ke rumah sakit di Jambi,” jelasnya.

Karena disarankan beristirahat, Myta sempat dibawa ke OKU Selatan. Namun kondisinya kembali memburuk dengan saturasi oksigen turun hingga 75–80 persen.

Akhirnya, Myta dirujuk ke RSUP Dr Mohammad Hoesin dan dirawat di ICU.

“Saat masuk ICU, kondisi sudah sangat berat, dengan saturasi di bawah 70 persen dan harus menggunakan ventilator,” ujarnya.

Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, Myta dinyatakan meninggal dunia pada 1 Mei 2026 pukul 11.20 WIB.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.