TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Perayaan Hari Tari Dunia melalui Klaten Menari #3 di Candi Prambanan, Minggu (3/5/2026), tidak hanya menghadirkan ratusan penari, tetapi juga membawa aspirasi besar dari pelaku seni tari di Klaten.
Ketua FSST Klaten Muhammad Qowim, menyampaikan kegiatan ini melibatkan 24 sanggar dengan total sekitar 850 penari.
“Pada kesempatan ini kita ada 24 sanggar tari yang tergabung dengan 850 penari yang hadir memeriahkan Hari Tari Dunia ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian acara disusun dalam dua sesi untuk memaksimalkan keterlibatan penari dan penonton.
Sesi pagi dimulai dari ritual tari sesaji di Candi Sewu yang bersifat sakral dan terbatas.
“Karena tari sesaji itu bersifat semi spiritual, maka kami menutup atau membatasi,” katanya.
Selanjutnya, kegiatan berlanjut dengan kirab budaya dan tari kolosal di pelataran Candi Prambanan.
Memasuki sesi siang, parade tari dari berbagai sanggar digelar hingga puncaknya flash mob jatilan.
Di balik kemeriahan itu, Qowim menegaskan adanya pesan penting yang disampaikan kepada pemerintah.
“Kami berharap… Siwa Greha atau Candi Prambanan ini dinobatkan sebagai rumah budaya. Tepatnya adalah rumah bagi penari nusantara,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek ekonomi dan pelestarian budaya di kawasan cagar budaya. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)