PDAM Makassar Siagakan 80 Mobil Tangki Air
Abdul Azis Alimuddin May 03, 2026 10:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Ancaman krisis air bersih saat musim kemarau mulai menjadi perhatian serius di Kota Makassar.

Di sejumlah wilayah, air tidak lagi mengalir setenang biasanya, melainkan seperti arus yang sesekali tersendat di tengah kebutuhan yang terus meningkat.

Kondisi tersebut membuat pemerintah kecamatan bersama PDAM Makassar bergerak menyiapkan langkah antisipasi.

Upaya ini dibahas dalam Program Bincang Kota, menghadirkan Camat Tallo Andi Husni, Camat Tamalanrea Andi Patiroi, serta Plt Dirut PDAM Makassar Andi Syahrum Makkuradde, Rabu (29/4/2026).

Diskusi dipandu oleh I Luh Devi Sania dengan mengangkat tema krisis air bersih di tengah ancaman musim kemarau panjang dan fenomena El Nino.

Dalam forum, para pemangku kebijakan membahas kondisi eksisting hingga strategi penanganan yang disiapkan di lapangan.

Berikut kutipan wawancaranya:

Bagaimana pengalaman anda memimpin PDAM Makassar?

Syahrum: Menghadapi potensi kemarau panjang, kami telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Sumber Daya Mineral Provinsi yang meminta data titik-titik lokasi rawan kekeringan.

Mengingat kondisi serupa pernah terjadi pada 2023, langkah antisipasi mulai kami siapkan sejak sekarang.

Salah satunya dengan menyiagakan armada distribusi air bersih.

Saat ini kami memiliki 14 mobil tangki, dan setelah berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana, Damkar, serta pemerintah provinsi, total terdapat 80 mobil tangki yang siap menyalurkan air bersih kepada masyarakat.

Perlu dipahami, PDAM tidak hanya memasok air bersih kepada pelanggan, tetapi juga kepada masyarakat yang belum menjadi pelanggan.

Itulah bentuk komitmen sosial PDAM dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Daerah mana saja kategori rawan krisis air saat musim kemarau ini?

Syahrum: Krisis air bersih cukup parah terjadi di empat kecamatan, yakni Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Tallo, sebagian wilayah Tamalanrea, dan sebagian Kecamatan Biringkanaya.

Namun saat ini, PDAM Makassar menyebut kondisi di Tamalanrea dan Biringkanaya mulai membaik dibanding sebelumnya.

Hal itu karena jaringan pipa dari Tello sudah tersambung ke wilayah Tamalanrea dan Biringkanaya, sehingga distribusi air mulai berjalan.

Bagaimana kondisi ketersediaan air bersih di Kecamatan Tallo?

Husni: Untuk wilayah Kecamatan Tallo, krisis air bersih terjadi di tiga kelurahan, yakni Kelurahan Buloa, Kelurahan Tallo, dan Kelurahan Kaluku Bodoa.

Bahkan, berdasarkan laporan WALHI, persoalan ini sudah berlangsung lebih dari 20 tahun.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi saat musim kemarau.

Tetapi juga di luar musim kemarau warga tetap mengalami kesulitan air bersih.

Salah satu penyebab utamanya adalah faktor geografis karena wilayah tersebut berada di pesisir laut.

Akibatnya, meski dibuat sumur bor, air yang diperoleh tetap asin dan tidak layak digunakan.

Selain itu, distribusi air dari PDAM juga menjadi persoalan yang perlu segera ditindaklanjuti agar krisis air bersih di tiga kelurahan tersebut dapat teratasi.

Kelurahan mana saja yang paling berisiko terdampak krisis air bersih?

Patiroi: Untuk Kecamatan Tamalanrea, terdapat beberapa kelurahan yang terdampak krisis air bersih, dengan wilayah paling parah berada di Kelurahan Bira dan Kelurahan Parangloe karena termasuk kawasan pesisir.

Secara keseluruhan, ada enam kelurahan yang mengalami dampak, yakni Kelurahan Tamalanrea, Buntusu, Kapasa, Kapasa Raya, Bira, dan Parangloe.

Di Kelurahan Bira misalnya, sambungan PDAM memang sudah ada, namun aliran air ke wilayah tersebut dinilai belum terlalu kuat.

Sementara masyarakat di kawasan pesisir juga menghadapi kondisi air tanah yang payau.

Untuk memenuhi kebutuhan air, warga setempat memanfaatkan air hujan dengan menyiapkan tandon atau penampungan sebagai langkah mitigasi.

Sementara itu, untuk wilayah BTP, kebutuhan air bersih lebih banyak bergantung pada pasokan PDAM.

Saat musim kemarau, debit air biasanya menurun sehingga distribusi ikut berkurang.

Karena itu, titik-titik tersebut akan menjadi perhatian khusus jika terjadi kemarau panjang.

Apa upaya mitigasi jangka pendek yang ditawarkan kepada masyarakat?

Syahrum: Kami saat ini bekerja dengan dua langkah sekaligus, yakni penanganan jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini, serta solusi jangka panjang agar persoalan air bersih tidak terus berulang di masa mendatang.

Untuk wilayah utara Kota Makassar, khususnya Kecamatan Tallo dan Ujung Tanah, persoalan utama yang dihadapi adalah menurunnya debit air.

Kondisi ini membuat pasokan air bersih sering mengalami gangguan.

Bahkan, bukan hanya saat musim kemarau, di luar musim kemarau pun masyarakat di wilayah tersebut masih kerap kesulitan mendapatkan air.

Karena itu, persoalan mendasar inilah yang menjadi fokus utama untuk segera diperbaiki, sehingga distribusi air ke warga dapat berjalan lebih lancar dan kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi secara maksimal.

Faktor-faktor beberapa wilayah selalu kesulitan air bersih saat musim kemarau?

Syahrum: Untuk wilayah utara, persoalan utamanya memang terletak pada kurangnya suplai air.

Setelah dilakukan pengecekan, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh tingginya tingkat kebocoran pipa di sejumlah titik.

Hal itu terjadi karena jaringan pipa yang digunakan sudah berusia lama atau sudah tua, sehingga rentan mengalami kerusakan dan kebocoran.

Selain itu, kendala lain muncul saat aliran air dari kawasan Perintis hendak disalurkan ke wilayah utara.

Di beberapa jalur, telah dilakukan pelebaran jalan sehingga posisi pipa kini berada di tengah badan jalan.

Untuk melakukan penggalian dan perbaikan pipa di lokasi tersebut, tentu diperlukan izin terlebih dahulu dari Balai Jalan pemerintah pusat.

Imbauan untuk masyarakat menghadapi potensi krisis air bersih ini?

Husni: Kami di Kecamatan Tallo memahami bahwa krisis air bersih merupakan persoalan mendasar yang harus segera ditangani, karena air adalah kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi salah satu indikator kesejahteraan warga.

Oleh karena itu, pemerintah kecamatan terus berupaya menghadirkan solusi bersama agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi.

Selain mendorong percepatan penanganan distribusi air, kami juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan seperlunya, terutama di tengah kondisi pasokan yang terbatas.

Penggunaan air secara hemat diharapkan dapat membantu pemerataan distribusi kepada warga lain yang juga membutuhkan.

Sebagai langkah nyata, kami telah berkoordinasi dengan para lurah, RT, dan RW untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Nantinya, surat edaran akan disampaikan kepada warga terdampak sebagai imbauan resmi agar penggunaan air dilakukan seefisien mungkin.

Dengan kerja sama antara pemerintah, PDAM, dan masyarakat, diharapkan persoalan krisis air bersih di Kecamatan Tallo dapat diatasi secara bertahap dan berkelanjutan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.