POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kepulan asap sudah membumbung dari sebuah rumah yang tampak sederhana, Minggu (3/5/2026), pagi.
Di depan rumahnya terpampang sebuah papan besar berdiri kokoh, tulisan Adeza menjadi yang penarik mata untuk melirik.
Di papan itu pula, tertulis beragam varian rasa keripik pisang yang menjadi usaha besutan perempuan bernama Mariati (40).
Adeza bisa dibilang simbol ketekunan seorang ibu yang merintis usaha dari nol sejak tahun 2018 silam.
Dapur produksi Adeza bukanlah pabrik besar yang dipenuhi mesin-mesin canggih. Lokasinya tepat berada di samping rumah, sebuah ruang terbuka. Suasana pagi itu tampak sibuk, ritme kerja yang terjaga selama delapan tahun terakhir masih terasa kental.
Di sebuah sudut, dua orang pegawai Mariati tampak duduk berhadapkan tumpukan pisang kepok berwarna hijau menggunung di atas sebuah gerobak sorong. Jemari mereka lincah memainkan pisau, mengupas kulit pisang satu per satu.
Pekerjaan sesekali diselingi obrolan ringan antara keduanya, namun mereka tetap fokus. Sementara itu, di sudut lainnya sebuah kuali besar berisi minyak panas sudah menunggu. Di sinilah Posbelitung.co menjumpai Mariati.
Mariati duduk di depan kuali besar tersebut. Tangan kirinya memegang alat pengiris manual, sementara tangan kanannya menggesekkan pisang yang tadi terkupas hingga irisan tersebut terendam di minyak yang mendidih.
Setiap irisan pisang kepok yang jatuh menimbulkan suara desis yang khas. Mariati kemudian mengaduk-aduk irisan pisang itu agar matangnya merata dan tidak gosong.
Disertai wajah yang terkena uap panas, mariati menceritakan perjalanan usahanya.
“Biasanya kita mulai produksi itu jam enam lewat sedikit. Bergantung pada tukang gorengnya, kalau cepat ya selesainya jam dua siang, kalau tidak ya sampai sore,” ujar Mariati.
Ketekunan Mariati selama 8 tahun membuahkan hasil yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meski diproduksi secara rumahan, keripik pisang Adeza miliknya ternyata memiliki reputasi yang mengagumkan.
Tak pernah Mariati sangka bahwa keripik pisang dari pinggiran Manggar ini sudah dicicipi oleh lidah orang-orang di Malaysia.
Mariati bercerita, seringkali ada kerabat pelanggannya yang membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa sebagai buah tangan ke Negeri Jiran tersebut.
Tak berhenti di situ, keripik Adeza juga sering dikirim lewat paket menuju Jakarta, Bangka, hingga Tanjungpandan. Namun, satu cerita yang paling membuat Mariati bangga adalah saat keripiknya sampai ke tanah suci.
“Ke Mekkah pun pernah. Ada orang yang beli untuk dibawa ke sana (saat umrah atau haji). Rasanya senang sekali keripik kita bisa sampai ke mana-mana, sudah keliling,” ucapnya.
Sekadar informasi, keripik Adeza menawarkan tiga varian rasa utama yang menjadi andalannya, yakni cokelat, manis, dan original.
Terkait harga, Mariati menyediakan kemasan yang sangat bervariasi, mulai dari bungkusan kecil seharga Rp12 ribu hingga ukuran satu kilogram seharga Rp120 ribu.
“Kita sesuaikan, selain dua itu ada yang Rp30 ribu untuk ukuran dua ons setengah, ada juga yang setengah kilo Rp60 ribu. Jadi semua orang bisa beli sesuai kebutuhan mereka,” ungkapnya.
Mariati juga menggunakan teknologi zaman sekarang sebagai pendorong usahanya. Ia aktif menjajakan produknya melalui WhatsApp, Facebook, TikTok, hingga Instagram. Mariati merasa teknologi dapat menjadi jembatan untuk menjangkau pembeli yang jauh.
Namun, di balik usahanya, Mariati menyimpan segudang kekhawatiran yang sering ia pendam. Menjalankan UMKM di tengah ketidakpastian harga bahan pokok bukanlah perkara mudah baginya.
Kendala utama yang sering Mariati hadapi adalah ketersediaan pisang kepok.
“Sekarang ini susah nyari pisang. Karena kan banyak saingannya, ada yang mau buat pisang goreng, ada yang buat keripik juga. Kalau lagi sulit ya benar-benar sulit,” ujarnya.
Selain bahan baku, kenaikan harga barang-barang pendukung lainnya juga mulai memengaruhi usahanya. Mariati menyoroti harga plastik kemasan dan minyak goreng yang terus merangkak naik.
Mariati mengatakan beberapa waktu lalu harga minyak goreng masih di kisaran Rp16 ribu atau Rp17 ribu per liter. Namun kini, ia harus merogoh kocek hingga Rp22 ribu untuk satu liter minyak goreng demi bisa terus berproduksi.
Kondisi ini membuat Mariati dilema. Di satu sisi biaya produksi membengkak, namun di sisi lain ia tidak berani menaikkan harga jual keripiknya.
“Kalau harga dinaikkan jadi Rp15 ribu (dari Rp12 ribu), saya takut nanti malah tidak laku. Apalagi nilai uang sekarang kan lagi susah, penghasilan orang juga terbatas,” ucapnya.
Mariati berharap ada uluran tangan dari pemerintah bagi para pelaku UMKM secara keseluruhan.
“Mohonlah kepada pemerintah, tolong perhatikan kami yang UMKM kecil ini. Harga plastik naik, minyak naik, sudah tidak sesuai lagi dengan target keuntungan kami sebenarnya kalau mau jujur,” ucapnya.
Kisah Mariati adalah satu di antara potret pejuang usaha di Belitung Timur. Mereka yang tidak butuh janji manis, hanya kepastian agar usaha rumahan mereka tetap bisa bertahan selama mungkin. (Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)